LIMA PULUH RIBU RUPIAH

LIMA PULUH RIBU RUPIAH

Dua tahun lalu ketika aku baru bekerja di Bandung, aku terusik oleh sebuah rumor tentang adanya “juara SPJ” (SPJ=Surat Perintah Jalan). Mulanya aku tak percaya adanya “perlombaan” itu. Namun suatu hari aku melihat sendiri daftar di sebuah papan pengumuman berisi nama nama top twenty yang paling sering melakukan perjalanan dinas, dalam waktu satu tahun.

Pada tahun itu, uang perjalanan dinas dibayarkan secara lumpsum, yang meliputi ongkos transport, bea penginapan dan uang harian. Seseorang yang melakukan SPJ akan berusaha menghemat pengeluaran dengan cara, misalnya mencari tiket promo untuk pesawat, menginap di tempat teman atau hotel melati. Hasil dari berhemat adalah sisa yang dapat disebut penghasilan tambahan.

Gara gara potensi penghasilan tambahan itu maka, SPJ perlu diperjuangkan. Dari tiada menjadi ada, dari dua hari menjadi tiga hari, dari satu orang menjadi dua orang. Pejabat mana pun ketika itu seakan “alah bisa karena biasa” sehingga budaya berlomba lomba SPJ sulit dihilangkan. Termasuk si pemasang pengumuman, sudah desperate.

Manajemen tidak kehilangan akal. Sistem SPJ diganti dari lumpsum ke reimbursement. Artinya, sekarang, uang kas SPJ hanya berupa uang harian. Uang transpor dan bea penginapan, hanya diberikan jika ada bukti pengeluaran asli berupa tiket pesawat dan kwitansi hotel. Akibat kebijakan at cost ini, orang jadi berpikir dua kali untuk pergi SPJ. Di samping aspek kelelahan fisik, uang harian SPJ biasanya habis untuk membeli oleh oleh untuk teman sekantor.

Itulah sekilas cerita tentang efek dari keberadaan si Lima Puluh Ribu Rupiah terhadap perilaku manusia. Kalau sudah bicara tentang nominal uang, sejatinya tak ada cara pandang yang lebih bijak daripada memakai konsep “cukup”. Fifi temanku memakai istilah “relatif”.Karena sangat relatifnya nilai nominal uang maka ada fenomena, semakin besar penghasilan, semakin besar pula pengeluaran. Bagi seseorang yang berpenghasilan Rp 5 jt sebulan, meng-kredit motor sudah merupakan sebuah prestasi. Bagi yang berpenghasilan Rp 50jt sebulan, merasa lebih pantas mengkredit Alphard.

Kalau sudah demikian, perlu ketrampilan tertentu dalam memandang nominal uang. Ketrampilan itu dimulai dengan doa dan latihan. Soal doa, Rasulullah sudah mengajarkannya yaitu “Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rejeki yang halal sehingga aku tidak memerlukan yang haram dan berilah aku kekayaan dengan karuniaMu, sehingga aku tidak memerlukan karunia selain dariMu”.

Tentang latihan, mulainya seharusnya dari usia dini, yaitu dengan memperkenalkan pada anak perbedaan function and fancy suatu barang. Function artinya kemanfaatan sedangkan fancy lebih kepada nilai tambah atau kelebihan dalam arti jumlah atau kemewahan. Sepatu kets dengan harga standar, yang cukup untuk melindungi kaki ketika berjalan, sudah memenuhi fungsi sepatu. Namun, mengoleksi dua puluh sepatu warna warni, yang branded pula, bagi seorang anak SD, adalah fancy. Patut diingat bahwa, mengajarkan konsep membeli berdasarkan fungsi, tidak berarti mencontohkan sifat pelit. Kemampuan memilih berdasarkan fungsi juga tidak perlu dikaitkan dengan “miskin” atau “kaya”.

Lantas siapa yang akan mengajarkan konsep yang agak berat sekaligus kuno, dan utamanya menentang hedonisme ini? Siapa lagi kalau bukan Sang Madrasah Utama, seorang Ibu.

Selamat berjuang temanku, para Ibu.

Bandung, 15 11 2015
Lisa Tinaria

Rate this article!
LIMA PULUH RIBU RUPIAH,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply