KUPING PREMAN

KUPING PREMAN

Pengamen dewasa muda yang duduk di dekar pintu angkot itu, terus bernyanyi, entah apa, dengan suara cepreng pula. Dia mengiringi lagunya dengan tepuk tangan yang keras dengan ketukan satu satu, persis ketukan tepuk tangan yang diajarkan seorang ibu pada batitanya.
Di tangan yang bertepuk itu berjejer karet gelang warna hitam mulai dari pergelangan tangan sampai hampir ke siku.

Sang pengamen juga berusaha memperindah penampilannya dengan gaya menangguk anggukkan kepala. Sesekali menggeleng kepala, sepertinya sebagai ekspresi ” Oh no, no no!”. Sepertinya. Bukankah aku tak menyimak lagunya sedari tadi. Aku lebih tertarik pada asesoris yang dipakainya.

Sambil menggeleng itulah sesuatu menarik perhatianku, lebih. Anting lebar di kuping yang juga dibolongi lebar, berayun. Lebarnya lubang telinga dan diameter anting, tidaklah sebesar yang dipakai ibu ibu Dayak di pedalaman Kalimantan sana. Tetapi untuk ukuran kota Bandung, ukuran itu cukup menarik perhatian.

Aku bandingkan dengan tindik di telingaku. Kecil, hanya cukup untuk menusukkan bagian gantungan anting yang sebesar peniti. Antingku, berbentuk ring seperti miliknya, tetapi diameternya hanya satu sentimeter.

Bagaimana cara dia melubangi kupingnya? Kupingku ditindik ketika aku sudah usia SD. Yang menindik adalah suater di klinik di kantor Papa. Mama menemaniku, membujukku, bahwa “Kuping Lisa masih lembut koq. Nggak sakit ketika ditindik”. Faktanya aku tetap kepedihan selesai ditusuk jarum dan dipasangi anting emas ukuran kecil. Setiap kali aku agak keras menggerakkan kepala, terasa sakitnya.

Aku yakin sang preman tak kepikiran ke puskesmas atau RS untuk mendapatkan pelayanan tindik higienis. Setahuku para preman mendapatkan layanan itu dari penjual anting di kaki lima. Biasanya jarum yang dipakai, ya jarum bekas pakai orang lain. Aku bergidik membayangkannya penularan penyakit yang kemungkinan terjadi.

Aku tidak merasa perlu memperbesar lubang tindikku. Bagiku cukup kugantung satu anting pada satu lubang tindik di satu kupingku. Sang preman, tidak puas dengan satu anting pada satu lubang tindik. Sekarang aku melihat dua anting, pada satu lubang tindik yang hampir selebar uang receh seratusan lama. Lalu masih ada dua lubang tindik yang lain di telinga bagian atas. Pasti lebih sakit rasanya kalau bagian tulang rawan itu ditusuk jarum tindik, batinku.

Akhirnya, estetika. Antingku tampak menggantung dengan wajar. Mungkin cara pandangku sesuai norma. Nenek Dayak yang punya anting lebih banyak, yang menggantung pada lubang tindik yang lebih lebar, tampaknya oke oke saja, karena itu juga bersesuaian dengan norma di sana. Lha, pengamen ini? Aku hanya bisa geleng geleng kepala dalam hati, ketika memperhatikan geleng kepalanya yang membuat mataku tertuju pada ayunan antingnya.

Bandung, 17 12 2015
Lisa Tinaria

Rate this article!
KUPING PREMAN,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply