LOKALSENTRIS BATANG PUISI BERSAYAP ASA, DI LANGIT MASALEMBU

LOKALSENTRIS BATANG PUISI BERSAYAP ASA, DI LANGIT MASALEMBU*)
(Sebuah Apresiasi)

AIR PEJU DAJJAL
Oleh: Samoedin

Aku ini walaupun…..
Yang terlahir dari hasil perselingkuhan
Antara orang-orang pinter yang terlalu pinter
Dengan pemangku kebijakan yang tak begitu bijak

Aku ini walaupun…..
Yang tercipta dari air pejunya Dajjal
Lalu aku menggumpal, menjelma menjadi seribu kuman-kuman sosial….

Ah….. tak takutkah kau padaku..?
Ah….. tak ngerikah kau melihatku?
Ketika kuku-kuku setanku siap memeluknya…
Dan gigi-gigi iblisku menyeringai siap menggigitmu….

Walaupun… Ya.. Aku ini walaupun..
Akulah yang menggadaikan lautmu pada nelayan cantrang
Akulah yang membuatmu kesulitan mencari ikan
Karna aku yang membius dan mengebom karang-karang lautmu…..
Akulah yang membuatmu selalu kehausan bahan bakar
Dan membiarkanmu berjejer terbakar panasnya sinar matahari
Bagai di Padang mahsyar………
Aku ini walaupun…. ya.. aku ini orang walaupun….
Walaupun engkau anak-anakku, tapi engkau akan kubakar hidup-hidup
Walaupun engkau adalah ibuku, tapi kau akan kuperkosa diatas kobaran baraapi
Bahkan…. walaupun engkau adalah guruku….
Tetapi kepalamu akan kujadikan gulai sebagai hidangan diatas meja kemunafikanku
Aku ini orang walaupun…. yang tercipta dari air pejunya Dajjal….
***

Larik puisi di atas saya peroleh dari panitia lomba Agustusan di Kecamatan Masalembu. Semula saya tidak tertarik dengan puisi ini. Tetapi, karena terjadi pro dan kontra di antara pemerhati etika dan logika pendidikan (teman-teman guru), akhirnya saya terpanggil untuk mencoba ‘telisik-cerna’ terhadap maksud-tuju sang pemuisi.

Para memangku kebijakan dunia pendidikan bersilang pendapat terhadap transparansi baris kata yang kurang bijak untuk peserta lomba yang notabeninya masih usia SMP. Mereka dipandang belum mampu mencerna pokok maksud dengan baris kata vulgar, yang bahkan menjurus kepada kosa kata tabu. Hal inilah yang oleh sebagian pendapat kurang dipandang pas untuk anak usia SMP.

Seperti yang terlarik pada judul puisi, “air peju Dajjal’ hanya sebagian orang saja yang paham dengan logika makna kata ini. Saya pun berusaha untuk menemukan kata “peju” di KBBI, tetapi hasilnya nihil. Tidak ada kata peju yang bisa dijadikan rujukan makna untuk puisi ini.

Saya mengerti kata “peju” justru dari cerita porno, pun juga dari teman-teman di Masalembu. Dari mereka saya tahu bahwa peju itu artinya sperma. Seorang anak didik seusia SMP, terlihat tidak pas untuk diajari rangkaian makna ini, apalagi dengan cara menjiwai, menyelami dan memasuki makna batang puisi. Tentu, tidak semua orang setuju dengan dialektika ini. Yups, sesuatu yang sangat bias untuk menjadi biasa.

Nelayan cantrang?

Realitas makna puisi ini, sebenarnya begitu gamblang, transparan, bahkan nyaris telanjang. Bahwa maksud dan tujuan puisi ini sebagai langgam kritik terhadap keberadaan seseorang (bisa beberapa orang), yang dalam bahasa setempat disebut “walaupun”. Orang-orang ini bisa berprofesi sebagai LSM, pengacara, ataupun orang-orang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Meraka hanya menjual “mulut” untuk sekadar dapat mengepulkan asap rokok.

Walaupun adalah orang-orang yang menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan tujuan. Tidak ada konsep kemanusiaan apalagi norma agama. Segala bentuk cara akan tetap dilakukan, bahkan sekalipun mengebiri kerabatnya sendiri.

” Walaupun engkau anak-anakku, tapi engkau akan kubakar hidup-hidup
Walaupun engkau adalah ibuku, tapi kau akan kuperkosa diatas kobaran baraapi
Bahkan…. walaupun engkau adalah guruku….
Tetapi kepalamu akan kujadikan gulai sebagai hidangan diatas meja kemunafikanku”

Orang yang dimaksud oleh pemuisi adalah melakukan segala cara untuk mendapatkan “uang”. Ya, hanya dengan cara-cara licik mereka bisa makan dengan kepicikannya. Dengan cara munafik, mereka akan terus memakan darah dagingnya sendiri. Siapa pun, tanpa melihat kerabat atau sahabat. Semuanya dibabat tanpa batasan norma. Bahkan, ibunya sendiri akan diperkosa untuk mendapatkan kepuasan nafsu serakah. Nau’dzu billah min dzalik!

Mereka juga bisa sebagai pengacara-pengacara gadungan. Orang-orang yang pandai bersilat lidah untuk menjerat korban. Menepis dengan tangan kiri untuk menyikut dengan tangan kanan. Berkoar-koar bagai bertindak sebagai pahlawan. Di balik itu semua, taring-taring kemunafikan mencengkeram untuk melumat habis para korban.

Sang pemuisi, dalam hal ini Samoedin, (saya rasa nama samaran) melampiaskan kemarahannya lewat puisi. Sayangnya, penggunaan kata begitu “lokalsentris” hanya bisa diselami oleh orang-orang tertentu saja. Hanya orang Masalembu saja yang mungkin memahami makna di balik larik batang puisi ini. Padahal, puisi yang baik adalah yang mampu diambil hikmah secara universal.

Begitu pun dengan penggunaan baris kata, masih terkesan sebagai sebuah kisah, cerita yang begitu memprosa. Kalimat puitiknya masih tersembunyi di balik lembar kemauan sang pemuisi yang begitu menggebu.

Belum lagi penulisan penggalan kata, sepertinya masih perlu belajar banyak tata bahasa dalam pemakaian huruf kapital, penulisan kata “di” untuk kata depan dan awalan, dan lain sebagainya. Seorang penulis, pemuisi, dan lain sebagainya dituntut untuk memahami metode rangkai-kata dalam membentuk kalimat efektif.

Sebagai bentuk apresiatif, tidak menutup sebuah niscaya jika apa yang saya ungkapkan tidak benar. Namun, yang terpenting di balik larik puisi ini terdapat makna untuk mencoba memberikan gambaran sang tokoh (baca: walaupun) bahwa sepak terjang mereka patut diwaspadai. Karena, jika kita lengah bisa mungkin akan menyeret kita ke dunia absurditas mereka, dan tenggelam dalam kemunafikan, keserakahan, dan kemaksiatan.

Akhirnya, marilah kita ajak anak didik kita menuju cinta kebijakan tanpa merobek etika sosial yang berbudaya, demi terciptanya nuansa masyarakat yang berakhlakul karimah. Sehingga masyarakat tetap berbudaya yang beretika, bukan berbudaya yang bermasalah. Semoga!
***

*) Sebuah nama tempat, kecamatan di Kabupaten Sumenep, di daerah terpencil, suatu kepulauan.

author

Author: 

Leave a Reply