Kuharap Tulisanku Menjadi Amal Jariyahku

Semua berawal dari keinginanku untuk terus belajar, belajar, dan belajar. Sepanjang perjalanan belajarku, aku menyadari bahwa aku butuh guru sebagai pembimbingku, agar aku tak tersesat. Namun, bukanlah hal yang mudah bagiku untuk menemukan guru yang sesuai denganku. Karena bagiku, mencari guru bukan hanya tentang mencari seseorang yang berilmu, tapi juga tentang mencari keselarasan.

Satu persatu guru kutemui, banyak ilmu yang telah kupelajari. Melalui pendidikan formal maupun non-formal, beberapa guru telah menjadi inspirasi dan motivasi kuat dalam hidupku. Sebagian lainnya hanya hinggap sementara, lewat begitu saja.

Suatu ketika, mungkin aku sangat telat menyadari, ternyata selama ini aku sudah memiliki satu guru yang sangat luar biasa yang telah hadir di hidupku sejak aku lahir. Ya, dia adalah bapakku, Nur Salam yang dikenal dengan Lukman Hakim. Mungkin ketidak sadaran ini terjadi karena sejak lulus MI aku sudah jauh dari orang tua, mencoba hidup mandiri di sebuah asrama. Dan berlanjut merantau ke berbagai kota hingga akhirnya saat ini sampai di kota Depok.

Dalam perjalanan pencarian ilmu yang ku alami, setiap guru sering kali memberiku buku. Ya, buku. Sebuah instrumen yang akan menjadi acuan agar lebih mudah dalam mempelajari suatu ilmu. Bagiku, buku bagaikan kapal-kapal yang membawaku menelusuri samudera ilmu, namun aku tetap membutuhkan nahkoda yang akan mengawasi kemana arah kapal ini akan membawaku, dialah guru-guruku.

Semakin hari semakin banyak buku yang telah kulahap habis. Setiap buku memiliki kesan tersendiri, yang terbaik akan selalu terkenang dan memiliki tempat tersendiri di benakku. Yang membuatku mulai berpikir, siapa sebenarnya yang berada di balik semua buku ini? Ya, mereka adalah para penulis yang telah menuangkan ilmunya dengan ikhlas dengan tujuannya masing-masing.

Hari demi hari berlalu. Mencari ilmu layaknya menimba air untuk ku minum, untuk menghilangkan rasa hausku yang sering tak tertahankan. Hingga suatu hari mulai bermunculan orang-orang yang ingin minum bersamaku. Dan aku mulai menyadari, bahwa ini sudah saatnya di mana aku harus berbagi dengan yang lain. Berawal dari teman-teman sekitar, hingga orang-orang jauh di luar sana.

Namun, ada suatu pembatas yang membuatku tak bisa selalu menimba ilmu bersama semuanya. Pembatas itu adalah ruang dan waktu. Mungkin, inilah alasanku berhasrat untuk mulai menulis, untuk menuangkan semua ilmu yang kumiliki, untuk ku bagi dengan yang lain. Ya, menulis.

Banyak alasan yang mendorongku untuk mulai menulis. Selain menulis sebagai rasa syukurku kepada Allah SWT, karena telah memberiku kesempatan untuk menimba ilmu. Juga sebagai tempat di mana aku bisa membagikan ilmu dan pengalaman yang telah aku dapatkan selama ini. Berharap dengan tulisan yang kutulis, bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Fahmi Hidayat. (Depok, 14 Des 2016).

author

Author: 

Leave a Reply