LISA NAGA

LISA NAGA

“Ular naga panjangnya bukan kepalang. Berjalan – jalan selalu kian kemari. Umpan yang lezat itulah yang dicari. Ini dianya yang terbelakang”.

Aku menyanyikan lagu anak-anak tersebut kepada keponakanku yang belum lagi bisa berjalan. Dia sedang pada masa menjejakkan kakinya tertatih tatih di dalam roller – alat bantu berjalan untuk balita.

Aku memilih melantunkan lagu itu dengan skenario bahwa aku adalah naga yang sedang mengejarnya. Mimikku kubuat mendelik-delik tetapi dengan senyum mengembang. Lenganku kukembangkan lebar seakan mau menangkapnya. Dia kecil, jelas aku jauh lebih besar daripadanya. Posisiku berdiri pula. Badanku agak membungkuk, seolah akan mencengkeramnnya. Semua peranku itu disambutnya dengan tawa. Aku takjub juga bahwa dia tidak menjerit ketakutan. Tampaknya dia menangkap aura penghiburan yang kumainkan.

Sengaja kumainkan peran itu agar dia semakin sering menggerakkan kakinya. Aku bukan seorang ibu tetapi dengan memakai logika sederhana, aku mencoba membandingkan perkembangan motorik keponakanku dengan anak lain.

“Koq umur hampir setahun, belum juga bisa berjalan” omelku suatu hari, di depan Noor, sang Bunda dari keponakanku.

Pernah aku baca bahwa pemakaian roller pada prinsipnya tidak mempercepat perkembangan motorik anak karena sebenarnya anak menjadi agak “malas” belajar berjalan.

Dengan melihat diriku sebagai ular naga, keponakanku menjerit-jerit senang. Giginya yang baru dua membuat aku semakin ingin membuatnya tertawa. Sambil berteriak-teriak senang dia akan berusaha menjauh dariku agar tidak tertangkap tanganku. Lucunya dia melakukan itu sambil menoleh ke belakang, waspada terhadapku. Jika boleh kubanggakan, aku sebagai “naga” sudah memberikan kontribusi terhadap progres kemampuan berjalannya.

Berbeda dengan sang keponakan yang menjerit senang, sang Bunda menyikapinya sebaliknya. Entah cemburu entah apa. Setiap kali aku sedang bercanda dengan keponakanku, tiba-tiba saja adikku nongol dari dapur, dari kamar mandi, entah dari mana lagi. Tentu saja dengan muka berlipat. Kadang keponakanku dibiarkan terus bermain denganku. Namun tak jarang, ketika keponakanku sedang terkekeh-kekeh kugoda, dia tiba-tiba diangkat dari rollernya, digendong dengan kasar lalu dibawa pergi dari hadapanku.

“Jangan mau sama naga”, katanya suatu ketika.

Ingin rasanya aku protes kepada adikku bahwa keceriaan yang kuciptakan adalah sesuatu yang tidak bisa dia sediakan. Hanya aku yang bisa bermain seperti itu. Aku boleh bangga dengan kepintaranku ini. Termasuk kemampuanku menjawab pertanyaan keponakan pertama yang sudah duduk di Paud. Hanya kepadaku kan dia minta dibuatkan gambar eskavator? Hanya untukku lah permintaan untuk membacakan buku cerita bergambar mobil merah yang bisa terbang. Suatu hari dia bertanya tentang gajah. Dan aku bisa menjawab bukan?

“Oliiiii…..n” tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam kamar. Keponakanku dan aku sedang mewarnai ikan besar. Gambar ikan itu kubuat besar dengan mulut menganga. Olin sedang memenuhi badan ikan dengan warna tidak keruan. Tiba-tiba dia beranjak dari duduknya di sampingku. Sebelum pergi dia berkata dengan muka tidak suka “Uwo naga”*), plus bibir agak monyong.

Aku ternganga persis seperti ikan yang kugambar. Sedemikianlah kemarahan bisa ditularkan. Aku kesal dijuluki naga oleh adikku. Walau demikian, aku tetap bisa menghargai diriku bahwa aku bisa membuat keponakanku terkekeh dengan peranku sebagai naga.

*) Uwo berasal dari kata Mak Tuo yang artinya Bude.

Bandung, 24112016
Lisa Tinaria

Rate this article!
LISA NAGA,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: