Kenapa saya menulis?

Kenapa saya menulis??

Bismillah…

“Iqro” Bacalah…. Ayat pertama yang ALLAH turunkan kepada RasulNya Muhammad SAW ini menjadi alasan pertama saya kenapa harus menulis. Sebagai hamba ALLAH dan umat Rasulullah SAW melaksanakan perintahNya adalah suatu kewajiban yang harus ditunaikan. “Bacalah” ALLAH memerintahakan kita untuk membaca, membaca tidak sekedar kegiatan membawa buku teks saja tapi membaca dalam artian luas, membaca ayat-ayat ALLAH yang ada di muka bumi ini dengan menghayati, merenungi, mentafakkurinya dan mengambil ibrah (pelajaran) darinya. Membaca kitab tentu saja menjadi salah satu jalan dalam menjalankan perintah iqro’ itu dan kitab/buku/tulisan itu tidak akan ada jika tidak ada yang membaca dan menuliskannya.

Selalu teringat dalam benak saya “Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya” quote ini terasa sangat tepat, ilmu akan mudah lepas tanpa diikat dengan tulisan. Seberapa mampu ingatan kita sebagai manusia? Tentu ada batasnya. Menuliskan ilmu juha akan mengajarkan kita berbagi. Ilmu-ilmu yang tertuang dalam tulisan nantinya tidak hanya menjadi konsumsi kita tapi akan menjadi warisan kepada anak cucu kita kelak. Salah seorang penulis, Hernowo, dengan bukunya Mengikat Makna dengan jelas menjelaskan bahwa ide-ide atau makna-makna yang kita dapatkan akan lepas jika kita tidak mengikatnya dengan tulisan. Dan keadaan itulah yang saya rasakan, terkadang menemukan ide/makna tapi karena tidak menuliskannya menjadikan ide itu menguap, makna itu lepas, ilmu itu hilang. Dan yang rugi siapa? Tentu saja saya pribadi dan ternyata setelah merenunginya kerugian itu tidak cukup kepada saya saja tapi berimbas kepada anak-anak, kepada orang di lingkungan saya, orang-orang yang berhak terhadap ilmu itu. Sejauh itukah pengaruhnya? ya. Apa jadinya seandainya tidak ada Rasulullah yang mengajarkan kita tentang dien ini? Apa jadinya jika tidak ada para sahabat yang menuliskan petunjuk hidup kita kitab Al Qur’an? Apa jadinya jika para ulama tidak menulis kitab? Apa jadinya jika orang-orang berilmu tidak menuangkan ilmu yang dipahaminya dalam tulisan? Apajadinya jika sejarah-sejarah kejadian yang lalu tidak ada yang menuliskannya? Proses iqro itu akan terputus, dan mungkin peradaban kita akan hancur ataupun ada tapi terpuruk dalam kemiskinan ilmu. Peradaban ini memang harus dibangun dengan imu yang benar dan sesuai dengan petunjuk ALLAH. Dan yang bersiap melakukannya itu pasti banyak.

Sekarang tinggal saya memilih, saya mau menjadi penonton pembangunan peradaban ini atau ikut andil menjadi pelaku. Salah satu jalannya dengan menulis dan  menjadi penulis. Saya pahami ini jalan yang tidak mudah akan banyak rintangan tapi keyakinan itu ada jika meniatkannya untuk ALLAH, insya ALLAH, akan diberi jalan dan akan dimudahkan selama tetap berikhtiar. Salah satu jalan itu dengan bergabung di KMO ini, bagi saya ini adalah jalan yang ALLAH tunjukkan untuk memaksimalkan ikhtiar saya menjadi seorang penulis. Menulis akan menjadi sarana saya untuk belajar sehingga mampu mengajarkannya lagi kepada anak-anak saya dan orang-orang di sekitar saya. Sebagai seorang ibu, seorang wanita, seorang muslimah ada peran yang diemban dan semoga dengan menulis, ilmu untuk menjalankan peran itu bisa saya pelajari.

Ini tentang komitmen… ini tentang cita-cita…semuanya harus diperjuangkan.

Mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok (Hasan Al Banna)

Iqro’ Bismirabbikal a’la… Ridhoi ya ALLAH….
NUR IKRAR AISFAR – KMO 08A

Rate this article!
Kenapa saya menulis?,5 / 5 ( 1votes )

Leave a Reply