MATAKU HILANG

Yang kiri, ya, mataku yang kiri tiba-tiba hilang. Aku tidak tahu asal mulanya. Tiba-tiba saja mataku bolong. Benar, yang kiri. Yang kanan masih utuh. Aku heran, mengapa mataku bisa hilang.

Bolong, ya bolong. Karena mata kiriku sudah tidak ada. Sakit? Gak lah. Tapi aku tidak bisa melihat dengan mata kiriku. Hanya mata kanan yang masih bisa. Aduh, .. kemana mata kiriku?

“Mataku hilang,” kataku pada istri di pagi itu.
“Jangan bercanda,” jawab istriku tak acuh.
“Beneran hilang. Coba lihat nih!”
“Hahh,…” Istriku terkejut. Tidak percaya. Ada rasa takut di raut wajahnya.

Mataku hilang. Itu masalahnya. Tidak tahu hilangnya kemana. Juga tidak tahu apakah hilang dicuri, atau hilang dengan sendirinya. Rasa tidak sakit sebagai indikasi bahwa mataku hilang tidak dengan cara dicuri. Dicongkel.

Dicongkel? Membayangkan saja aku takut. Betapa sakitnya kalau mata dicongkel. Tentu akan meraung, berteriak, menerjang-nerjang, dan lain sebagainya. Bayangkan saja kalau mata Anda dicongkel. Bayangkan saja, jangan dicongkel beneran.

Meski mataku tinggal sebelah, aku masih tetap bekerja. Sebelah mataku masih bisa diajak kompromi. Aku masih mampu melakukan tugasku dengan tidak mengurangi kualitas kinerjaku. Aku juga masih bisa bersitatap dengan rekan kerja, dengan BOS tempatku bekerja. Aku juga masih bisa berkomunikasi dengan orang lain. Ya, hanya mata kiriku yang hilang, dan kini terlihat bolong.

“Menyeramkan,…” kata istriku sambil bergidik.
“Gimana lagi. Toh ini bukan mauku.”
“Ya, tapi tetap menakutkan.”
“Terus?”
“Tutup saja pakek perban.”
“Hem,,,”

Ya juga sih. Dengan cara diperban , orang tidak akan melihat mataku. Atau tepatnya bolong di mataku kiriku yang tiba-tiba hilang tidak akan terlihat. Orang mungkin tidak terlalu takut berhubungan denganku. Saran istriku cukup beralasan. Jangankan orang lain, istri dan anak-anakku seringkali bergidik melihat bolongan mataku.

Kejadian yang menimpa mataku sangat misteri. Selepas dari tidur di subuh itu, tiba-tiba mataku hilang. Aku tidak bisa melihat dengan jelas, seperti biasanya. Aku meraba mata kiriku, yang kurasa lain dari biasanya. Ya, benar saja. Mataku bolong. Ada bercak-bercak darah yang mengalir. Tidak sakit, juga tidak terasa bau. Aku hanya merasa heran dengan kejadian langka ini.

“Mungkin mata kamu sering jelalatan,” kata istriku di sore itu sambil berbincang tentang mataku yang aneh.
“Jelalatan maksudnya?”
“Mata itu digunakan untuk melihat yang baik-baik.”
“Aku tidak melihat yang jelek-jelek.”
“Yakin?”
“Tentu!”
“Coba diingat-ingat lagi.”

Selama ini aku merasa berbuat sewajarnya. Aku juga melihat hal-hal yang biasa. Wajar. Tidak pernah melihat sesuatu yang jelek. Itu seingatku lho. Entah jika aku lupa. Atau jangan-jangan memang aku yang lupa.

Kalau melihat orang berjudi, jelek gak ya? Aku tidak ikut berjudi kok. Hanya lihat saja. Tidak turut membanting domino atau kartu remi. Tidak serta membagi-bagi uang, yang kata sebagian penjudi sebagai “shadaqah.” Hihii,,, segitunya ya!

Aku juga pernah melihat kerapan sapi, aduan ayam jago, wanita cantik, film BF, ngintip orang selingkuh,… Apakah ini bagian dari maksiat mata? Apakah karena hal ini mataku tiba-tiba hilang? Aku masih terngiang dengan ucapan istriku.

“Mungkin matamu yang jelalatan!”

Ah! Jadi runyam nih akhirnya. Aku harus banyak membaca istighfar. Mungkin selama ini aku tidak bijak dalam menggunakan mataku. Seharusnya mata itu digunakan untuk yang baik-baik. Melihat hal yang positif. Tidak memandang sesuatu yang dilarang agama.

Aku sekarang jadi orang picek. Ini mungkin sebagai teguran atas kelakuanku selama ini. Terutama berkenaan dengan mata. Aku harus merawat mataku yang tinggal sebelah. Dengan cara arif. Dengan cara bijak. Agar mata yang satunya tidak juga hilang. Oh, aku tidak bisa bayangkan kalau mata yang tinggal satu ini juga hilang. Aku tidak bisa bayangkan, betapa tanpa penglihatan, dunia ini bagai kuburan.

Aku jadi teringat dengan orang buta. Orang yang tidak mempunyai penglihatan sejak mereka dilahirkan ke dunia. Entah perasaan apa yang ada di pikirannya. Ketika dunia ini hanya gelap semata. Tidak bisa menikmati indahnya alam. Tidak bisa menyaksikan hiruk pikuk sekitar. Tidak bisa menyaksikan apa pun juga. Hanya gelap, kelam, dan gulita.

Duh Gusti! Aku jadi banyak bersyukur saat ini. Sejak mataku hilang satu. Ada rasa sesal yang semakin berkecamuk. Kemudian muncul rasa simpati yang menyangat. Hingga aku tak ingin kehilangan seluruh penglihatanku. Aku ingin memelihara yang tinggal. Menggunakan kepada hal kebaikan. Aku harus bersyukur, meski satu mataku hilang, tapi masih ada yang satunya lagi. Aku masih bisa menikmati indahnya dunia dengan satu mata. Aku masih bisa melihat hal-hal menggelikan dan hal-hal mengharukan dengan sisa mataku. Tuhan, jangan Kauambil semua mataku. Itu doaku hingga saat ini. Aku sudah bertaubat. Aku akan memanfaatkan sisa mataku untuk kebaikan.

“Mau kemana, Mas?” Istriku yang di pagi buta itu bangun bertanya heran kepadaku.
“Mau ke masjid,” jawabku pendek.
“Tumben,..”
“Aku tak mau kehilangan semua mataku,” jawaban lintas adanya.

Aku terus saja melangkah. Aku tidak hiraukan cekikikan istriku. Entah itu gurauan, entah itu hinaan. Aku tidak peduli. Aku mantap melangkah. Ke masjid yang begitu megah. Aku tiba-tiba rindu pada-Nya.

Khusyuk aku bermunajat pada Tuhan. Agar hidupku bahagia. Biar adaku bermanfaat. Aku meminta dengan sungguh. Agar mataku yang sebelah tidak lagi hilang. Aku menyesal dan bertobat atas perbuatan naifku di masa lalu.

Selepas shalat Subuh berjamaah, aku beranjak pulang. Astaga! Aku terkejut begitu sangat.

“Mataku! Mataku yang satunya hilang juga? Mana mataku?”

Madura, 18/05/2017

Rate this article!
MATAKU HILANG,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: