KWE TIAU-KU

KWE TIAW-KU

Itulah untuk pertama kali dan terakhir aku mengenal sebuah makanan yang disebut kwe tiaw. Sejujurnya, jiwa petualangku terhadap makanan, tidaklah begitu ada. Aku cenderung mengulang ulang makan makanan yang sama. Akan halnya kwe tiau, ada cerita tersendiri.

Seperti biasa aku terobsesi makan sayur hijau setiap hari. Sampai-sampai seorang teman bercanda, bahwa aku adalah pencinta segala daun-daunan, namun tidak termasuk daun jendela, daun pintu dan daun telinga. Karena obsesi tersebut, pilihanku jadi agak terbatas ketika makan di luar. Yang paling sering jadi pilihanku adalah cap cai dan lalapan di restoran Sunda.

Suatu hari di sebuah mall, aku tak menemukan pilihanku itu. Setelah berkeliling foodcourt, mataku tertuju pada sebuah gambar makanan. Itu mirip sajian capcai. Ada warna daun berwarna hijau, ada mie ukuran besar- besar dan ada kuah. Tampak nikmat sekali, apalagi jika disajikan panas mengepul. Namun sebagai penikmat sayur, sebuah ide muncul di kepalaku.

“Ini, mirip cap cai ya, hanya ditambah mie?” tanyaku sambil menunjuk pada gambar di dinding counter penjaja makanan tersebut.

“Ya, itu kwe tiaw kuah daging sapi. Ada cai sim, sayurnya”. Sang pelayan menerangkan sambil menata piring di atas nampan. Mie goreng mengepul di atas piring itu.

“Mie-nya gak usah. Diganti sayur, boleh?” Aku membayangkan segarnya hijau-hijauan berkuah.

“Boleh” katanya sambil menuliskan sesuatu di buku nota yang dikeluarkannya dari saku celemeknya. Dia kemudian memberikan aku nomor pesanan dan nota. Setelah membayar ke kasir aku pun duduk di dekat counter itu.

Aku cukup berbangga ketika itu karena menemukan sebuah menu baru dalam petualangan hijauku. “Ada pilihan” kata temanku kalau menemukan menu enak di sebuah tempat makan.

Akhirnya pelayan tadi berdiri di depan mejaku. Cepat juga ya, sang koki memasak. Dia meletakkan semangkok makanan berkuah banyak tepat di bawah hidungku. Asap makanan itu menyebarkan wangi bumbu yang segar. Juga harum kaldu sapi.

Aku mulai menyendok sedikit. Hhmm… yummy. Kaldumya terasa. Aku juga mencampurkan sambal dari cabe rawit. Mantap pedasnya. Suapan kedua, aku makan satu potongan si hijau. Sendokan ketiga, aku merasakan irisan kecil daging sapi plus sayur. Aku mulai menikmati.

Suapan keempat dan seterusnya aku mulai bertanya-tanya. Kuaduk kuah makanan itu, mencari potongan lain sayur hijau. Kemana perginya? Aku mencoba mencari serpihan daging. Juga susah ditemukan. Aku mencoba “memaafkan” sang koki, bahwa mungkin dia lupa pesananku, yaitu mie besar-besar diganti dengan sayur. Aku aduk lagi. Sekarang rasa kecewa mulai muncul. Penglihatanku terhadap kaldu panas itu mulai agak berubah. Mengapa koq seperti adukan lem? Aku teringat dulu Mama mengakali keperluan anak anaknya akan lem, dengan membuat sendiri lem dari tepung tapioka dicampur sedikit cuka untuk pengawet. Sang kwe tiaw sekarang mirip sekali dengan adonan lem Mama, dalam pandangan mataku.

Aku berhenti mengaduk dan melayangkan pandang kepada pelayan kwe tiaw yang sedang sibuk melayani pembeli lain. Senyumnya sumringah menerangkan gambar lain pada calon pembeli. Apa hendak dikata, entah di mana letak salahnya sehingga kwe tiawku jadi seperti itu. Apakah pesanku tidak tersampaikan ke koki? Atau sudah tersampaikan tetapi koki mengartikan “mengurangi boleh, menambah tidak”? Namun yang pasti inilah rejekiku hari ini. Tampaknya kew tiaw memang dibuat dengan sayur sebagai hiasan, bukan sebagai bahan utama.

Bandung, 01 08 2016
Lisa Tinaria

Rate this article!
KWE TIAU-KU,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: