Kebahagiaan itu Bersama Allah

Bahagia Bersama-Mu
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Apa makna ayat ini ya? tanyaku dalam

al quran

SONY DSC

. Sudah hampir setengah jam aku masih terpaku pada terjemahan ayat 56 dari surat Adz-Dzaariyaat ini. Ayat yang sudah sering ku dengar namun sering pula ku abaikan, asal lewat, masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kanan, mantul.

Bismillaah, aku mencoba untuk lebih konsentrasi sekali lagi. Aku mulai memilah dan lebih menghayati kata per kata, aku; manusia; tidak diciptakan kecuali untuk beribadah. Aku diwajibkan untuk beribadah, sepertinya ini maksudnya, ucapku dalam hati ketika sampai pada kesimpulan itu, kesimpulan berdasarkan hasil pemikiranku sendiri. Ya, aku harus beribadah.
Ibadah?
Apa itu ibadah?
Mushaf Al-Qur’an terjemahan yang ada di pangkuanku sedari tadi akhirnya harus rela berpindah ke dalam tas dan digantikan dengan handphone berwarna hitam yang telah menemaniku beberapa tahun ini. Handphone telah ku nyalakan, dan jari telunjukku mulai bergerak menuju icon Aplikasi lalu Chrome dan masuk ke alamat Mbah Google (www.google.com). Kotak pencarian yang masih kosong pun muncul di layar handphone dan aku mulai mengetikan dua kata kunci, “ibadah” dan “artinya”. Beberapa judul tulisan pun bermunculan di layar handphone ku dalam hitungan detik.
Pengertian Ibadah Dalam Islam – almanhaj.or.id, Ibadah – Wikipedia, Apa Arti Ibadah? – konsultasisyariah.com, Ibadah Mahdhah & Ghairu Mahdhah – Umay’s Weblog, Apa itu Ibadah? – muslim.or.id dan masih banyak tulisan lainnya.
Aku memilih untuk mulai membaca dari tulisan di urutan yang paling atas dengan judul Pengertian Ibadah Dalam Islam yang ditulis oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Menurut beliau definisi ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:
1. Ibadah adalah taat kepada Allooh dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.
2. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allooh Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.
3. Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allooh Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.
Ustadz Marwan di blognya abu0dihyah.wordpress.com menjelaskan bahwa Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi oleh Allooh Subhanahu wa Ta’ala baik berupa perkataan atau perbuatan yang nampak ataupun yang tersembunyi dan berlepas diri dari segala hal-hal yang bertentangan dan berlawanan dengannya.
Setelah mengetahui definisi ibadah, pikiran tergoda untuk mengajukan pertanyaan lagi, pertanyaan untuk diriku sendiri. “Apakah aku telah melakukan ibadah sesuai dengan definisi di atas tadi?” dan “bagaimana ibadahku selama ini?”. “Juandaaa, Juandaaa, persiapan stasiun Juanda.. ” suara petugas kereta api yang berdiri di dekat pintu mengagetkanku saja, padahal pertanyaanku belum selesai terjawab. Aku bergegas memasukkan handphone ke dalam tas dan segera berdiri dari tempat dudukku bergerak menuju pintu. Tak berapa lama kemudian, kereta pun berhenti dan pintu kereta terbuka. Aku langsung turun dari kereta dan berjalan ke arah tangga menuju pintu keluar stasiun.
Alhamdulillaah, akhirnya aku sampai dengan selamat. Namun perjalananku tak berhenti di sini, aku harus melanjutkan perjalanan lagi menuju tempat kerjaku yang berjarak lebih kurang satu kilo meter dengan berjalan kaki dari stasiun kereta api. Bagi yang tak biasa berjalan kaki mungkin menyarankan untuk naik ojek saja. Tapi aku lebih memilih untuk berjalan kaki, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, eh… maksudnya dengan berjalan kaki selain niat untuk melakukan olahraga pagi juga menghemat gaji yang datangnya hanya sebulan sekali.
Selain itu, jika aku tidak berjalan kaki, mungkin aku tidak akan pernah melakukan olahraga sama sekali, karena jika sudah sampai di tempat kerja, pekerjaan menuntutku untuk senantiasa duduk manis di belakang meja dengan pandangan menghadap ke depan ke arah monitor komputer dari pagi sampai sore hari di luar jam sholat dan istirahat.
Kurang olahraga, mungkin itu salah satu yang aku rasakan sejak aku memutuskan untuk bekerja. Waktu ku lebih banyak terbuang di perjalanan dan di tempat kerja. Setiap hari setelah sholat shubuh aku harus bergegas berangkat dari rumah menuju stasiun kereta (stasiun Bogor), jika terlambat sedikit saja aku bisa ketinggalan kereta dan terlambat sampai di tempat kerja. Di tempat kerja, pekerjaan tidak bisa diwakilkan kepada siapa-siapa karena setiap pekerja telah diberikan tugas dan tanggungjawabnya masing-masing yang tidak bisa diamanahkan kepada orang lain. Jika kebagian tugas yang banyak, mau tidak mau pekerja yang bersangkutan harus ikhlas menerima dan mengerjakan pekerjaannya dengan sebaik-baiknya walau harus mengorbankan waktu istirahat maupun waktu jam pulang.
Sebenarnya tak ada masalah dengan pekerjaan selama dinikmati dengan cinta, keikhlasan dan kesyukuran. Namun jika pekerjaan telah menyita waktu untuk yang Maha Cinta maka rasanya sia-sia semua nya. Sekarang bukan lagi masalah berkurangnya waktu untuk jasmani namun untuk rohani. Rohani semakin hari semakin kehilangan jati diri, kekeringan seakan-akan akan mati karena tak pernah disirami. Tiba-tiba ku teringat definisi ibadah tadi. Apa yang telah aku lakukan selama ini? Apakah aku telah berjalan menuju tujuanku diciptakan oleh Yang Maha Pencipta?
