Ketika Berpisah Ruang dan Waktu

Sudah sewajarnya tiap pasangan yang sudah menikah, hidup seatap. Namun adakalanya keadaan yang memisahkan, misalnya karena pekerjaan pasangan yang mengharuskan hidup terpisah. Namun, semestinya ini tak menjadi kendala dalam berkeluarga. Banyak contoh pasangan yang tetap harmonis, meski harus terbentang jarak di antara mereka.

Berikut ini adalah 10 tips bagi pasangan yang menjalani LDR (Long Distance Relationship), lagi-lagi based on my true story.

  1. Titipkan dia pada Illahi. Sebaik-baik penjaga adalah Yang Maha Kuasa. Hindari berprasangka buruk dan percayalah padanya. Bahkan yang hidup serumah saja tidak bisa berada 24 jam seumur hidup bersama pasangan masing-masing, kan? Maka yang bisa kita lakukan adalah selipkan doa untuknya setiap kali beribadah.

 

  1. Menjaga kepercayaan kedua belah pihak adalah hal vital dalam hidup berumahtangga. Selain kita yang harus senantiasa berpikiran positif terhadap pasangan. Begitu pula mulai dari diri kita, menjaga kepercayaannya pada kita. Ingatlah selalu, kau hanya menuai apa yang telah kau tanam.

 

  1. Jaga komunikasi. Keep in touch. Di masa kini, jarak sudah tak menjadi masalah. Menjamurnya gadget memudahkan kita. Sosial media banyak yang bisa dimanfaatkan. Ada juga fasilitas video call. Selalu beri kabar tentang apa saja, tentang pekerjaan kita, tentang anak-anak. Libatkan pasangan, karena dia sudah bagian dari hidup kita. Bayangkan di masa lalu, masa belum ada gadget, komunikasi hanya lewat surat-menyurat. Aku pernah mengalami juga tuh! (ini curcol namanya, hehe)

 

 

  1. Harus tetap ada pertemuan berkala sesuai kemauan. Aku masih termasuk beruntung karena hanya berbeda kabupaten. Suami rutin pulang setidaknya seminggu sekali. Saudaraku ada yang berbeda pulau dengan pasangannya. Jadi setidaknya dua kali dalam sebulann baru bisa bertemu. Apapun itu, tetap wajib rencanakan pertemuan rutin dengan pasangan. Kalau bisa, jangan sampai lebih dari tiga bulan tidak bertemu. Terutama kalau anak-anak masih kecil, masih butuh perhatian lebih dari kedua orangtua.

 

  1. Menjadi sahabat, orang pertama yang tahu ketika pasangan mempunyai masalah. Ketika sudah hidup berumahtangga, cinta saja tidak cukup. Romantika bisa saja makin lama buyar. Namun saat kita mampu memposisikan diri sebagai sahabat, tak hanya sebagai istri maupun suami. Hubungan akan jauh lebih abadi. Berusaha untuk tingkatkan empati. Kalau boleh jujur, tidak ada yang suka hidup terpisah, kan? Begitu pula dengan pasangan kita.

 

 

  1. Fokus pada pekerjaan dan kewajiban kita. Sekalipun saat belum mempunyai anak-anak, saya berusaha untuk fokus pada aktivitas. Menyibukkan diri saat merasa sepi. Dengan begitu rasa rindu tidak akan terlalu menyiksa diri. Dan pasangan kita pun akan lebih menyukai saat istri/suaminya menjadi lebih produktif.

 

  1. Ambil sisi baiknya saat hidup berjauhan, yaitu menjadikan kita lebih mandiri. Pengalaman pribadi juga ini. Sebagai orang yang tidak bisa bawa kendaraan, bergantung antar jemput suami saat hendak bepergian. Terasa sekali adaptasinya, begitu suami dipindahkan lokasi kerja. Jadi terpikir, suatu saat harus bisa bawa kendaraan sendiri. Apalagi sekarang bertambah kegiatan, antar jemput anak sekolah juga. Contoh lainnya, hal-hal kecil seperti mengisi pulsa listrik, beli beras, memperbaiki kran, dll, kalau bisa dilakukan sendiri, kenapa harus tunggu suami?

 

 

  1. Ingatlah, adakalanya pekerjaan mengalah. Misalnya ketika anak sakit, mengharuskan opname. Atau waktu saya melahirkan kedua anak saya. Tentunya suami mengurus cuti untuk menemaniku. Jadi, walau terpisak jarak, jangan menghalangi diri melakukan peran utama untuk keluarga kita.

 

  1. Berbagi cerita dengan sesama pasangan yang LDR. Ada banyak sebenarnya yang senasib sepenanggungan. Carilah teman sesama yang menjalani hubungan jarak jauh ini. Kita bisa berbagi pengalaman masing-masing. Dan bersyukur, kita tak pernah sendiri.

 

 

  1. Jangan menikmati kesendirian kita. Yup. Meski keadaan hidup berjauhan tidak dapat dihindari, kita harus senantiasa tetap menjaga kerinduan kita. Jangan sampai perasaan itu akhirnya padam karena telah terbiasa tanpa dirinya. Jika sampai kita lebih nyaman tanpa pasangan, coba diingat-ingat lagi alasan kita mau menikah dengannya. Diingat-ingat lagi kenangan indah bersamanya, tumbuhkan lagi api asmara itu. Bukankah dalam menikah jangan hanya tahu rasanya jatuh cinta, tapi juga paham bagaimana membangun cinta.

 

Rate this article!
author

Author: