Kutebus dengan Cinta

Cring!!

Dua keping uang logam dimasukkan ke dalam celengan tanah liat yang berbentuk ayam jago. Diangkatnya celengan tersebut dan digoyang-goyangkannya. Bunyi uang yang bergemericing adalah irama terindah yang selama ini didengarnya. Jauh lebih indah dari suara musik dangdut dari pertunjukan kampung sebelah. Bocah laki-laki itu lalu mendekap erat celengannya di dada sambil tersenyum.

Sedikit lagi

Suara azan maghrib menyadarkannya dari lamunan. Segera ia menyambar sarung dan peci kesayangannya ikut larut bersama teman sepermainannya berduyun-duyun menuju rumah Allah. Hari ini ia akan berdo’a  lebih keras kepada Sang Maha Kaya.

Keesokan harinya di sekolah,

“kue… kue…!”

Seorang penjaja kue berumur sedikit lebih tua menatapnya mengharap anak lelaki tersebut mencoba merayunya untuk  membeli kue basah dagangannya. Anak lelaki itu hanya menatapnya. Ia sudah sebulan berpuasa jajan. Semua uang jajan yang mamak berikan ia masukkan ke dalam celengan. Begitu pula jika bapak memberi uang jajan lebih. Semua ditabungnya.  Semua itu demi satu keinginan. Keinginan yang sudah lebih dari sebulan membayang-bayangi setiap langkahnya. Masuk ke dalam mimpi. Memainkan angannya.

Bel pulang sekolah hari ini berjalan sangat lambat baginya. Ia tidak sabar untuk pulang. Ketika akhirnya bel berbunyi, ia berlari secepat kakinya sanggup berlari menuju rumah. Rumah bercat hijau pudar semi permanen, kombinasi  batu bata di bagian bawah dipadukan papan yang usianya pasti sudah tua.

“Mak…! Mamak…!”

Dari dalam dapur perempuan separuh baya muncul tergopoh-gopoh.

“Ada apa? Kenapa teriak-teriak kau?”

Anak lelaki itu berusaha mengatur napasnya dahulu. “Mak, besok aku mau jualan ya mak. Besok mamak gorengkan pisang dan bakwan. Mau kujual disekolah.”

Wanita tersebut sedikit mengerutkan kening. Lau tertawa.

“Mamak pikir ada apa. Serius nya kau mau jualan? Gak malu kau?”

Anak laki-laki itu menggeleng dengan mantap. “Enggak mak.  Buat apa aku malu, aku kan mau cari duit. Jualan kan halal. Kalau mencuri baru itu bikin malu. Bikin malu mamak, bapak.”

Mamak tersenyum lagi dan mengusap kepala anak lelakinya. Betapa terharunya ia.

“Baiklah.. besok mamak masakkan gorengan ya nak..”

Setelah seminggu berjualan. Pundi-pundi dalam celengannya semakin banyak. Betapa bahagia nya anak lelaki itu ketika menimbang -nimbang celengannya yang semakin hari semakin berat. itu artinya, sudah saatnya ia memcahkan celengannya itu. Dengan harap-harap cemas dan mengucapkan bismillah lalu.. PRAKKK….!!

Uang receh bertebaran di lantai. Dengan gembira ia mengutip satu persatu memasukkannya ke dalam plastic kresek. Tanpa membuang waktu, ia berlari ke rumah ustadz Hanif. Dengan nafas masih tersengal-sengal ia menyerahkan bungkusan plastik hitam tersebut.

Perjalanan pulang dari rumah ustad Hanif ia lakukan dengan langkah yang sangat perlahan. Sesekali  tak lekat pandangannya dari benda yang didekapnya di dada itu dengan penuh suka cita. Rasanya puas dan bangga ketika akhirnya benda itu bisa didapatkannya dari hasil jerih payahnya sendiri. Benda yang berbentuk persegi dengan ukiran indah disekelillingnya. Hal yang pertama sekali ia lakukan ketika mengaji ke rumah ustadz Hanif adalah mendekap, mencium dan mengelusnya. Begitu indah.  Akhirnya hari ini benda itu menjadi miliknya. Ia bisa membacanya setiap hari.

Telah kutebus engkau, Al-qur’anku. Kan kurawat dan kubaca engkau setiap hari. tak kan kubiarkan engkau berdebu di atas lemari. Kan ku basahi bibirku untuk membacamu. Biarlah mata dan hati ini menangis membacamu. Jadilah syafa’atku kelak ketika aku bertemu dengan rabbku kelak.

sudah membaca Al-qur’an hari ini?

Rate this article!
Kutebus dengan Cinta,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply