KENAKALANKU HARI INI

KENAKALANKU HARI INI

Bagiku tidak perlu menunggu harus pulang ke rumah dulu, baru menunaikan sholat. Alhamdulillah. Pakaianku, terutama kerudungku kupakai dengan cara sedemikian rupa, sehingga aku bisa sholat di mana saja. Artinya, aku tidak membutuhkan mukena. Akibatnya, gelantungan atau tumpukan mukena di masjid atau musholla, hampir tidak menjadi perhatianku. Namun, perhatianku hari ini lain.

Yang kubutuhkan, seperti biasa, adalah ruang sholat. Kecil pun, tak mengapa. Sudah biasa. Alias itulah yang tersedia umumnya di mall megah sekalipun. Kecil, di basement, di sudut pula, di dekat mesin outdoor AC. Plus bau. Namun, bau kali ini lain.

Aku belum lagi masuk ke ruang kecil musholla, ketika bau itu menyeruak. Aku melewati ruang sumpek itu dalam perjalanan ke toilet. “Belum masuk saja, baunya sudah begini. Bagaimana di dalam nanti?” batinku. Apa boleh buat aku masuk juga akhirnya aku ke sana. Dengan memakai konsep “alah bisa karena biasa”, alhamdulillah, aku bisa bernafas di ruangan kecil itu.

Berdasarkan pengalamanku, penyebab bau biasanya karpet atau keset basah yang dibiarkan kering di dalam ruangan. Atau mukena bekas pakai, yang biasanya juga basah dan kering dalam tumpukan sesamanya. Aku amati, karpet tempat sholat, jauh dari pintu masuk yang berarti cukup kering. Aku tidak mencium bau apek ketika sujud. Dalam sholatku yang kurang khusyuk itu, aku mencurigai gantungan dan geletakan kain parasut warna warni di sebelah kananku. Yang membuatku tambah tidak khusyuk adalah seorang wanita muda memakai rok super pendek yang sholat memakai salah satu dari kain warna warni itu. “Koq bisa ya, sholat pakai mukena itu. Kenapa koq nggak bawa mukena?”. Pikiranku semakin liar dalam sholat itu. Astaghfirullah.

Akhirnya aku selesai juga sholat. O ya, dalam sholat tadi aku berkesimpulan bahwa penyebab super bau adalah sang mukena. Dalam sholat juga, aku memgambil keputusan bahwa mukena itu harus kubuang!

Tidak ada lagi perempuan yang sholat di tempat itu. Si noni sudah pergi. Dia sempat menyemprotkan parfum ke badannya sebelum pergi. Mungkin untuk menetralisir bau mukena yang tinggal di leher dan kepalanya. Ruang laki-laki dipisahkan dengan gorden. Sudah tak ada orang di sana. Aku mengambil satu mukena dan menciumnya! Wueeek. . ! ! ! Untunglah aku tidak muntah. Cepat kuambil, entah empat entah lima mukena saja. Lalu kumasukkan ke kantong plastik bekas aku membawa air minum botol kemasan. “Uang dua ratus perak pembeli kantong plastik tadi, berperan lebih penting sekarang”, batinku. Isi kantong kupadatkan. Agar tak dicurigai orang, aku masih sempat berpikir untuk memasukkan buntalan kantong plastik itu ke tas tanganku. Tasku menggembung, sehingga tak bisa di-ritsleting. Aku menjepit tasku di ketiak, terlindung di bawah kerudungku, kemudian berjalan cepat melewati orang-orang.

Singkat kata, setelah berjalan beberapa puluh meter dari mall itu, aku menemukan tempat sampah dan membuangnya. Aku cium tanganku. Iiiii….hhh baunya tertinggal di tanganku.

Sejujurnya aku sudah melakukan pencurian ya Allah. Tetapi aku berjanji akan menggantinya. Aku akan ganti mukena itu dengan yang berwarna terang, agar kelihatan cepat kotor. Jika perlu, mukena itu akan kutulisi dengan spidol permanent ink “Please, cucilah aku seminggu sekali”.

Bandung, 28 05 2016
Lisa Tinaria

Rate this article!
KENAKALANKU HARI INI,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply