Memasak Cinta (Bagian 1)

Wanita terkadang diidentikkan dengan memasak. Bagi wanita yang memang hobi memasak, hal ini terdengar menyenangkan dan membanggakan. Sedangkan bagi wanita yang tidak hobi memasak, mungkin terdengar biasa saja. Wanita walaupun secara gender sama, tetap memiliki beragam hobi dan passion yang berbeda-beda. Sesuatu yang menjadi passion, akan terasa menarik, mudah dan membahagiakan. Sebaliknya, sesuatu yang kurang diminati, bukan pula hobi, terasa biasa saja, sulit, mungkin memberatkan.

Bagaimana ketika memasak bukanlah passion?

Tidak masalah ketika wanita memiliki pilihan kondisi untuk tidak memasak. Pilihan lainnya bisa mengandalkan masakan orang tua bagi yang masih lajang atau masih tinggal dengan orang tua, bantuan ART, membeli di luar, bahkan pesan katering. Konsekuensinya harus memilih sesuai menu yang ada, mungkin dengan selera rasa yang berbeda. Jika beli di luar, tentu lebih mahal, harus cermat memilih yang halal dan bersih, harus disiplin memperhatikan nilai gizi. Sebagai wanita, ketika sudah menetapkan pilihan tentu sepaket dengan tanggung jawab konsekuensinya. Eeaa, ini lagi membicarakan apa ya? Hihi.

Lalu, bagaimana jika memasak bukanlah passion, tapi kondisi mengharuskan untuk memasak sendiri?

Misalnya, ketika wanita yang sudah berkeluarga dengan niat tulus telah memilih akan menjadi istri dan Ibu tanpa ART. Maka, mengurus suami, anak dan pekerjaan rumah tangga, semua dilakukan sendiri sebagai Ibu Rumah Tangga. Bahkan, banyak yang tetap bekerja baik di instansi negeri maupun swasta, tidak jarang yang sambil kuliah dan sebagian sambil berbisnis dari rumah. Ketika tidak ada ART, maka memasak pun dilakukan oleh Ibu. Bagi yang passion memasak, menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan dan menghibur hati. Namun, bagi yang tidak memiliki passion memasak, mungkin menjadi rutinitas yang dianggap tuntutan peran atau tugas kewajiban. Banyak Ibu muda yang agak berat dengan memasak karena belum bisa, hasilnya kurang lezat, bentuknya kurang memuaskan, ditambah memang bukan passion. Dalam kondisi baper memasak bisa menjadi penyebab stres.

Lalu bagaimana solusinya?

Tetaplah memasak, karena itu sudah menjadi konsekuensi pilihan Ibu.

Teruslah memasak dengan cinta. Ketika memasak, hadirkan cinta Ibu kepada suami dan anak-anak. Berdo’alah saat mulai memasak, minta keberkahan dari masakan, agar hasil masakan suami dan anak-anak sehat, bisa beraktivitas positif yang bermanfaat. Minta perlindungan dari keburukan yang mungkin timbul. Minta kekuatan hati untuk bisa terus memasak dengan ikhlas mengharap pahala.

Teruslah memasak dengan cinta. Ingat kelebihan memasak sendiri, Ibu bisa leluasa memilih menu, menjamin kehalalan dan kebersihannya, menakar porsi, menentukan nilai gizi dan menyesuaikan selera. Ibu bisa bereksplorasi dengan berbagai bahan makanan, menu dan resep masakan sesuai keinginan diri.

Teruslah memasak dengan cinta, biarpun belum bisa, walaupun kurang lezat, meskipun bukan passion. Sampai suami dan anak-anak, candu dengan masakan Ibu. Hingga suami dan anak-anak, rindu makan masakan Ibu. Candu dan rindu tanpa syarat, tiada sebab. Hanya karena, yang memasak adalah Ibu.

Ketika memasak makanan, menjadi memasak cinta, yang menjaga cinta, untuk orang-orang tercinta, bukankah itu indah? 😊.

Rate this article!
Memasak Cinta (Bagian 1),5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: