KEEGOISAN DIRI YANG MEMBELENGGU

KEEGOISAN DIRI YANG MEMBELENGGU

BISMILLAH…

Artikel saya kali ini diambil dari kisah perjalanan kehidupan saya sendiri,hidup dengan keegoisan diri mendatangkan malapetaka bagi diri sendiri dan orang lain. Saya baru sadar kalau diri ini adalah egois ketika belajar lebih dalam mengenal diri saya sendiri,belajar memahami diri sendiri. Sehingga tersadarlah siapa diri ini sesungguhnya yang kadang begitu angkuh dan sombong, tipu muslihat keegoisan sangat halus. Dan terkadang saya sendiri bila kurang waspada menyembah keegoisan itu sendiri, menganggap bahwa itu adalah prinsip hidup saya. Tapi bila diuraikan lebih dalam dan halus itu sama saja diri ini masih egois. Egois adalah sifat alami manusia sejak lahir, semua orang saya yakin memilikinya. Tapi tergantung bisa mengarahkan dan mengendalikan tidak,sifat egois ini mulai tertanam ketika diri ini masih bayi dan dari sifat ego itulah saya hidup. Dengan lahir dari keluarga yang cukup mapan, segala fasilitas dan kebutuhan terpenuhi. Maklum orang tua lama tidak mempunyai anak,baru lahir diri ini setelah 10 tahun menikah. Sehingga ketika saya lahir seperti mereka mendapatkan harta yang ternilai harganya. Ketika semasa kecil apapun kebutuhan saya terpenuhi dari makan,pakaian dan kebutuhan lainnya sudah ada. Semua dilayani oleh pembantu, sampai kerja apapun tidak diperbolehkan orang tua.

Kenyamanan saya rasakan, memikirkan kebutuhan apa untuk besokpun, sudah disiapkan oleh mama. Sehingga otakku tak biasa berpikir hal-hal untuk diri sendiri, apapun yang orang tua katakan itulah yang harus saya jalani. Sebelum meminta apapun seperti papa dan mama selalu tahu kebutuhan dan keinginanku. Bila sudah tidak suka terhadap sesuatu saya selalu minta dan mereka selalu membelikan,jangan sampai saya menangis.Begitulah ego yang sudah ada dalam diri saya terbentuk dengan kuat dengan pola didik seperti yang saya jelaskan. Sifat menuntut,tidak mau kalah, selalu ingin diperhatikan,takut menghadapi hidup,meremehkan dan apapun selalu harus dituruti. Itulah sifat yang dihasilkan dari pembentukan dan pola didik seperti itu. Ketika dewasa sifat itu semakin dibawa,dan tidak terasa menjadikan mental block dalam diri saya sendiri. Keegoisan mengakibatkan selalu dijauhi teman-teman karena selalu yang harus nomer satu adalah diri saya sendiri, dan mementingkan diri sendiri. “Diri kita menganggap itulah saya” tapi sebenarnya itu adalah bukan diri kita. Semua sifat ini bisa dirubah,asal kita memang benar-benar berniat untuk mengembangkan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Dengan keegoisan diri dalam berbuat apapun selamanya kita takkan pernah belajar ikhlas, selalu ada imbal balik ( akankah menguntungkan diri saya tidak). Dan dalam bersosialisasi selalu menjadi sang pemenang identiknya mengarah kesifat iri dengki kesesama orang lain.

Dan dalam menjalankan kehidupanpun seperti diri ini mempunyai prinsip yang tidak tergoyahkan, “Ini yang betul ya ini dan harus dilakukan”. Tapi diri ini tidak tersadar kita hidup dan menyembah keegoisan kita sendiri. Tanpa berpikir akan perasaan dan kemauan orang lain, mendominasi hak orang lain. Kelihatannya seperti mengarahkan kekebaikan, tapi coba ditelaah ternyata sebenarnya kita meninginkan orang menjadi diri saya dan harus menurut saya. Kita tidak memberikan kesempatan pada orang lain untuk menjadi diri mereka sendiri. Terkadang tanpa sadar kita memberikannya kepada orang terdekat kita suami tercinta, anak-anak,teman dan keluarga. Cobalah mulai beranjak melepas keegoisan diri ini sehingga kita bisa melihat dan bisa lebih memahami orang lain dan seluruh mahluk hidup. Apa yang menjadi kebutuhan mereka,dan apa yang mereka rasakan. Semoga sekelumit kisah saya ini bisa dibuat perenungan terlebih diri saya sendiri untuk terus mengembangkan pribadi yang amazing dan buat kita semua sekiranya bermanfaat. Maafkan bila ada salah kata, dan selamat menjadi sang pembelajar sejati amiin.
WRITTER
TERATAI

Rate this article!
author

Author: 

Leave a Reply