Lebaran DI RUMAHKU

Lebaran DI RUMAHKU

Kata,”di rumahku” aku tulis dengan huruf kapital. Ya, itu lah fokus ceritaku kali ini. Tempat dan peristiwa yang kulewati kali ini jauh berbeda dengan yang kualami sepanjang hidupku.

Di mana saja aku melewati lebaranku selama hidupku? Di rumah orang tuaku, pasti, di Padang. Sekali di rumah Mak Tuo di Pondok Pinang Jakarta Selatan. Aku ingat sepupuku dan aku sholat Ied di daerah Tanah Kusir. Sekali di rumah kos di Bandarlampung. Ketika itu adalah tahun pertama aku bekerja yang aturannya belum boleh mendapat cuti tahunan. Seingatku, begini komentar Ibu kos “Jangan melamun saja, Lisa”. Dua kali di Melbourne, ketika aku sekolah di sana. Terima kasih kepada Bu Penastuti yang meneleponku di hari terakhir Ramadhan. Ketika itu aku sedang berkutat dengan beberapa buku di perpustakaan Monash yang megah.

Selebihnya di rumah Papa. Rumah yang besar dengan halaman di sekelilingnya, dengan beberapa ritual lebaran yang melekat pada rumah itu.

“A house is made of bricks, a home is made of memories”. Rumah Papa semakin tahun berganti semakin aku belajar memaknai keberadaannya. Entahlah apakah aku melihat rumah itu lebih sebagai susunan bata ketimbang tautan hati penghuninya. Pertanyaan ini timbul sejak Mama tiada. Tidak ada lagi yang mengomandoi “Ayo makan, Lisa cuci piring, bersihkan ini atau bersihkan itu”. Tidak juga ada kesibukan “super messy” di dapur menjelang Idul Fitri. Aku ingat, Mama pernah tidak tidur pada malam takbiran karena,mempersiapkan makanan. Jaman itu usaha catering sangat jarang, dan tentu saja mahal. Sementara tamu Papa banyak, terutama karyawan kantor beliau.

Setelah Mama tiada, aku berusaha membuat kemeriahan caraku. Hobiku memasak dan kubuatlah dapur yang sibuk menjelang Lebaran. Sekarang giliran aku mengomandoi adik adikku. Kastengel, nastar, dua yang wajib, sering kupanggang sendiri. Rendang nenek, begitu kumenyebutnya, selalu menjadi ritual di dapur. Juga ada sayur buncis taoco dan ketupat. Ya, semuanya kami masak bersama. Lagi – lagi tak terpikir catering. Memang memasak itulah niatku. Apakah niatku itu menghangatkan hati penghuni rumah lainnya? Setidaknya makanan itu habis. Kataku.

Tahun-tahun berlalu. Entah, apakah rumah besar di Simpang Haru itu juga lebih bermakna “bricks” bagi yang lain. Bagiku, aku meharuskan diriku pulang.

“Lebih baik menemui orangnya, Lisa, ketimbang menziarahi kuburannya kelak”. Papa.

Apakah alasan itu bisa disebut sebagai lawan dari “bricks”? Does it mean memories or love?

Sampai suatu tahun, pulang adalah “batu bata” yang sebenarnya. I hate this! I hate the house.

Tak ada Uum, adikku sayang, di sana.

“Kalau Uum sudah nggak ada, mau nggak Ita tinggal sendiri di rumah itu”. Aku mengangguk, sambil duduk di tempat tidurnya, di rumah sakit, Ramadhan 2012, beberapa hari sebelum kepergian Uum.

Nyatanya susah.

“Bu, saya masih menangis, di taksi, dalam perjalanan dari Bandara Minangkabau ke rumah”, aku melaporkan perkembanganku kepada Bu Rara, psikolog di Padang, tempat aku bercurhat.

Aku masuki rumah Papa. Sudah beberapa tahun terakhir sejak kepergian Uum, rumah itu semakin senyap. Dua,orang penghuninya pergi sudah ke haribaan Illahi. Salah satu adikku sudah menikah dan meninggalkan rumah Papa, tinggal di rumah nenek di kampung. Dia tak datang, rumah Papa. Sebaliknya kami lah yang berkunjung ke kampung ketika lebaran tiba. Rumah Papa tidak lagi menjadi meeting point.

“Imon tidak pulang. Dia sedang jalan-jalan ke Eropa”, kata Papa menyambutku tahun lalu. Apakah teori “batubata” itu benar? Tetapi Papa menyampaikan berita itu, sambil tersenyum sumringah, ketika menyambutku di depan pintu.

Senyap. Selesai sholat Ied, selesai ritual ketupat, rendang dan sayur buncis taoco, aku kembali ke kamar tidurku di lantai dua. Eh, itu bukan kamarku. Aku “menumpang” di kamar seorang anak kos. Lantai dua rumah Papa dijadikan rumah kos. Kamarku ada di lantai bawah. Kamar aku dan Uum bersama menghabiskan lima bulan terakhir kehidupan Uum. Kamar itu dibiarkan gelap dan berdebu. Aku tak ingin membenahi kamar itu untuk tidur di situ. Hanya sesekali aku masih memasukinya untuk mengambil bajuku yang masih disimpan di lemari kamar itu.

