Kopi Itu Nikmat Kawan!

Kopi Itu Nikmat Kawan
“Abis sholat kita mo ngopi, ikut kami ya man” ajak Bang Iki siang itu.

“Siap” semangatku

Selepas sholat dzuhur, kami pun berangkat. Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat tujuan, warung kopi.

Sebenarnya banyak pilihan warung kopi sepanjang perjalanan kami siang itu. Namun karena undangan dari salah satu rekan Bang Iki yang baru membuka warung kopi, sebuah warung kopi dengan konsep sederhana namun memberikan kenyamanan bagi pengunjungnya.

Seperti yang saya lihat, pelanggannya datang dari berbagai kalangan. Kopi yang ditawarkan mulai dari kopi hitam hingga kopi sanger yakni kopi campur susu. Ada juga menu seperti espresso, kopi luwak, kopi sanger, kopi telur. Ada menu yang ditawarkan sesuai jenis biji kopi dan pemrosesannya seperti gayo, peaberry (kopi jantan), honey, natural dan sebagainya.

Saya tidak akan bercerita mengenai warung kopi milik rekan kami Bang Iki, konon katanya di Aceh, jika anda diajak untuk ngopi, bukan berarti anda diajak untuk meminum kopi. “Ngopi” hanyalah sebuah istilah bagi orang Aceh untuk bertemu dan berkumpul di warung kopi, biasanya ada hal penting juga yang didiskusikan.

“Pesan apa man?” tanya Bang Iki

“Espresso Bang, Double” jawabku

“Mantap, lebih nikmat kalau diminum tanpa gula.” Bang Iki mengacungkan jempolnya

Aku hanya mengangguk, bukan masalah buat ku, karena aku penikmat kopi. Pesanan pun tersaji lengkap dengan gula merah yang sudah diiris-iris pada sebuah piring kecil. Wanginya menggodaku. Satu seruputan kopi terasa pahit, tapi pahitnya begitu nikmat. Diiringi aroma yang begitu wangi membuat tubuh terasa segar.

“Nikmat kah man?” Bang Iki setengah tertawa melihat reaksi mukaku menyuruput kopi tanpa gula itu.

“Ajib bang”

“Nikmat kopi berada di pahitnya man” Bang Iki mulai mengeluarkan kata-kata bijaknya.

Tunggu dulu, mari kita cermati dari ungkapan tersebut.Kopi memang sudah pahit dari sananya, kita juga menikmati kopi karena rasa pahit yang ditawarkan. Justru dengan pahitnya, kopi terasa makin nikmat. Benar apa yang yang dikatakan Bang Iki.

“Kopi itu pahit, begitu pula kehidupan. Nikmat juga pahitnya, Allah-lah yang Maha Tahu mana yang terbaik buat makhluknya. Syukuri aja, nikmati aja. Kopi itu nikmat kawan!”

Banyak cerita dan obrolan di antara kami siang itu. Terkadang dahiku mengerenyit, tak mampu menerjemahkan bahasa daerah mereka. Tak lama kami disana, namun ada yang membekas dalam ingatan tentang kopi.s

Setiap orang mempunyai cara yang berbeda dalam menikmati kopi. Terkadang ada orang yang tidak bisa menikmati pahitnya hidup. Padahal dalam hidup akan ada kalanya rasa pahit itu menghampiri. Kekecewaan tentu akan timbul karena yang diinginkan hanya rasa manis.

Beda halnya dengan orang-orang yang meraskan pahitnya hidup sebagai sebuah kenikmatan. Mereka akan menikmati rasa pahit itu dengan senyuman yang ikhlas. Layaknya menikmati secangkir kopi, meresapi rasa pahitnya, sehingga bisa membawa jalan hidupnya ke arah yang lebih baik. “Pahitnya kehidupan” dinilai sebagai salah satu kenikmatan. Kenikmatan sebagai suatu sikap penerimaan terhadap episode – episode hidup yang dilalui.

Menjadikannya sebagai individu yang pandai bersyukur saat datang kebahagiaan dan membawa manfaat bagi orang-orang disekitarnya. Menjadi inspirasi bagi orang-orang bahwa pahitnya hidup itu bukanlah rasa yang harus kita hindari dan takuti. Melainkan harus kita nikmati dan syukuri.

Filosofi yang sederhana dari rasa secangkir kopi. Sepahit-pahitnya hidup, jika kita bisa menikmatinya maka kita akan merasakan kekuatan luar biasa didalamnya, yang akan menjadikan kita individu yang lebih baik. Jangan takut akan pahitnya hidup. Resapi, nikmati dan pelajari. Secangkir kopi masih akan terasa pahit, meski kita tuangkan gula ke dalamnya. Rasa pahitnyalah yang membuat kopi itu nikmat.

Rate this article!
Kopi Itu Nikmat Kawan!,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply