Kenapa Harus Menulis? Menulis, Menuangkan Mimpi

Keinginan saya untuk menulis, dimulai dengan keasikan saya membaca buku. Waktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ada pelajaran perpustakaan yang mewajibkan murid-murid untuk membaca macam-macam buku dan menulis rangkumannya. Terpaksa saya harus rajin baca buku, mulailah dengan memilih buku-buku dengan judul yang menarik. Setelah itu, membaca jadi hobi saya yang nomer satu. Ternyata membaca buku itu bisa menjadi hobi karena terbiasa, dibiasakan membaca.

Ketika membaca, dunia di sekeliling saya berubah menjadi dunia petualangan, saya bisa menjelajahi waktu secara romantis bersama novel karya Remi Silado, saya ikut bertualang mencari pelaku pembunuhan dalam buku Agatha Christie, ikut berjalan- jalan di penjuru kota dunia bersama The Naked Traveler, tahu sejarah Jepang dengan membaca Taiko, semua buku membuka jendela pikiran saya, menambah wawasan, melunakkan lidah yang kelu dan menyingkirkan sedikit keminderan serta kebodohan.

Setelah puas membaca, hasrat selanjutnya adalah adanya keinginan untuk bisa berbagi cerita kehidupan maupun fantasi yang menari-nari di kepala, keinginan untuk mencurahkan isi hati dan kepala, semuanya harus dituangkan lewat tulisan.

Sebuah diary, menjadi Kanvas putih ideal untuk saya corat-coret dengan kata-kata yang tidak beraturan, pertama kali belajar dengan mencurahkan seluruh perasaan lewat tulisan, seperti istilah freewritting dalam dunia penulisan.

Kenapa harus menulis? Bagi saya pribadi, menulis itu membawa ketenangan jiwa. Selain itu, menulis ternyata banyak manfaatnya, seperti membuat kita lebih produktif, lebih kreatif, belajar lebih bersabar dan bisa mencegah pikun.

Setelah berkutat lama dengan menulis diary, ada keinginan untuk bisa menulis lebih baik tapi pada waktu itu belum banyak komunitas menulis seperti KMO ini, sehingga harus belajar secara otodidak. Banyak kesulitan yang dihadapi, pernah mengirim naskah novel tapi ditolak, rasanya mimpi menjadi penulis sudah menjauh, kandas.

Tapi karena keinginan yang kuat, masih mau mengejar mimpi menjadi penulis, akhirnya dipertemukan juga dengan komunitas menulis. Awalnya belajar menulis artikel 200-300 kata, sering dikoreksi oleh mentor, tapi dengan lebih sering menulis lebih banyak ilmu yang didapat dan hasilnya tulisan jadi lebih baik, lebih enak untuk dibaca.

Tulisan saya, tidak jauh dari apa yang saya alami sehari-hari, ditambah informasi dari berbagai buku yang telah saya baca. Lebih mudah mengawali menulis berdasarkan pengalaman pribadi. Seperti ketika saya ikut lomba sayembara menulis yang diadakan produk teh terkenal, tulisan saya terpilih untuk dijadikan buku antologi dan mendapat hadiah sebesar tiga juta rupiah…alhamdulillah, senangnya.

Proses belajar tidak pernah berhenti, karena rajin menulis di komunitas, saya pernah juara sebagai penulis produktif di bulan Juni dan mendapat hadiah sebuah logam mulia. Dan terakhir di bulan Desember 2016 ini, tulisan saya masuk sebagai finalis bersama 99 penulis lainnya untuk dijadikan buku antologi.

Suatu kebanggaan dapat mulai berprestasi di dunia tulis menulis, tapi merasa cepat puas dan berbangga diri akan menjadi sebuah penyakit yang menghambat untuk meraih mimpi. Saya ingin terus belajar, mengosongkan gelas sampai mimpi menjadi kenyataan, sebuah ikrar terwujudkan.

Leave a Reply