Membaca, antara Hobi dan Kewajiban

Sejak kecil bahkan sampai sekarang kita sering menemukan pertanyaan tentang hobi. Ketika ada pertanyaan ‘Apa hobimu?’ pasti jawabannya beraneka ragam. Ada yang hobi menggambar, menulis, jalan-jalan, kuliner, berenang, memancing, dan lain-lain. Setiap orang memiliki kesukaannya masing-masing, begitu juga kita. Saya pernah berada dalam sebuah pelatihan, di sana  salah satu trainer bertanya tentang hobi, banyak sekali yang menjawab bahwa hobinya adalah membaca. Trainer tersebut lalu menanyai kami semua, ‘Apakah bunyi ayat yang pertama kali diturunkan?’. Serempak kami menjawab ‘Iqro bismirobbikalladzii kholaq’. Kemudian trainer tadi melanjutkan pertanyaannya, ‘lalu apa bisa membaca dijadikan sebuah hobi, padahal Allah saja mengatakan “Iqra” di ayat yang pertama kali diturunkan?’, Kami semua terdiam, bingung harus jawab apa.

Dari dakwatuna.com, DR. Rajib Al-Sirjany dalam buku Al Qira’ah manhajul hayah mengungkapkan dengan argument ringkas tentang esensi membaca serta urgensi membaca dalam Islam dengan menyelipkan sedikit keadaan umat Islam belakangan ini. Ketika ada yang berkata bahwa hobinya adalah membaca, bukankah membaca adalah sebuah kebutuhan hidup. Analogi sederhananya seperti minum air, dapatkan orang mengatakan bahwa hobinya adalah minum air?Bukankah setiap orang juga minum air? Maka hal ini tidak dapat menjadi hobi, karena itu adalah hal yang niscaya dilakukan orang. Jadi setiap orang memang haruslah membaca buku, bukan hanya satu atau dua buku saja; sehari sebulan atau setahun saja, tapi memang membaca harusnya menjadi sebuah metode hidup. Jangan biarkan hari-hari kita terlewati begitu saja tanpa membaca. Membaca bukan sekedar membaca sambil lau juga ya…tapi harusnya membaca hal yang memberi manfaat, bacaan yang membangunbukan menjatuhkan, bacaan yang membawa perubahan yang baik bukan memghancurkan. Jadi tidak pantas lagi sebenarnya kalo ada yang bilang ‘ Saya tidak senang membaca, tidak biasa, atau cepat bosan membaca.

Sejarah telah memperlihatkan, ketika zaman Rasulullah Muahammad SAW, kita dapat lihat bagaimana mereka sangat menaruh perhatian terhadap kegiatan membaca. Contohnya ketika Rasulullah meminta pada tahanan musyrik yang ingin menebus dirinya untuk mengjarkan baca tulis kepada 10 orang mukmin. Agak aneh memang, karena waktu itu keadaan umat islam pasca perang badr lebih membutuhkan harta, atau merawat para tahanan, tapi Rasul justru berpikir bagaimana cara mengajarkan umat Islam agar dapat membaca. Apalagi waktu itu buta huruf masih merajalela. Bukankah kebangkitan, kemajuan dan perkembangan suatu kaum tergantung pada kadar perhatian mereka terhadap baca tulis dan belajarnya. Karena itu membaca adalah sebuah kebutuhan yang sangat urgent.

Wahyu pertama yang Allah turunkan pada Rasulullah juga menggunakan kata “Iqra”. Al-Quran yang turun selama 23 tahun itu memulai katanya dengan “iqra”, pertanyaannya mengapa ini ditujukan pada Nabi yang buta huruf padahal beliau punya keutamaan lain yang mulia dan terpuji, dan sangat bisa jika Al-Qur’an dimulai dengan kelebihan dan keutamaan itu. Tapi lag-lagi mengapa wahyu pertama adalah kata perintah yang jelas, langsung? Bahkan dari kelima ayat yang pertama turun semua berbicara tentang membaca dan kata “iqra” disebutkan berulang sebanyak dua kali.

Lalu yang menjadi pertanyaannya, mengapa kita harus membaca? Apakah membaca adalah sebuah perantara, karena kita membaca untuk belajar. Allah telah menjelaskannya di dalam kelima ayat surah Al-Alaq:

“Bacalah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Alaq 1-5)

Peran membaca sebagai perantara untuk mencapai sebuah pengetahuan semakin terasa penting terlihat dari ayat di atas. Walau kita tahu bahwa pengetahuan adalah tujuan dari kegiatan membaca tetapi Allah tidak memulai Al-Qur’an dengan kata ‘belajarlah’ bahkan ia malah memulai dengan kata ‘bacalah’. Banyaknya sarana belajar yang ada terutama di zaman sekarang seperti mendengar, melihat, mencari pengalaman dan bereksperimen. Tapi sarana terbesarnya tetap dengan membaca. Seakan-akan Allah akan mengajarkan kita bahwa sekalipun terdapat begitu banyak sarana belajar, tapi kita tetap harus membaca.

Tak sedikit orang yang telah bisa membaca dan menulis dan telah lama menempuh bangku sekolah tidak tahu banyak tentang hal sangat penting yang terjadi di dunia ini. Itulah yang umat butuhkan sekarang. Banyak juga orang yang masih awam terhadap agama. Bahkan mungkin kita pernah temui seorang Profesor, atau dosen, spesialis, pengacara atau profesi lain yang tidak mengerti hal-hal sepele tentang hal-hal dasar dalam agama mereka. Ya, karena kunci tegak dan berdirinya suatu Umat adalah kata “iqra”. Tidak mungkin sebuah umat dapat berdiri tegak tanpa membaca. Salah seorang tokoh Yahudi pernah berkata: “ Kami tak pernah takut dengan bangsa Arab (Islam), karena mereka adalah bangsa yang tak dapat membaca”. Benarlah apa yang tokoh Yahudi itu katakana, karena umat yang tidak dapt membaca adalah umat yang tidak memiliki wibawa dan tak perlu disegani. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa membaca tidak boleh dijadikan hanya sekedar hobi tapi lebih dari itu harus menjadi metode hidup. Semoga tulisan ini bisa memotivasi kita untuk lebih meningkatkan interaksi kita dengan buku bacaan yang bermanfaat agar kita bisa mengaplikasikan perintah pertama Allah, membaca.Aamiin. Wallahu ‘alam.

Rate this article!
Tags: