Kerennya Eyangku di 30-an

Penulis. Terlalu banyak suara yang pada waktu itu ku dengar, penulis. yach..! profesi penulis. dan mungkin terlalu banyak juga buku fiksi yang terbaca, memahami alur cerita para penulis keren, novel-novel hebat zamanya sesuai angkatannya. Semua buku tebal-tebal itu tak sekedar hanya demi nilai A di kampus. On the fire niat yang menggebu untuk jadi penulis tiba-tiba ngeblur samar dan sama sekali hilang begitu saja. Mungkin waktu itu keberatan di teori, padahal sebagai fresh graduate, masih belum lupa teori tentang menulis. Menulis fiksi dan non fiksi tidak pernah lepas dari kemenarikan topik dan judul, kaya akan referensi, dan memperhatikan sistematika penulisan sesuai dengan karakteristik fiksi maupun nonfiksi dengan memperhatikan diksi, dari teori Groys Keraf, teori koherensi dan kohesi nya Brown dan Yule dan gaya bahasa, makna kata sebagai modal penulis.

Wage Rudolf Soepratman atau bapak W.R. Soepratman (9 Maret 1903, Jatinegara, Batavia – 17 Agustus 1938, Surabaya) adalah pengarang lagu kebangsaan Indonesia, “Indonesia Raya“. Meskipun pengarang belum sempat berkeluarga, tetapi karyanya menjadi lagu wajib yang harus diresapi dan dinyanyikan oleh seluruh Warga Negara Indonesia, bahkan dinyanyikan dalam even tertentu di luar negeri. Sesuatu yang membanggakan bagi keturunan saudara kandung bapak W.R Soepratman`

Mengabadikan karya melalui menulis dan menghasilkan buku untuk anak cucu bahkan buyut seperti abadinya karya bapak W.R Soepratman. Itulah salah satu alasan kenapa harus nulis. Keyakinan tetap ada bahwa akan ada kesempatan itu kembali On the fire, yach sekarang dan untuk kebaikan Allah Swt pasti mengijinkan. Bukan deposito, tanah, ruko, usaha keluarga, tapi beberapa buku tertata rapi fiksi dan non fiksi dengan topik- topik populer, dan tidak meminta semua yang ada di rak buku tertulis BEST SELLER, beberapa saja tulisan itu yang penting dua baris penuh di rak buku  tercetak namaku. Tidak perlu anak-anak, cucu-cucu ku tahu bagaimana arti perjuangan hidup dari cerita di meja makan, tapi mereka harus tahu bagaimana banyak orang yang tersentuh dan melakukan perubahan setelah membaca tulisan Eyangnya yang dimulai dari umur 30-an. Kepala tiga yang cukup terlambat, menyadari bahwa dengan menulis adalah cara menuju Istiqomah, biasalah penyesalan pasti di belakang, kalau di depan namanya DP (just kidding). tidak masalah terlambat daripada tidak sama sekali. Istiqomah untuk menjaga amanah (keluarga) yang dititipkan Allah SWT, istiqomah untuk mencari rizqi bukan mencari nafkah yang terbingkai. Bismillahirahmanirohim…

Rate this article!
Kerennya Eyangku di 30-an,5 / 5 ( 1votes )
Tags: