Kenapa harus menulis? Ratih Kusumawardhani Kelompok 08B

Pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang di kepala saya.

Sejak almarhum ayah saya masih ada, beliau selalu menganjurkan saya untuk menulis, menulis dan menulis, mungkin karena beliau berprofesi sebagai seorang penulis sehingga ingin anaknya mengikuti jejaknya.

Berulang kali saya mengacuhkan anjuran beliau untuk mencoba menulis tetapi berulang kali pula saya mencoba untuk menulis, minimal membuat sebuah tulisan sederhana berbentuk cerpen yang walaupun pada akhirnya saya buang kembali kertas-kertas hasil karya itu ke tempat sampah karena menurut saya tulisan saya itu jelek dan tidak sesuai dengan aturan-aturan menulis yang ada di buku-buku metode menulis yang dibelikan ayah saya.

Ayah saya tidak pernah menyerah mendorong saya, dari membelikan sejumlah buku-buku metode menulis dari penulis-penulis terkenal hingga mendaftarkan saya untuk mengikuti kelas penulisan singkat bersama Sitta Karina, hingga akhirnya pada suatu ketika saya melihat Raditya Dika yang begitu berhasil dan menjadi terkenal hanya dengan menjadi seorang penulis.

Entah kenapa, sosok Raditya Dika begitu menginspirasi saya untuk mencoba kembali mencoret-coret kertas menuliskan ide-ide yang datang di benak saya dan merangkainya menjadi sebuah kalimat-kalimat yang untuk saat ini saya mengacuhkannya apakah kalimat itu benar atau salah, jelek atau bagus.

Oke, memang awal motivasi saya menjadi penulis adalah untuk menerbitkan sebuah buku, minimal cerpen yang bisa membuat saya terkenal dan menghasilkan uang dari karya saya itu. Maafkan jika motivasi saya itu keliru, tetapi itulah yang saya lihat. Dengan menulis seseorang penulis bisa terkenal, bukunya menjadi best seller dan digemari banyak orang seperti J.K Rowling. Walaupun disisi lain saya tahu menulis adalah cara kita mengungkapkan sesuatu kepada seseorang yang tidak bisa kita ungkapkan melalui komunikasi secara lisan. Menuangkan segala pikiran kita ke dalam sebuah tulisan karena tulisan bersifat abadi, walaupun kita telah tiada.

Dengan menulis kita bisa melepaskan beban jiwa sehingga kita bisa bahagia dan hati menjadi lega. Dengan menulis kita bisa memotivasi seseorang, mencegah seseorang bunuh diri karena sakit hati dan putus asa sehingga orang yang membaca tulisan kita menjadi bangkit kembali dari keterpurukan dan mencoba meraih asa kembali.

Pada awalnya saya memang hanya tertarik membaca karena almarhum ayah saya banyak membelikan buku-buku bacaan fiksi karangan Enid Blyton sejak saya kecil hingga akhirnya saya membeli sendiri novel fiksi Sitta Karina, novel Kambing Jantan Raditya Dika dan Harry Potter nya JK. Rowling dan akhirnya tertarik untuk mencoba menulis. Saya sadari dari membacalah kita bisa mendapatkan ide menulis dan bahan untuk membuat tulisan. Menulis dan membaca adalah sesuatu yang saling berkaitan satu sama lain, jika kita ingin menulis maka kita harus membaca maka itu ada slogan untuk membudayakan membaca dimanapun karena dengan membaca kita mendapatkan pengetahuan yang luas, membuka cakrawala wawasan kita dan dengan membaca kita dapat menjangkau belahan dunia lain. Mengetahui  berita, budaya dan dongeng-dongeng negara lain.

Makanya Allah SWT pertama kali mengajarkan nabi Muhammad SAW untuk ‘Iqro’ yang artinya membaca karena dengan membaca kita bisa belajar segalanya, mengerti segala hal yang akhirnya bisa dituangkan menjadi tulisan untuk berbagi ilmu pegetahuan, berbagi kebaikan yang bisa menjadi menambah pahala kita di sisi Allah SWT, insya Allah.

Sekian dari ratih, terima kasih

Ratih kusumawardhani

Jakarta, 16 Desember 2016.

 

Tags: