KULIAH DI STIA

KULIAH DI STIA

“Dia kuliah di mana?”

“Di STIA”

“STIA mana?”

“Ya STIA”.

Barulah aku tahu bahwa STIA adalah singkatan dari Sekolah Tidak Ijazah Ada.

“Ya, coba saja perhatikan mutu kerjanya, kemampuan komunikasinya, kemampuan analitikalnya. Sebenarnya dia kuliah nggak siiih? Kasihan aku sebenarnya kalau singkatan STIA di-bully. Tetapi karena dia sekolah di STIA antah berantah, maka singkatan miring itu jadi pas buat dia”.

Itulah kesimpulan percakapanku dengan seorang sohib tentang makna kuliah, terutama bagi yang sudah menyandang predikat karyawan. Tidak dipungkiri bahwa di beberapa instansi, ijazah memengaruhi karir. Sehingga sudah jamak terjadi, yang dicari adalah ijazah bukan ilmu.

“Aakkhh……rumit-rumit amat. Nggak usah serius-serius kali lah dengan kuliah ini. Dah pulang sore, lalu kuliah malam. Bos nggak ngasih pulang lebih awal. Sudahlah”. Komentar itu mungkin sering kita dengar dari para pegawai yang kuliah.

Mari kita lihat sisi lain. Semangat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah, terutama bagi karyawan, patut diacungi jempol. Betapa tidak. Berapa jam waktu terpakai untuk kuliah? Berapa waktu tersisa untuk belajar mempersiapkan setiap kelas? Untuk bercengkerama dengan keluarga, untuk bersosialisasi dengan teman, bahkan untuk ibadah, olahraga dan istirahat? Dapat dikatakan waktu dialokasikan sangat ketat untuk banyak kegiatan.

Namun sayangnya semangat melanjutkan pendidikan tersebut ternodai dengan niat sekedar “mendapatkan ijazah”. Bukan untuk menuntut ilmu. Secara psikologis, berubahnya orientasi kuliah, tampaknya bisa diterima. Mari kita runut kembali beberapa aktivitas kuliah. Membaca buku, diktat, jurnal, catatan sendiri, adalah pekerjaan yang paling menyita waktu. Lantas membuat catatan untuk merangkum apa yang dibaca atau yang diterangkan dosen di kelas. Ingat bukan, bagaimana tingkat kemampuan tulis mahasiswa Indonesia umumnya? Setelah itu menjawab soal-soal latihan. Bisa jadi ada sesion berdiskusi dengan teman, yang ujung-ujungnya malah menimbulkan kebingungan. Lantas melakukan penelitian dan membuat karya tulis akhir. Lagi-lagi tulis menulis. Intinya, kuliah sejati, tidaklah mudah.

Jika dilihat dari sisi lain, belajar umumnya dan kuliah khususnya, sangatlah indah. Proses belajar adalah proses penaklukan diri. Seorang yang belajar harus tunduk pada serangkaian aturan yang notabene tidak mengenakkan. Di sini lah kesabaran dipertaruhkan dan proses pendewasaan terjadi.

Karena tingginya tuntutan dalam proses belajar, Allah memberi reward khusus kepada hamba yang belajar menuntut ilmu yang bermanfaat. Di antaranya adalah derajad yang lebih tinggi (Mujadillah 11). Ketika seorang hamba sudah wafat, ilmunya yang bermanfaat untuk kemaslahatan ummat, tetap mengalirkan pahala baginya. Terdapat sebuah hadist yang menggambarkan lebih luas, ganjaran menuntut ilmu yaitu memudahkan jalan menuju surga, malaikat membentangkan sayap untuk orang yang menuntut ilmu serta permohonan ampunan oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan.

Kalau sudah demikian dalam arti sebuah proses belajar, mestinya seorang muslim tidak sekedar kuliah untuk mendapatkan ijazah.

Bandung, 22 09 2016
Lisa Tinaria

Rate this article!
KULIAH DI STIA,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: