MAKHLUS HALUS

MAKHLUK HALUS

Rumah Besar di Padangpanjang

Di awal tahun 70an Papa menjadi Kepala Kantor Pos Padangpanjang. Sebagai kepala kantor Papa diberi fasilitas rumah dinas. Rumah itu rumah kopel dengan kantor.

Bangunannya dari jaman Belanda. Langit langitnya tinggi, daun pintu dan daun jendela juga tinggi dan tentu saja berat dan kamarnya besar besar. Satu lagi cirinya, kamar mandi dan dapur jauh di belakang, terpisah dari rumah dan dihubungkan dengan teras panjang.

Aku sudah masuk TK ketika hal aneh terjadi. Suatu pagi aku tidak bisa ke sekolah. Pak Parsih yang biasa mengantarkanku ke sekolah, pagi itu punya kegiatan khusus: mencongkel jendela kamarku.

Ada tiga kamar tidur yang luas. Dua kamar berdampingan dan mempunyai connecting door, memang dipakai untuk tidur. Satu kamar terpisah dijadikan dapur, karena Mama tidak mau memasak di dapur yg di luar rumah. Baru belakangan aku tahu sebabnya.

Pak Parsih mencoba merusak kunci kokoh milik sang jendela, dari luar, sementara aku menonton dia dari dalam. Aku terkurung di kamar. Pilihan Papa jatuh ke jendela, bukan pintu kamar, karena pintu kamar slotnya lebih besar. Lebih sudah dirusak. Semua pintu dan jendela memakai slot yang mengunci ke arah atas. Tidak mungkin gagang penguncinya terjangkau olehku yang baru sekolah TK. Pintu kamar untuk keluar dan connecting door, keduanya terkunci. Kemana adik adik yang lain? Mereka sudah bangun duluan, tinggallah aku sendiri di kamar itu. Singkat cerita aku bisa keluar dari kamar itu.

Yang pernah terkurung tidak hanya aku. Mama pernah terkurung di kamar mandi _yang juga besar. Mirisnya, Mama pakai teriak teriak dulu hingga bisa didengar pegawai Papa yang kebetulan mendekat ke area rumah. Sempat heboh ketika itu. Kunci kamar mandi itu, lagi lagi harus dirusak agar Mama bisa keluar.

Wajar kalau kemudian, Mama menyediakan pispot buat kami di kamar ketika malam tiba. Mama juga tidak pernah memasak di dapur belakang, tetapi mengubah satu kamar tidur menjadi dapur.

Rumah di Jalan Sumatera, Palembang

Rumah kami di Palembang, bukan lagi rumah jaman Belanda tetapi tetaplah rumah lama. Juga rumah kopel, dengan halaman samping dan belakang yang cukup luas. Di halaman samping itu terdapat serumpun pohon pisang. Kamarku jendelanya ke halaman samping itu.

Entahlah, mengapa koq jadi kebiasaan bagiku. Hampir setiap malam aku mendengar pohon pisang ditebang dan berbunyi “buk”. Keesokan paginya kulihat, pohon pisang masih berdiri tegak. Aku juga sering mendengar drum, seperti drum minyak tanah, dibersihkan dengan sapu lidi. Sepertinya suara berasal dari dekat kamar mandi belakang yg jarang dipakai.

Ada kejadian lain. Suatu siang Mama menggoda ibu tetangga rumah kopel. “Waduh ada acara apa nih. Tampaknya sibuk banget ya…Tadi malam sampai jam dua masih ngulek cabe. Kedengeran sama saya. Kan dapur kita bersebelahan.” Jaman dulu belum banyak ibu rumah tangga memakai blender. “Ooo, nggak ada acara. Saya nggak masak tadi malam.” Kedua ibu rumah tangga itu menganggap angin lalu, kejadian itu.

Beberapa hari setelah itu, gantian si ibu tetangga yang bertanya ke Mama, koq sampai jam tiga pagi masih ngulek cabe atau bumbu. “Ha!? Saya nggak masak sampai semalam itu.”

Lain waktu, tetangga depan berkomentar ke Mama “Saya lihat sampai jam dua pagi, Pak Abdullah asyik banget membaca koran di teras.Korannya dibentangkan lebar lebar sehingga mukanya tak tampak oleh saya.”

Si pembaca koran yang disangka Papaku itu duduk membelakangi pintu dan jendela ruang tamu kami. Badannya menghadap ke jalan, ke rumah tetangga depan. Dilihat dari letak lampu teras, cahaya lampu teras tak akan mengenai lembar koran yang dibaca. Lalu siapa yang mau membaca dengan cahaya tak memadai itu, sampai selarut itu pula?

Bandung, 1 Nopember 2015
Lisa Tinaria

Rate this article!
MAKHLUS HALUS,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: