Matematika itu Tidak Penting!!!

“Aku tidak suka Matematika, Matematika itu tidak penting”. Tiba-tiba terlontar kalimat itu dari salah satu muridku, memang hari itu aku akan menjelaskan tentang konsep hitung campur. Semua teman diam ketika mendengar celetukan itu, mungkin pikir mereka aku akan marah kepada anak itu. Aku sebenarnya sempat kaget, tidak menyangka akan mendengar kalimat itu darinya yang nota bene orang nya tak terlalu banyak bicara dan tak pernah berulah macam-macam. Aku kemudian diam, anak-anak menunggu respon dariku, rasa kesal tapi aku punya ide lain yang lebih baik dibandingkan harus ngomel di pagi itu. Diskusi, iya ini bagus untuk bahan diskusi kita pagi itu “Mengapa matematika banyak yang tidak menyukai?” Semua diam sejenak dan semua mata menuju kepada dia, anak-anak yang lain berharap dia yang memberi alasan karena mungkin mereka pikir, karena dia muncul bahasan seperti ini. Yang di lirik hanya diam sambil tersenyum-senyum, entah apa yang di senyumi, teman disampingnya hanya diam sambil sesekali menoleh ke arahnya. ( O iya, jangan dibayangkan ini ruang kelas besar dengan bangku tersusun rapi ya…Ini hanya kelas kecil dengan kelas sederhana kami duduk melingkar di lantai kayu. Beberapa saat menunggu ada yang menanggapi pertanyaan tadi. Salah satu dari mereka membuka suara “karena susah harus berpikir untuk menghitung angka-angka”. Aku mengangguk-angguk “emmm…ada yang lain?” sambil memandang dia yang hanya senyum-senyum daritadi “karena tidak penting” akhirnya dia angkat bicara juga. “Ok, karena susah, karena tidak penting, apalagi?” Tanyaku lagi. Yang lain hanya diam. “Baiklah, matematika itu susah banyak ngitung-ngitungnya. Iya sih, matematika itu susah selalu harus memeras otak untuk itung-itung, manalagi belum angka yang bukan cuma sendirian, terus matematika itu juga tidak penting, untuk apa kita capek-capek ngitung-ngitung angka ngabisi energi saja”. Aku Pro dengan jawaban mereka, dan sepertinya mata-mata mereka berbinar senang. Dia yang senyum-senyum mengangguk-angguk tanda suka dengan kalimat ku barusan.
Semua diam ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya mungkin mereka berpikir aku batal belajar matematika bersama mereka. Aku berdiri dan mengajak mereka ke tengah lapangan bermain, mungkin pikir mereka kita akan bermain bola masih dengan menunggu apa yang dilakukan salah satu dari mereka bertanya “ngapain Bu disini?” Aku hanya diam, kuminta mereka membuat lingkaran dan aku berada di dalam lingkaran itu. “Coba kalian perhatikan sekeliling kalian, apa yang kalian lihat?” semua mata menyapu ke sekeliling lokasi, iya lapangan bermain tepat di tengah sekolah jadi sangat yakin semua yang ada di sekolah terlihat jelas. Semua berebut menjawab “Tunggu, sebaiknya satu-satu yang bicara”Tetap saja mereka rebutan “Ya sudah, ambil tengah bergiliran” sambil menunjuk satu-satu anak mereka menyebutkan semua yang mereka lihat. Setelah selesai aku bertanya “Nah sekarang, coba perhatikan susunan batu bata kantor rapi tidak?” semua kompak menjawab iya. “coba perhatikan lagi bentuk batu batanya sama tidak?” masih dengan paduan suaranya menjawab “Sama…” “Bayangin ya, kalau bentuk batu batanya tidak sama, ukurannya pun berbeda-beda terus antara sisi kanan-kiri itu dindingnya lebih tinggi daripada sisi depan-belakangnya, menurut kalian gimana nih bentuk kantor sekolah?” Semua tersenyum,bahkan ada yang tertawa kecil “Miring Bu, terus aneh bentuknya” Aku memperhatikan mereka “terus kalau atapnya kecil gimana?” mereka tertawa “mana bisa dipake Bu, percuma saja gak fungsi”. “Kenapa demikian karena matematika susah dan tidak penting, jadi untuk apa di pelajari dan dicari tahu”. Semua diam beberapa diantara mereka mengangguk “ayo coba kalian hitung jumlah batu bata di bagian samping kanan dan kiri paling bawah berapa jumlahnya!” mereka lalu menuju kedua sisi dan menghitungnya, setelah mereka menghitung mereka lapor bahwa jumlahnya sama antara kiri dan kanan, depan dan belakang juga. Mereka improvisasi menghitung bagian depan dan belakangnya juga. “itu menandakan bapak tukang juga menghitung sebelum membangunnya, dan menghitung adalah bagian dari…?” Semua kompak menjawab “Matematika….!” Aku tersenyum “Jadi…Bagaimana dengan matematika tidak penting?” Seperti paduan suara mereka menjawab “PENTING….!!!” Setelah agenda diskusi pagi itu, aku tidak membawa mereka kembali ke kelas, hari itu kita belajar di play ground. Belajar apa? MATEMATIKA.
Pemahaman, anak-anak itu cukup diberi pemahaman logis dan mereka akan menerima dengan hati senang. Tak perlu kesal ketika salah satu anak protes, itu karena dia cerdas. Tinggal kita lihat saja apa bentuk protesnya dan dicari solusinya, bukan kita patahkan dan diabaikan. Salahnya, kita sebagai orang tua dan pendidik suka lupa dengan hal ini, masih suka berkutat dengan ini ‘harus’, ‘wajib’, ‘tidak boleh tidak’, memaksakan kehendak kita kepada anak padahal mungkin bagi kita itu bagus untuk dia, tapi anak sendiri tidak tahu mengapa dia dipaksa harus ‘begini begitu’. Sungguh baiknya jika orang tua dan pendidik memberikan pengertian dan pemahaman kenapa ‘harus’, ‘wajib’ itu dilakukan dan jangan lupa untuk mendengarkan pendapat anak-anak, walaupun mungkin pendapat mereka sangat tidak masuk akal buat kita, tapi buat mereka itu pendapat mereka. Jangan pernah meremehakan anak-anak karena mereka semua unik termasuk pemikiran mereka yang simple dan sederhana.

Rate this article!
author

Author: 

Leave a Reply