Kenapa Harus Nulis?

Sebab saya merasa harus berbuat sesuatu untuk membaikkan generasi, membaikkan banyak perempuan, dan mengingatkan saya untuk selalu istiqomah di jalan kebaikan.

Saya tidak bisa menutup mata tentang betapa dininya anak-anak masa kini terpapar dampak negatif dari gadget hingga pornografi. Bila sejak kecil saja mereka sudah rusak, dan tidak ada yang mengambil peran untuk membaikkan mereka, apa kabar dunia ini di masa depan untuk anak-anak kita tinggali? Saya ingin anak-anak kembali kepada kecintaannya pada ilmu, pada buku, dan pada dunia bermain yang rill dan mencerdaskan. Atas hal ini, saya ingin misalnya, menulis cerita anak-anak yang memiliki value yang baik untuk mereka bertumbuh, atau saya ingin menulis tentang pentingnya adiksi terhadap bacaan bagi anak, untuk menyadarkan para ibu.

Saya juga tidak bisa menutup mata tentang perempuan-perempuan yang sengaja digempur oleh gaya hidup yang menomorsatukan tampilan lahiriah, dan haus akan kesenangan duniawi. Saya membayangkan bahwa kerusakan pola pikir dan ppola hidup ini akan sangat fatal apabila remaja-remaja dan perempuan-perempuan muda ini kelak akan menjadi seorang ibu. Ia akan mendidik generasi, maka bagaimanakah ia mampu jika ia tidak mengilmui hal tentang bagaimana mendidik anak, dan malahan lebih habis waktunya memenuhi hasratnya saja atas dunia ini? Kemana anak-anaknya kelak menggelayut meminta didikkan? Kepada siapa pengasuhan anak-anaknya diserahkan? Apa kepada gadget dan materialisme yang sama sebagaimana ia jalani? Maka saya merasa rantai setan ini harus diputus. Dengan menulis sesuatu yang menyadarkan para perempuan atas betapa berharganya mereka, pentingnya ilmu bagi mereka, peran mereka yang sangat vital dalam mendidik generasi, dan tidak perlunya mengejar pemenuhan haus diri akan materialisme. Sepengamatan sederhana saya, jika ibu di suatu rumah itu baik, dan bahkan sholihah, maka dua tugas sekaligus telah dibantu penyelesaiannya. Tentang membaikkan generasi dan masyarakat.

Dalam kegiatan menulis yang saya sukai, saya merasa diharuskan menulis yang baik-baik karena identitas saya sebagai muslimah. Juga sebagai pengamalan saya akan Qur’an surah Al-Ashr, “tawashow bil haq wa tawashow bish shobr”

; saling mengingatkan dalam kebaikkan dan dalam kesabaran. Dan yang paling membuat saya kecanduan dalam hal saling nasihat menasihati ini adalah paradoksisasinya; kita menulis tentang mengingatkan seseorang kepada Allah misalnya, di sisi lain justru kita yang merasa sungguh diingatkan dan ditampar-tampar sendiri oleh apa yang kita tuliskan. Orang pertama yang merenung sungguh dalam akan isi tulisan kita adalah diri kita sendiri. Itulah poinnya dimana saya merasa harus menulis, karena ternyata manfaat paling besarnya adalah untuk diri saya sendiri; menjadi pengingat diri untuk selalu istiqomah di jalan kebaikkan, selaras dengan apa-apa yang saya tulis. Sederhananya, menjalani dengan segenap hati apa yang saya tulis. Apa yang kita sampaikan dari hati akan sampai ke hati, kan? Jika ke hati sendiri saja belum sampai, bagaimana bisa sampai ke hati orang lain?

Sejatinya tulisan sering saya jadikan cermin untuk berkaca, dan parameter perubahan saya dalam menjadi manusia yang lebih baik dari ke hari. Saya menyenangi kegiatan membaca tulisan-tulisan lama yang pernah saya tulis, kemudian merenungi; sudah sejauh apa saya selama ini mengamalkan dan sekuat tenaga berusaha mengamalkan isi yang sudah saya tuliskan? Saya yakin akan satu aspek itu: apabila kita menjiwai apa yang kita tuliskan, kita sendiri tersentuh dengan apa yang kita tulis, dan berusaha mengamalkannya, insyaaLlah tujuan kita tentang menulis untuk membaikkan generasi, membaikkan para ibu bagi generasi, akan sejalan dengannya.

Rate this article!
Kenapa Harus Nulis?,5 / 5 ( 1votes )

Leave a Reply