KERUPUK

KERUPUK

Anik mengusap peluh di keningnya yang hitam. Sudah sejak matahari terbit dia berada di bawah matahari. Tadi ketika sang surya baru mengintip, sejuk masih terasa. Sekarang, menjelang tengah hari, panas menyengat punggungnya.

Dibaliknya kerupuk singkong di atas tampah besar, satu per satu. Ada sekitar dua puluhan tampah berjejer rapi di halaman depan rumah beratap seng tua itu. Anik mengernyit ke arah matahari. “Hampir jam sebelas”, katanya bergumam sendiri. Dia membalikkan badan, kembali memghadap jemuran kerupuk. Masih tujuh tampah lagi yang belum dibalik.

Lambat dia bangkit dari posisi berjongkok. Berkelebat di pikirannya peer matetimatika yang belum tuntas, singkong di dapur yang belum dikuliti, yang berarti belum diparut, belum dibumbui, belum dibentuk bundar tipis, belum dikukus, belum…, belum…, segala belum. Dia memegang keningnya merasakan denyut di pelipisnya.

“Mbok, aku siap siap ke sekolah”, Anik menemui ibunya yang lusuh, di dapur berlantai tanah. Udara di dapur terasa lebih panas, karena asap kayu bakar terkungkung di bawah atap seng. Si perempuan paruh baya yang penuh kerut itu menoleh kepada anak gadisnya yang terbakar matahari itu. Dia sedang duduk di atas dingklik mencetak kerupuk singkok; menipiskan adonan singkong pada cetakan seng bundar. Sementara tangannya sesekali membuka tutup dandang, memeriksa apakah adonan singkong tercetak bundar dalam dandang, sudah matang.

“Ya Nduk, kamu sekolah dulu”. Tangan kanannya tiba tiba mengeluarkan sebagian kayu dari tungku. Api besar hampir menjilat kain sarungnya yang sudah tak jelas warnanya. “Nasi dingin ada Mbok sisihkan tadi pagi. Kamu belum makan tadi kan? Ada kerupuk dan sambal trasi.”

Sambal selalu ada. Warnanya mengarah hitam karena dibuat dari cabe rawit yang sudah kering yang hampir dibuang penjualnya. Krupuk selalu tersedia. Hari ini kerupuk dari singkong yang diparut. Ada juga variasi singkong yang diiris begitu saja, tipis, diberi garam, dan digoreng balado. Jika ada kelebihan uang dari berjualan kerupuk, ada harapan akan ada lauk ikan asin kecil kecil yang digoreng kering. Menu paling jarang adalah dadar telur. Bagaimanapun kerupuk adalah menu utama, untuk menyiasati sisa kerupuk yang tak terjual.

Dua beranak itu saling memandang beberapa detik. “Uang ujianmu, nanti akan si Mbok carikan pinjaman di pasar. Insyaallah ada sore ini.”

Mata Anik terasa panas. Lusa hari pertama ujian akhir di SMPnya dan bu Puput, wali kelasnya memberi waktu sampai besok untuk pendaftaran ujian. “Ya Allah, beri aku kesempatan” Anik membatin. Tersayat.

Si Mbok cepat membalik mukanya ke arah dandang. Dia tak ingin anak gadisnya melihat tetesan air di pipinya. Wajah almarhum suaminya, uang ujian, kerupuk singkong, atap bocor di ruang tengah, rok sekolah Anik yang kependekan, bergantian melintas di benaknya. “Ya Allah, berikan kesempatan itu”, doa seorang si Mbok.

Anik sudah memegang piring kaleng berisi nasi dingin, sambal kehitaman dan kerupuk singkong bundar. Dia mengambil satu dingklik lagi dan duduk di dapur, takzim menghadap si Mbok. Nasi dan lauk kerupuk itu disuapnya dengan lahap, lahap yang sama selama lima tahun terakhir. Pemandangan itu hampir menimbulkan air di sudut mata si Mbok. “Hari ini dan besok dan besok, itu `pilihan` lauk yang ada”, batinnya bangga bisa memberi makan anaknya.

“Anik pamit Mbok” Anik sudah berjalan mengambil tas kresek, tempat membawa bukunya. Si Mbok bangkit dari dingklik dan susah payah meluruskan punggung. Dia berjalan terbungkuk ke pintu depan mengiringi putrinya. Anik mencium tangan kasar keriput, yang setiap hari memarut singkong itu. Mata keduanya beradu pandang. “Doakan Anik ya Mbok, bisa ujian”.

Si Mbok mengusap punggung anaknya, tak mampu berkata. Anik berjalan menjauhi rumah sementara si Mbok cepat membalik punggung. Sekarang si Mbok punya waktu bebas. Bebas dari belenggu penglihatan anaknya. Bebas untuk menangis terguguk. “Ya Razak, ya Razak, …” permintaan tak terkatakan mengalir di hati si Mbok. Perih sekaligus membebaskan.

Bandung, 3 Nov 2015.
Lisa Tinaria

Rate this article!
KERUPUK,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply