Kenapa Harus Menulis

Kawan saya yang baik ketika itu melemparkan pertanyaan pada saya perihal kehebohan tersendiri saya ketika sedang membaca buku. Bukan hanya satu kawan saya itu, tapi beberapa, dengan pertanyaan serupa. Maka saya menjawab, “penulis ini lewat tulisannya telah menghipnotis saya secara sadar”. Sangking hebatnya suatu yang saya rasakan hingga terlontar jawaban yang hiperbola. Tersiratlah respon yang – whatever – darinya kepada saya.

Saya punya beberapa kawan di kampus dengan warna yang berbeda-beda. Ada yang nasionalis, pecinta yang lebay, religius, orang luar, dan banyak rupa lagi. Warna-warna itu kebanyakan tekonstruksi dari apa yang mereka baca. Kawan saya yang suka membaca buku tentang biografi tokoh pahlawan nasional dan sebangsanya, maka terbentuklah dia menjadi orang yang nasionalis. Kawan yang lain, yang suka membaca novel dan buku-buku seputar percintaan, genre romace, ya jadilah dia seperti apa yang ia baca. Begitu pula dengan kawan-kawan saya yang lain. Saya ? saya suka baca buku yang sifatnya eksentrik karya orang-orang eksentrik juga pastinya, semisal Agus Mustofa, Emha Ainun Nadjib, Nugraha Wasistha, dan kawan-kawan, hehe.

Mengetahui yang demikian itu, saya berfikir tentang bagaimana dengan buku-buku yang isinya kurang bahkan tidak baik semisal tulisan atau buku yang dimaksudkan untuk propaganda dan sebagainya. Disitu saya mulai punya niatan untuk menulis. Ingin rasanya memberikan perlawanan atas hal tersebut dengan membikin tulisan-tulisan yang baik.

Bicara soal membaca dan menulis yang saling berkaitan, jadi ingat quran surah Al-‘alaq yang Tuhan menganjurkan untuk membaca, dan mengajarkan dengan pena (tulisan). Disitu saya menangkap pemahaman bahwa Tuhan memberikan contoh pada saya, kita, untuk mengajarkan kebaikan dengan pena atau tulisan. Memang dengan hanya mengajarkan lewat lisan, keorisinilan ilmu itu sendiri akan berkurang, beda dengan tulisan yang sampai kapanpun keorisinilannya terjaga. Jika kita bilang “A” kepasa seseorang, dan ilmu itu terus diturunkan, bias jadi “A” itu tadi akan berganti vocal menjadi “E”. Beda dengan tulisan yang jika disitu kita menulis “A”, maka seterusnya disitu akan tertulis “A”.

Dari situ kita sama-sama belajar menulis untuk menyebarkan kebaikan, yang niscaya kebaikan itu akan kembali pada diri kita sendiri berkali-lipat. Mari kita mula belajar bersama untuk menyemai benih kebaikan agar menuainya nati juga kebaikan. Dan jangan kita menyemai suatu keburukan yang nanti akan juga kembali pada diri sendiri, yang mungkin akan berdampak juga pada orang lain.

#Salam_semangat_menulis

Rate this article!
Kenapa Harus Menulis,5 / 5 ( 1votes )

One Response

  1. author

    Fadhilah Chasanah2 years ago

    Amazing!

    Reply

Leave a Reply