Lembaran Masa Lalu

Lembaran Masa Lalu

Oleh

Humayra Rara

 

Perempuan itu, mengulas senyum indahnya kepada semua orang. Dia melewati lorong-lorong dengan membawa segenggam tanah liat yang lengket. Tanah liat itu bernama masa lalu. Dia terlihat bahagia tetapi tidak bahagia. Kepiluannya pada segenggam masa lalu acapkali membuatnya terjatuh berkali-kali dan melupakan kehidupannya hari ini.

Padahal dia tidak dituntut untuk memperluas pemahaman terhadap masa lalu itu. Dia hanya perlu membengkok-bengkokkan masa lalu itu sekehendak hatinya sesuai dengan makna yang telah ditentukan sedari awal. Masa lalu memang memiliki banyak kenangan. Masa lalu juga tidak mungkin berlalu begitu cepat untuk dilupakan, karena masa lalu meninggalkan jejak di memori kita.

Boleh jadi masa lalu yang terlanjur dianggap pahit karena terlalu banyak kenangan manis yang tidak ingin dia tinggalkan atau dilupakan sehingga dia selalu ingin berkutat di dalamnya. Meskipun dia begitu tahu bahwa kenangan itu pasti akan hilang dan berlalu. Fase yang akan dilalui semua orang untuk memjembatani masa kini. Fase yang tidak akan pernah kembali lagi. Hanya saja dia belum puas untuk mencecapi kenangan manis dan keindahan itu. Sedangkan tanpa sadar semua bisa saja berubah, bukan?

Perempuan itu tengah melamun kini, sesekali dia tersenyum geli mengingat kembali kenangan pahit yang banyak menyimpan dan meninggalkan jejak luka. Padahal beberapa saat lalu, dia baru saja menangis tersedu-sedu, merasa kecewa dan sedih yang teramat sangat. Dia sedang menertawakan kebodohannya di masa lalu. Geli rasanya jika diingat kembali. Perempuan itu sibuk menghitung kepingan masa lalu mana lagi yang ingin ditertawakannya kini.

Pernah merasakan goresan luka di bagian tubuh? Perempuan itu juga merasakannya. Luka di bagian yang terlihat saja membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh, bukan? Begitu juga dengan luka kasat mata, seperti di hati, yang mungkin membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyembuhkannya.

Perempuan itu tidak lagi menoleh ke belakang dan kini melangkah maju menyelesaikan apa yang patut diselesaikan. Suatu ketika, karma baik menghinggapi perempuan itu. Sekelilingnya masih ada orang yang berpihak padanya. Dia bertemu dengan seseorang yang bak pantulan cermin bagi dirinya. Dia menawarkan pertemanan yang hangat. Belahan bumi lain tidak menjadi persoalan bagi mereka. Mereka selalu bertukar cerita dan kabar. Perempuan itu memposisikan diri sebagai tempat sebaik-baiknya berpulang bagi temannya itu.

Ternyata perempuan itu bisa saja kalah dengan perkara hati. Betapa egoisnya jika dia harus menggadaikan pertemanannya demi perasaan, petuah yang selalu dia gadang-gadangkan selama ini. Setiap malam sujudnya, dia selalu menyelipkan nama temannya itu berharap sejuta  kebaikan selalu memeluk temannya itu. Urusan kepada siapa temannya itu berpulang tidak menjadi masalah baginya. Baginya, dia hanya perlu menyediakan senyaman-nyamannya tempat menuangkan segala suka dan duka bagi temannya itu.

Sejenak dia lupa bahwa merawat sesuatu yang bersayap suatu saat akan tetap membawanya terbang, merawat sesuatu yang berbisa suatu saat akan membinasakannya, dan merawat sesuatu yang buas suatu saat akan menerkamnya.Waktu akhirnya yang mengajarkannya bahwa jejak luka lama masih berbekas. Siapa yang menebar benih suatu saat akan menuai hasilnya. Dia hanya perlu berdiam diri dan tidak menaruh harapan besar pada hati manusia.

Akhirnya, dia mundur ke belakang, bukan dengan selangkah kaki yang akan membuatnya pincang, tetapi dengan kedua belah kakinya. Dia ingin berdamai dengan dirinya sendiri dan menarik diri menghilang. Pada perjalanannya memang tidak mudah dan pun tak membuatnya semakin lega. Setidaknya dia tidak menggantungkan lagi harapannya pada hati manusia yang cenderung bisa berubah kapan saja.

Beberapa masa perempuan itu tertatih melewati masanya sendiri, menyediakan ruang hatinya sendiri, mengumpat sendiri, tergelak tawa sendiri, menangis sendiri. Dia bahkan lupa bagaimana cara menuangkan rasa kesalnya hingga suatu ketika dia menemukan cara yang baik dengan meluapkan segala resahnya lewat tulisan. Dia menulis bukan untuk menarik hati para pembacanya tetapi mencari jalan keluar untuk melepaskan segala hal yang dia jaga selama ini. Suatu masa, dia pun berdamai dengan masa lalunya dengan sesekali melihat lembaran itu dengan hati yang tak sehangat dulu.

Rate this article!
Lembaran Masa Lalu,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: