Mari Tingkatkan Iman Kita

Yuk Tingkatkan Iman Mumpung Ramadhan

Ramadhan telah tiba, bayangan serta kenangan tentang Ramadhan di masa lalu tiba-tiba muncul tanpa diundang. Ramadhan di masa masih  duduk di kelas satu atau dua SD (sekolah dasar), sahurnya saat sarapan sebelum berangkat ke sekolah dan berbuka puasanya setelah pulang sekolah sekitar jam 12 siang. Jika masih kuat, puasanya dilanjutkan dari selesai makan siang sampai azan maghrib berkumandang. Sungguh masa-masa perjuangan puasa saat itu dan merupakan sebuah kebanggaan kepada teman-teman jika bisa menjalankannya penuh sebulan, ditambah lagi akan mendapat hadiah yang telah dijanjikan oleh kedua orangtua, sungguh kebahagiaan yang tak terhingga pada waktu itu.

Beranjak remaja, kebahagiaan di bulan Ramadhan pun masih terasa. Kita masih bisa melihat semangat dan kebersamaan teman-teman membangunkan warga agar segera bangun dan mempersiapkan sahur. Menjelang berbuka, mereka masih semangat mengikuti kegiatan olahraga seperti sepak bola atau hanya ngabuburit berjalan kaki mengelilingi desa. Sungguh luar biasa. Namun terkadang ada juga yang mengotorinya, dimana  masih ditemukan pemuda dan pemudi yang berperilaku tidak islami. Salah satu contohnya ada yang pacaran pagi atau yang lebih dikenal dengan sebutan pacaran shubuh. Sebagian pemuda dan pemudi itu keluar dari rumah setelah selesai sahur, yang seharusnya mereka langsung menuju ke masjid namun ternyata berjalan ke tempat janjian dengan sang pujaannya. Sungguh sangat disayangkan, apalagi masih ada yang melanjutkan kegiatan tersebut saat ngabuburit menjelang waktu berbuka puasa, sebelum tarawih maupun setelah tarawih.

Setelah dewasa, suasana Ramadhan semakin berwarna. Sebagian muslim dan muslimah telah banyak yang melakukan perubahan dalam hal ibadahnya terutama di bulan Ramadhan ini. Akan tetapi tidak semua muslim dan muslimah yang ada di negeri ini telah dewasa cara berpikirnya walau umurnya telah tua. Masih banyak mas-mas, abang-abang dan bapak-bapak yang rela masuk ke warung makan hanya untuk memenuhi panggilan perutnya, bahkan ada yang hanya sekedar minum kopi atau merokok saja. Sedangkan Muslimahnya bagaimana? masih ada muslimah yang hari-harinya masih senang dengan hiburan dan menggunjing orang. Berlama-lama di pusat perbelanjaan, menghabiskan uang atau sekedar hanya cuci mata.

Sayang, sungguh sangat sayang. Ramadhan yang penuh berkah dan ampunan seakan-akan diabaikan. Masjid-masjid dari tahun ke tahun seperti mengalami tradisi, sangat ramai dan penuh jamaah nya di awal Ramadhan, mulai berkurang di pertengahan dan akhirnya mulai hilang menjelang akhir-akhir Ramadhan. Ramadhan yang datangnya hanya setahun sekali seakan tak diharapkan dan tak dirindukan lagi.

Sesungguhnya hanya orang-orang berimanlah yang mampu menjalankan puasa Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya. Mungkin karena itu pula Allooh mewajibkan puasa Ramadhan ini kepada orang-orang yang beriman seperti tertulis di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183 yang artinya sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Lalu siapakah orang-orang yang beriman itu?

Beriman berasal dari kata dasar iman, pengertian iman itu sendiri dari bahasa Arab yang artinya percaya. Sedangkan menurut istilah, pengertian iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Dengan demikian, pengertian iman kepada Allooh adalah membenarkan dengan hati bahwa Allooh itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaan-Nya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata.

Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai orang yang beriman sempurna apabila memenuhi ketiga unsur keimanan di atas. Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allooh, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin (orang beriman) yang sempurna. Sebab, ketiga unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.

Beriman kepada Allooh adalah kebutuhan yang sangat mendasar bagi seseorang. Allooh memerintahkan agar ummat manusia ramadhanberiman kepada-Nya, sebagaimana firman Allooh yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allooh dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allooh, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasulNya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh.” (Q.S. An Nisa : 136)

Jika saat Ramadhan ini kita masih melakukan maksiat dan perkara-perkara yang haram,  masih sering dilalaikan oleh kesenangan dunia, tidak melakukan ibadah dengan baik; fikiran melayang ketika sedang sholat, tidak membaca Al-Qur’an, tidak berdo’a, bahkan dengan sengaja tidak berpuasa, atau tidak melakukan ibadah lainnya padahal di bulan Ramadhan ini kita telah dijanjikan akan diberikan pahala yang berlipatganda, bisa jadi pada saat tersebut kondisi iman kita berada pada keadaan yang lemah (lemah iman).

Mengapa iman kita bisa menjadi lemah?

Banyak hal yang menyebabkan iman kita bisa menjadi lemah, diantaranya:

Saat kita jauh dari contoh tauladan yang baik, jauh dari menuntut ilmu agama, berada di lingkungan orang-orang yang berbuat maksiat,kita senantiasa sibuk dengan dunia, sibuk dengan harta, panjang angan-angan, berlebih-lebihan dalam makan, tidur, ngobrol-ngobrol yang kurang penting, nongkrong dan begadang (tanpa tujuan yang syar’i).

Semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang yang lemah iman. Jika memang saat ini kita merasa iman kita sedang melemah, belum ada kata terlambat untuk segera bertaubat. Kita masih mempunyai kesempatan sebelum nyawa kita dicabut oleh Malaikat. Apalagi saat ini kita masih berada dalam nuansa Ramadhan.

Mari kita tingkatkan iman kita dengan cara:

mentadabburi ayat-ayat al-Quran, belajar ilmu agama, menghadiri majlis-majlis ilmu, mengisi waktu kita dengan sentiasa memperbanyakkan amalan-amalan sholeh, sentiasa berlomba-lomba melakukan kebaikan, dan istiqomah melakukannya, bersungguh-sungguh, memperbaiki ibadah, senantiasa mengingat kematian dan akhirat, senantiasa menjaga hati, senantiasa berdzikir mengingat Allooh, senantiasa bermuhasabah, beristighfar memohon ampunan Allooh dan berdo’a agar senantiasa diberi ketetapan iman.

 اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Yaa Allooh yang memalingkan (membolak-balikkan) hati manusia, palingkanlah hati kami di atas ketaatan.”

 يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ

“Wahai Robb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Mari saudara dan saudariku, kita manfaatkan Ramadhan kali ini untuk memperbaiki diri dan meningkatkan iman selagi masih ada umur dan kesempatan. Semoga Ramadhan kali ini bukan Ramadhan yang terakhir untuk kita. Aamiin..

#KMORamadhanMenulis

Tety

Denpasar, 10 Juli 2015

✓Tulisan ini dipersembahkan saat mengikuti lomba menulis yang diselenggarakan oleh KMO (Komunitas Menulis Online) pada bulan Ramadhan tahun 2015 yang lalu. Alhamdulillaah menang.. ^__^

 

Rate this article!
Mari Tingkatkan Iman Kita,5 / 5 ( 1votes )
Tags:

Leave a Reply