Sampai suatu malam, “Aku akan meninggalkan rumah ini”, batinku.

Kulihat Papa sedang sholat di ruang tengah. Sholat duduk. Biasanya Papa sholat berjamaah ke masjid.

“Papa tidak kuat berdiri lama mengikuti imam. Gemetaran rasanya kaki”, jawab Papa ketika kuntanya mengapa tidak ke masjid.

Aku melihat punggung Papa sambil menaiki tangga ke kamarku. Kelengangan ruangan yang luas itu semakin kurasakan dari atas tangga Hanya ada satu orang di ruangan besar itu. Papa. Rumah itu semakin tercerai berai, kurasakan.

—–

Senja. Aku berdiri di balkon rumah Papa. Balkon itu menempel di fasad depan rumah menghadap langit Barat yang terasa luas. Rumah tetangga depan tak menghalangi pemandanganku. Adzan magrib baru saja berkumandang. Aku akan menutup pintu di balkon ketika menangkap pemandangan langit. Merah, kuning, jingga, putih dan biru bercampur di ruang mataku. Ditingkah lampu-lampu di kejauhan, dan daun pohon alpokat yang beranjak dewasa, di halaman depan rumah Papa. Langkah kakiku terhenti demi menikmati keindahan itu. Udara Padang yang mulai sejuk, membuat aku mulai berdamai. “Mungkin pemandangan itu tak ketemukan selain di rumah Papa”. Aku menutup pintu dengan cara pandang baru.

——

“Aku ke Bandung selesai sholat Ied saja ya. Kalau malam ini, macet berat”, message Imon Sabtu siang.

Aku pikir Imon akan datang bersama Papa saja, hari Selasa. Untuk apa dia menyetir bolak balik Bandung Jakarta?

“Nanti hari Selasa, aku akan jemput Papa ke Soekarno Hatta”. Penjelasannya lagi.

“Kalau ke Bandung selesai sholat Ied, pakai travel saja. Tidak usah nyetir. Terlalu capek, nanti”. Alasanku.

“Sudah bikin masakan apa? Ketupat dengan buncis taoco, dan ketan srikaya?” Pertanyaan Imon untuk makanan kesukaannya jika di rumah Papa.

Aku yang mulanya tak berniat meramaikan dapurku, akhirnya ikut juga meramaikan pasar Cicadas pada Sabtu siang, Ramadhan terakhir, demi membeli bahan bahan untuk menu khusus rumah Papa itu. Lima biji ketupat selesai kumasak di malam takbiran. Sayur buncis taoco dan ketan srikaya, kumasak sepulang sholat Ied. Dan Imon tak jadi datang hari itu.

Well. Bukan itu. Tak mengapa lah ketupat, sayur buncis taoco, ketan dan srikaya menjadi penghuni kulkas karena tak habis kumakan sendiri. Yang aku rasakan justru, sesuatu yang baru. Meeting point, rumahku, tempat aku merajut perasaaku yang baru. Akankah rumahku menjadi sebuah “home” bagiku?

Selesai memasak di siang hari Lebaran, lengang, melingkupi kepalaku. Seorang teman yang berencana berkunjung, belum mengkonfirmasi ulang kedatangannya. Aku duduk sendiri di ruang tengah, selesai menunaikan sholat dzuhur. Tak ada anak anak “penambang” yang mengetuk pagar rumahku. “Menambang” adalah istilah untuk mengumpulkan uang dari setiap rumah yang dikunjungi selama lebaran. Kegiatan ini biasa dilakukan anak-anak usia SD di Padang. Itulah mengapa aku selalu mencari tukaran uang nominal kecil setiap pulang Lebaran. Itu kuberikan kepada setiap anak yang “mlekuuuuumm” (maksudnya `assalamua`alaikum`”) di depan pintu rumah Papa. Kebanyakan anak itu tak kukenal.

Tak pula terdengar tetangga berceloteh ria menyambut kedatangan tamu mereka. Tak terdengar pintu mobil ditutup. Yang ramai justru suara cicit segerombolan ayam yang mengais tanah di pot tanamanku. Ke mana para tetanggaku?

Aku belum berkunjung kepada mereka yang terdekat. Tadi ketika bersalaman selesai sholat Ied, baru beberapa orang yang kukenal. Ini hasil silaturahimku ketika diundang pertama kali arisan tingkat RT. Aku hanya banyak tersenyum, kepada para Ibu di sekitarku.

Kuedarkan pandanganku mengitari ruangan tengah tempatku duduk. Meja makan di situ “kuhiasi” dengan dua toples kerupuk melinjo. Di atas meja kubentangkan “table runner”, istilah baru yang kudapat dari sebuah supermarket perlengkapan rumah tangga. Itu artinya taplak meja minimalis alias berukuran slim yang dialaskan di tengah meja makan. Di satu sisi meja itu aku taruh table mat. Tampak kekinian. Aku tersenyum sendiri.

Senyap yang tak mengiris dada dan tak pula mendatangkan air mata. Aku tetap menunggu “tautan” itu, tetap memperjuangkan “home” itu, di rumah Papa maupun di rumahku. Insyaallah besok Papa, Ibu dan Imon, tiba.

Bandung, 2 Syawal 1438H
Lisa Tinaria

Rate this article!
Lebaran DI RUMAHKU,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: