KENAPA DOA BELUM JUGA TERKABUL?

”…Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

(QS.Al-Mu’min : 60)

Doa apa yang selalu kita minta sehari-hari? Doa kedua orang tua, pasti lah ya… Apalagi? Doa mohon keselamatan dunia akhirat juga udah biasa juga kan? Setiap kita pasti memiliki keinginan tentang suatu hal. Sebagai seorang muslim keinginan itu seringnya dimunculkan dalam doa-doa, baik setelah shalat wajib, dalam salat-shalat Sunnah, bahkan ada yang mengkhususkan sampai shalat hajat demi sebuah keinginan tenrtentu. Apakah semua doa kita Allah kabulkan? Adakah keinginan dalam bentuk doa itu tidak dikabulkan Allah? Kira-kira kenapa Allah belum mengabulkannya? Apa yang harus kita lakukan di masa penantian jawaban doa?

Setidaknya ada 3 hal yang harus dilakukan dalam menanti jawaban doa-doa kita

  1. Pantaskan Diri

Allah belum menjawab doa kita karena Allah ingin melihat ikhtiar terbaik kita, seberapa keras kita berusaha menggambarkan seseungguh apa kita menginginkan sesuatu yang kita minta. Allah akan menunda memberi keinginan kita sampai dianggapnya kita ‘pantas’ mendapatkannya. Jadi…pantaskan diri…

  1. Terus MerayuNya

Allah belum menjawab doa kita bukan karena tidak sayang, justru saking sayangnya Allah dengan kita, Allah masih ingin mendengar permohonan kita dalam sujud-sujud panjang, dalam rintihan di sepertiga malam kita. Allah suka mendengarkan kita memohon dengan sungguh-sungguh, sampai saat yang tepat tiba, Allah akan berikan keinginan kita dengan yang lebih baik. Jadi… Terus merayuNya…

  1. Perbanyak Sabar dan Syukur

Allah belum menjawab doa karena keinginan itu memang tidak baik untuk kita. Mungkin kita akan semakin lalai jika diberikan hal itu. Mungkin kita akan menjadi sombong, dll. Intinya, ada hal lain yang lebih baik telah Allah siapkan. Jadi… Perbanyak sabar dan syukur…

Ada sebuah cerita fiktif yang bisa menjadi analogi dari jawaban doa seseorang. Ceritanya ada seorang  wanita yang sedang makan di sebuah warung pinggir jalan. Saat sedang ansyik makan, tiba-tiba seorang pengamen datang. Pengamen itu menyanyi dengan suara cempreng, secempreng bunyi gitar yang ia petik dengan asal. Wanita itu merogoh tasnya dan mengambil beberapa keping recehan dari dompetnya dengan harapan pengamen itu segera pergi. Di hari yang berbeda, wanita itu makan di tempat lain. Di depan warung makan itu, duduk seorang pengamen. Pengamen itu asik memainkan lagu yang sedang hits, menghibur para pelanggan yang sedang makan. Setelah makan para pelanggan akan berhenti dan memasukkan uang ke dalam kaleng yang ada dihadapan pengamen tadi. Tidak terkecuali wanita ini, dia memberikan uang lembaran Rp.5000, dia merasa senang karena si pengamen telah menyanyikan lagu kesukaannya tanpa mengusik selera makannya.

Berdasarkan cerita fiktif di atas, pengamen yang pertama adalah gambaran hamba yang tidak Allah cintai, lalu pengamen kedua merupakan gambaran hamba yang Allah cintai. Setiap hamba memiliki cara dalam memohon keinginannya. Pengamen pertama memohon dengan kesan yang ‘memaksa’ dan menimbulkan rasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan itu akhirnya membuatnya mendapatkan keinginan dengan segera tetapi seringnya jauh dari harapnnya secukupnya saja dan biasa. Berbeda dengan pengamen kedua, ia memohon tanpa memaksa, membuat senang sang pemilik, sehingga di saat yang tepat dia mendapatkan keinginannya, bahkan jauh lebih baik dari yang diharapkan.

Ada sebuah quote indah yang saya ingat. “Sebaik-baik ikhtiar adalah doa, dan sebaik-baik doa adalah ikhtiar. Jadi sebagaimana ikhtiar tidak boleh putus maka ikhtiarpun harus tetap terus.” Tetaplah berharap, pantaskan diri, dan tunggu jawaban terbaikNya. Wallahu’alam

Rate this article!
Tags: