MAAF-2

Memaafkan seorang anak ternyata memerlukan energi yang cukup besar dalam menerima kesalahannya,
Dan ini mungkin ini berlaku pada seorang ibu yang sedang menghadapi anaknya yang sudah aqil
Namun ternyata kalau emosi negatif telah menguasai diri, bahkan kesalahan anak pra aqil pun bisa mendatangkan luapan yang bisa mencederai jiwa anak-anak kita
Sehingga untuk mengerem suatu tindakan refleknya, seorang ibu musti seringkali ingat bahwa ibulah yang berada di pihak yang lebih dewasa
Yakini bahwa anaklah yang berhak mendapatkan pendidikan dan pelajaran suatu kebenaran, dan kitalah penangungjawab utama atas tindakannya
Mereka hanyalah manusia yang hadirnya jauh setelah kita dilahirkan, mereka akan mengetahui benar dan salah dari siapa lagi kalau bukan orangtuanya, yaitu guru pertamanya?
Ketika mereka hendak belajar berdiri, siapa yang mau mengajarkannya untuk bisa berdiri
Saat mereka hendak belajar berjalan, siapa yang mau menuntunnya dan mengarahkannya supaya tidak nabrak sana nabrak sini
Yah Meski mungkin kita juga masih belajar, namun saat anak salah kitalah yang pertama kali harus belajar, mungkin cara kita salah dalam mendidik
Mungkin ada pelajaran yang terlewat yang tidak kita berikan
Mungkin kita terlalu cepat mengajarkan, padahal anak masih tertatih-tatih dalam memahami apa yang kita ajarkan
Tuntutan kita mungkin terlalu tinggi, padahal usia mereka masih balita
Yuk kita instropeksi diri atas pola pengasuhan kita selama ini, semoga Allah menuntun hati, dan pikiran kita sehingga tindakan kita bisa terjaga dari suatu kesalahan
Mereka, anak-anak kita dihadirkan oleh Allah supaya kita membersamainya dalam menemukan jalan hidupnya untuk sama-sama menjemput KeridoanNya
#Sahurkata
#KMO03

Rate this article!
MAAF-2,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply