KONDANGAN

KONDANGAN

Tullisan ini kupersembahkan khusus untuk teman-teman di grup Menulis Untuk Ibadah. Beberapa di antara temanku mungkin tidak lama lagi akan mantu.

Sudah berapa kalikah aku menghadiri kondangan, baik pernikahan, khitanan, atau aqiqah? Tak pernah kuhitung tetapi tentu sudah cukup banyak sejak aku bekerja, sejak aku secara mandiri mewakili diriku sendiri ketika menghadiri undangan. Beberapa acara kondangan tak bisa kulupakan.

Aku masih ingat kejadian ini, yaitu menghadiri kondangan di Bandar Lampung. Ketika itu aku berdinas di Kantor Pos Bandar Lampung. Aku pergi dengan beberapa teman kantor dan nebeng dot com mobil seorang teman. Singkat kata sampailah kami di tempat acara.

Ketika kami tiba musik dangdut sudah terdengar memekakkan telinga. Aku tidak memperhatikan apa yang terjadi di panggung. Pikiranku lebih tertuju pada makanan. Aku lapar. Selesai mengantri makanan dan duduk menghadap panggung, barulah aku sadar. Ada yang aneh, menurutku, tetapi mungkin tidak bagi yang lain.

Di atas panggung, seorang penyanyi wanita sedang menjerit jerit melantunkan lagu dangdut entah judulnya apa. Kalau sekedar lagu dangdut yang tak kusuka, plus suara cepreng penyanyi, mungkin sudah biasa, terpaksa kudengar. Namun, yang ini lain. Si penyanyi mengiringi lagunya dengan goyangan yang bisa kuberi nama goyang gaya ular. Dia meliuk liuk, dengan gaya utama, maaf, tangannya mengusap usap pantatnya yang besar.

“Ada apa dengan bokongnya?” kata Rina yang duduk di sebelahku, dengan wajah jijik. Aku melihat ke Rina dengan ekspresi yang hampir sama. Tiba-tiba terdengar tepuk tangan meriah mengapresiasi sang “ular” dari sekelompok laki-laki.

“Lagi, lagi” teriakan beberapa lelaki, diselingi suitan. Lagu bertukar. Menurutku yang ini lagu agak melankolik, tetapi kenapa gayanya tetap gaya usap bokong?

“Kapan kita pulang? Dah makan semua kan?” pertanyaan Rina. Ini yang kutunggu. Entah siapa yang mengajak berdiri. Alhamndulillah kami akhirnya pulang setelah menyalami sahibul hajat yang tampak sumringah. Mungkin kaena dia merasa puas telah menyuguhi tamunya dengan dangdut ular itu.

Pengalaman berikutnya masih di Bandar Lampung. Undangan pernikahan adalah hari Minggu. Karena alasan adanya acara keluarga di hari Minggu, beberapa dari kami mengambil inisiatif datang ke rumah pengundang, pada Sabtu sore, sepulang kerja, lebih awal. Pemilik hajat, juga teman sekantor.

Kami duduk bersila di karpet di ruang tamu rumah pemilik hajat. Ngalor ngidul pembicaraan terjadi di antara kami. Tuan rumah menyajikan minuman ke hadapan kami. Seingatku air minum kemasan cup. Beberapa di antara kami mulai meminumnya. Haus. Pembicaraan dilanjutkan. Sampailah di suatu titik, temanku pemimpin rombongan melihat aneh padaku. Aku sedikit menangkap makna “tidak ada gunannya lama lama di sini”.

“Kami pamit dulu Pak”, tiba tiba temanku mengambil keputusan. Berdirilah kami hampir serentak, bersalaman dan pulang.

“Makanya kalau mau kondangan niatnya jangan mau makan aja”, seorang di antara kami langsung nyelutuk begitu mobil dijalankan. Komentarnya langsung disambut tawa riuh kami.

“Siapa yang belum makan siang?” Kami tambah ngakak, karena semua kami sudah meniatkan makan besar di kondangan, sehingga tidak makan siang tadi di kantor.

“Rasain, makanannya belum masak. Kue belum sempat dibeli”. Kami tak hentinya tertawa sampai akhirnya berpisah menuju rumah masing-masing.

Kondangan yang lain tak ada lagi yang spesial. Namun aku melihat adanya perubahan trend. Dulu masih ada tulisan di undangan “Tanpa mengurangi rasa hormat, mohon agar hadiah tidak berupa barang”. Sekarang itu tak ada lagi dan tampaknya kita sudah bisa menerima budaya amplop.

Hal lain, dulu aku selalu bisa duduk ketika makan. Tidak perlu rebutan kursi. Sekarang, aku harus sigap mencari kursi kosong. Jika tak kebagian kursi, tak jarang aku pergi ke luar ruangan acara dan duduk di tumpukan barang barang catering. Yang paling sering adalah di atas peti penyimpan piring gelas. Sedihnya, ada kursi kosong yang tidak boleh diduduki yaitu kursi yang khusus diperuntukkan bagi anggota keluarga pengantin.

Dulu makanan yang disediakan cukup nasi dengan pilihan beberapa lauk dan dessert. Sekarang, menu semakin beragam. Istilahnya pondok atau saung. Tetapi sering terjadi “persaingan” di pondok pondok itu karena jumlah makanan yang tersedia sedikit.

Dulu tidak ada atau jarang ada souvenir pernikahan. Sekarang selalu ada, yang kadang aku tak paham untuk apa. Bulan lalu aku dapat biji kopi yang sudah disanggrai. Menurutku itu untuk pengharum ruangan.

Yang tak pernah berubah dari budaya kondangan adalah piring dan mangkok kotor di mana mana. Pada sebagian besar piring dan mangkok itu masih terdapat sisa makanan. Sebagian kuperhatikan ada yang tak disentuh. Andai makanan itu masih baik, bukan sisa, banyak pemulung atau pengemis yang bisa makan enak pada setiap pesta. Khusus soal menyisakan makanan ini, Aa Gym pernah memberikan pesan singkat kepada tamu pada pernikahan anaknya, agar para tamu menghabiskan makanan YANG DIAMBIL ke piring.

Bandung, 17 Oktober 2015
Lisa Tinaria

Rate this article!
KONDANGAN,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply