LUWES VS TOLERAN

LUWES VS TOLERAN

Sekitar dua bulan yang lalu, di sebuah grup WA, aku mengajukan sebuah pertanyaan kepada para anggota “Sampai di manakah aku harus menerima nilai yang tidak kuanut?” Pertanyaan ini perlu aku ajukan karena selama beberapa hari – berturut turut- grup riuh rendah dengan postingan gambar maupun cerita yang mengumbar syahwat. Posting dilakukan oleh anggota bapak bapak, seperti berlomba lomba dan dikomentari juga dengan gegap gempita.

Sejujurnya, aku berpendapat itu adalah pelecehan terhadap perempuan. Terutama lagi, itu adalah tak pantas, menurut kacamata Al Quran. Anehnya anggota ibu ibu, tak sampai seperempatnya yang menyampaikan ketidaksukaan atas postingan itu. Entah menganggap itu sebagai ” alah itu aja diurusin” atau, lagi lagi karena budaya Indonesia yang cenderung “diam di depan bicara di belakang”. Aku tak sempat bertanya mengapa mereka tidak “say no to sexual harassment” tersebut.

Mari lihat pendapat para bapak. Sebagian besar menganggap itu hal biasa, ringan, membuat rileks karena bisa menimbulkan ketawa. Gambar dan crita tak pantas bagi mereka adalah selingan dalam kepenatan kerja. “So, don`t take so serious-lah”, ungkap seorang bapak. “Anggap saja itu seperti barang pajangan di supermarket. Jika berkenan ambil, jika tidak, ya lewati saja rak atau lorong belanja tersebut.” Kelihatan demikian simpel bukan? Tidak juga. Karena barang jelek – anggap saja bangkai tikus berbelatung -di pajangan itu secara dipaksakan harus dilihat oleh calon pembeli yang berkeinginan membeli barang lain!

Dalam diskusi tentang perlu tidaknya posting gambar dan crita “model itu”, mengemukalah kata “toleransi atau toleran”. Thx a lot to Kang Benny yang akhirnya menginspirasiku untuk mencari arti kata itu. Menurut Meriam Websters Distionary, toleran artinya “willing to accept feelings, habits or beliefs that are different from your own”.
Kunci katanya adalah “accept” atau “menerima”. Sampai saat ini aku belum menemukan bagaimana praktik dari “menerima” tersebut. Mungkin dengan bersikap diam, sebagaimana dilakukan oleh sebagian besar anggota grup, walau sebenarnya mereka tidak setuju, yang berarti tidak menerima.

Sekarang muncullah kata “luwes”. Menurutku, luwes, lebih kepada cara. Walaupun aku tidak setuju dengan posting tersebut di atas, aku tetap boleh – bahkan harus- menyampaikan ketidaksetujuanku. Dan itu aku lakukan, dengan mengingatkan via japri dengan kalimat “Semoga anak Anda dan anak anak kita, dijauhkan dari kisah yang Anda posting itu.” Menurutku cara ini cukup elegan, luwes juga. Hasilnya tidak begitu menggembirakan. Salah satu bapak yang kuingatkan malah menyampaikan di forum bahwa ” Lisa telah meminta saya keluar dari grup ini”. Seorang yang lain, konon, ini konon, membuat grup baru, khusus posting “khusus” tersebut.

Demikianlah praktik “luwes” atau “tidak luwes”, “toleran” atau “tidak toleran”, yang kualami baru baru ini. Tentang pelabelan pada diriku, sebagai tidak luwes, atau tidak toleran, aku tampaknya harus luwes dan toleran. Karena menyampaikan adalah bagian dari dakwah, dengan segala konsekwensinya.

Bandung, 09 12 2015
Lisa Tinaria

Rate this article!
LUWES VS TOLERAN,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply