Kenapa Harus Menuruti Ajakanmu?

Tampak wajah semeringah, sorot mata berbinar dan senyum mengembang senantiasa mengiringi pelukan hangat dari setiap orang yang bertemu denganmu. Berkali-kali pula tanganmu memberi tanda penolakan halus atas berbagai hasil kebun dan makanan khas pedesaan yang hendak diberikan saat pamit. “Bukan menolak rezeki, tapi bagaimana kami hendak mengangkutnya bila semua pemberian diterima,” begitulah kalimat andalan sebagai alasan sikapmu. Semua itu bagian yang selalu kutemui bila menemani ibu berkunjung kepada saudara atau kerabat. Tidak ada yang berbeda sekalipun almarhum ayah sudah meninggakan kami lebih dari 20 tahun.
Rasa haru menyelimuti dan membuat dada terasa sesak. Sekuat tenaga aku berusaha agar genangan air mata tidak jatuh dari kelopak mata. Ada sesal bercampur sedih muncul dalam hati. Kenapa baru kali ini aku bisa menangkap situasi indahnya persaudaraan. Sesaat muncul dalam ingatan berbagai alasan dan taktik yang berhasil kugunakan agar bisa menghindari ajakan bersilaturrahmi. Aku telah berbuat salah. Astaghfirulah.
Terimakasih Ibu. Berkat kecerdikan dan ketegasan sikapmu akhirnya aku selamat dari kekeliruan. Sekarang aku mengerti maksud dari tindakanmu yang semula kuanggap berlebihan. Rupanya rasa persaudaraan yang tulus terpancar dari mereka adalah buah manis pelaksanaan perintah Allah menjalin silaturrahmi. Memanfaatkan hari libur hanyalah salah satu moment untuk mewujudkannya. Baik dengan saudara dari ibu ataupun dari ayah. Penjelasan yang kau berikan tentang dimana letak posisi kami dalam garis keturunan dengan saudara yang dikunjungi turut berperan penting. Dengan memahaminya, kami jadi tahu hak dan tanggungjawab dalam segala hal yang menyangkut urusan beluarga besar.
Bu, bantu kami dalam menjalankan ketaatan kepadaNya. Didikanmu menjadi modal dasar dalam keselamatan hidup dunia dan akhirat kami.

Rate this article!
Tags:

Leave a Reply