Manajemen Keuangan dalam Berumah Tangga

Setelah menikah, layaknya kita berusaha untuk hidup mandiri, termasuk dalam hal mengatur keuangan. Belajar untuk memenuhi apapun kebutuhan dengan kemampuan sendiri. Bagaimana caranya? Terlebih bagi yang sebelum menikah tidak terbiasa untuk hidup mandiri. Rasanya berapapun penghasilan yang didapatkan akan selalu terasa kurang. Mungkin boleh juga dicoba tips berikut ini.

  1. Lakukan pencatatan kebutuhan harian. Semakin detil semakin bagus. Apa kira-kira yang menjadi pengeluaran harian, mingguan hingga bulanan. Banyak sekali orang yang mengabaikan pencatatan ini, sehingga pada pertengahan bulan tanpa terasa uang habis, tanpa ingat larinya ke mana.
  2. Tentukan tujuan keuangan. Peliharalah apapun impian anda. Apakah ingin merehab rumah, membeli mobil, atau memikirkan pendidikan anak. Tentukan hasil yang ingin dicapai. Dan berapa kira-kira yang bisa disisihkan per bulannya, untuk mencapai impian tersebut? Menentukannya tentu jangan lakukan sendiri, tapi bersama pasangan.
  3. Sisihkan untuk tabungan, sejak awal gajian. Tabungan ini penting sekali. Dan selayaknya disisihkan begitu menerima penghasilan. Jangan menunggu akhir bulan yang belum tentu akan bersisa. Tapi segera sisihkan di awal, setidaknya 30% dari besar penghasilan anda. Bilangan ini relatif, tergantung pada pencatatan kebutuhan harian, mingguan dan bulanan yang saya sebutkan di poin nomor satu di atas.
  4. Tentukan alternatif lain untuk mencapai impian yang telah ditetapkan. Setelah menentukan tujuan keuangan kita, bisa kita pikirkan alternatif lain untuk mencapainya. Apakah dengan menyisihkan tabungan atau ketika mendapatkan rejeki lebih, bisa memulai untuk menyicil. Ini tentu saja perlu kesepakatan bersama pasangan.
  5. Pentingnya berinvestasi. Salah satu impian setiap orang adalah memiliki kebebasan finansial, yakni uang berjalan yang terus ada meskipun suatu saat kita sakit, atau pensiun, sehingga tidak lagi bekerja. Caranya? Tentu dengan memulai investasi dari awal, selagi masih aktif bekerja. Kita bisa memilih cara investasi apa yang bisa ditempuh, misalkan dengan membuka tabungan deposito, reksadana, tabungan emas. Apapun itu, lebih baik daripada uang habis hanya untuk belanja barang yang akhirnya akn menurun nilainya.
  6. Evaluasi tahunan. Penting dilakukan evaluasi setiap tahunan, bagaimana penyusunan anggaran rumah tangga yang kita lakukan. Bagaimana hasilnya? Berhasilkah? Apakah memberatkan kita atau tidak? Bila perlu untuk mengubah, bicarakan dengan pasangannya.
  7. No kartu kredit! Hindari penggunaan kartu kredit. Seberapapun menggiurkan tawaran yang diberikan, akan lebih baik bila saat belanja menggunakan uang cash dan selanjutnya kita tidak perlu memikirkan cicilan.
  8. Ini salah satu kunci yang penting. Karena percuma melakukan pencatatan detil, mengevaluasi, namun dari kita sendiri tidak ada kesadaran untuk disiplin. Dan lagi-lagi ini perlu kerja sama kedua belah pihak.
  9. Apresiasi diri sendiri. Tentu saja kita berhak mengapresiasi diri sendiri atas penghasilan kita. Apakah itu dengan membeli baju baru, atau buku yang bermanfaat. Namun alangkah baiknya bila disesuaikan dengan kebutuhan kita. Yang pasti bersikap hemat bukan berarti harus pelit pada diri sendiri. Nikmatilah hidupmu secara seimbang.
  10. Jangan lupa berbagi. Menjadi hemat bukan berarti menjadi pelit. Baik pada diri sendiri dan juga pada sesama. Jangan takut harta menjadi berkurang karena berbagi. Justru banyak sekali cerita, bahwa harta akan bertambah setelah berbagi. Rezeki akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Berbagi mulai dari zakat penghasilan yang wajib, bila sudah mencapai ketentuan, atau bagi yang belum mencapainya, bisa melatih diri merutinkan melakukan sedekah, setiap kali menerima penghasilan.

author

Author: 

Leave a Reply