Bertahun-tahun bekerja, aku tak lagi bisa menikmati indahnya sholat shubuh karena di setiap pagi hariku terasa seakan-akan dikejar oleh waktu. Tak ada ketenangan dan kekhusyukan karena pikiran melayang-layang dengan ketakutan-ketakutan, takut gak dapat angkot, takut berdiri di kereta karena gak dapat tempat duduk, dan yang lebih menakutkan ketinggalan kereta dan terlambat sampai di tempat kerja.
Di tempat kerja, berusaha untuk tetap bisa meluangkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, namun keinginan seringkali tak sesuai dengan kenyataan. Untuk membuka lembarannya saja pun kadang tidak bisa, selain ada cctv yang selalu mengawasi dan pekerjaan yang menuntut konsentrasi sehingga hilang kesempatan untuk menghafal ayat-ayat suci-Nya. Bertekad untuk membacanya saat jam istirahat siang nanti, namun waktu istirahat, sholat dan makan siang terasa seakan-akan telah disetting pas-pasan. Jangankan untuk membaca buku-buku pengembangan diri untuk membaca buku pedoman/petunjuk dari Ilahi Robbi pun rasanya tak ada waktu lagi. Kelelahan di perjalanan pulang kerja pun telah menyedot energi sehingga seakan tak ada tenaga lagi untuk mengerjakan amalan-amalan harian lainnya. Benar-benar diri ini merasa mengalami penurunan iman dan kehilangan keberkahan.
“Yaa Allooh.. sampai kapan hidupku seperti ini? apa yang aku cari?” pertanyaan itu akhirnya mengantarkan airmataku mengalir membasahi pipi. Bekerja bertahun-tahun dengan tumpukan uang di rekening tabungan ternyata tak menjamin kebahagiaan. Hidup terasa hampa dan gersang karena telah hilang keberkahannya. Tidak merasakan ketenangan dalam menjalaninya. Apalagi setelah aku tahu bahwa aku bekerja di dunia yang berhubungan dengan riba. “Ah, lengkap sudah derita ini” batinku dalam hati.
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat): “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,” padahal Allooh telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang meng-ulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (QS. 2:275)
Sungguh Maha Benar Allooh Dengan Segala Firman-Nya.
BENAR, TAK ADA KETENANGAN saat masih berada dalam genggaman Riba. Selama bekerja bertahun-tahun di sana merasakan TIDAK ADA KEBERKAHAN. Walau uang selalu ada, tabungan penuh terus, kalau perlu apa-apa uang selalu tersedia, kalau ada yang butuh, tinggal ngasih aja.. Tapi, TAK ADA KEBAHAGIAAN DI SANA..
Selama bekerja, batin tersiksa, karena sudah tahu hukumnya, tapi seperti tertahan supaya diriku tetap bertahan di sana, semua karena rayuan dan bisikan-bisikan setan yang menakut-nakuti dengan gambaran kemiskinan. “Ya, aku takut miskin, apalagi saat ini, tidak mudah mencari pekerjaan, apalagi usia ku sudah tidak memungkinkan untuk mengajukan lamaran kerja lagi.” saat pikiran itu muncul, aku tahu, setan sedang mentertawakan diriku yang lemah iman ini.. karena setan-setan itu merasa telah berhasil menipu diri ini dengan memunculkan ketakutan-ketakutan di masa depan.
Dan itu belum berakhir, saat ku telah menguatkan azam, pihak perusahaan kembali menegaskan akan ada biaya pinalti jika ku resign sebelum masa kontrak kerja ku berakhir. Jika nekat, aku diwajibkan untuk membayar ganti rugi sebanyak gaji dikali sisa masa kontrak kerja. padahal saat itu sisa masa kontrak kerja ku masih panjang. dan berbarengan itu ayah ku juga sedang jatuh sakit dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Akhirnya, aku tetap bekerja di sana, dengan harapan semoga setelah habis masa kontrak kerja, tidak ada lagi yang menghalangi niat ku untuk berhenti dari sana. Tapi, apa yang terjadi, aku malah diangkat jadi pegawai tetap, dan ini artinya segala fasilitas dan gaji ku lebih baik dibanding sebelumnya. Saat dapat kabar itu, aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya.. bukan menangis karena bahagia, tapi menangis karena khawatir akan lebih dipersulit lagi untuk resign dengan status yang sudah menjadi pegawai tetap. dan benar saja, sampai atasannya atasan ku berusaha mempertahankan supaya aku menarik kembali surat pengajuan pengunduran diri yang telah aku ajukan. Tapi, aku sudah benar-benar tidak ingin berlama-lama dalam jerat riba ini.
Di saat bekerja, Kerja sih Kerja, mengerjakan pekerjaan dengan penuh tanggungjawab dan loyalitas, Tetap..
Tapi selama bekerja merasa tertekan sendiri, karena bekerja di tempat yang tidak sesuai dengan hati nurani.
Jadi selama masih bekerja di sana hanya bisa menangis dan berdo’a memohon kepada Allooh agar diberi kemudahan untuk resign dan diberikan ketetapan hati supaya tidak ada keinginan untuk balik lagi. karena teman-teman yang mengetahui aku mengajukan surat resign, sangat menyayangkan keputusanku. banyak yang menasehatiku dengan beraneka argumen yang ujung-ujungnya agar aku membatalkan keinginan untuk resign. Saat itu aku benar-benar terus berdo’a supaya Allooh menguatkan hatiku, karena aku tahu hati ini mudah berbolak balik.
Dan, Alhamdulillaah, Allooh kasih jalan, dengan memberiku sakit yang lama. Sakit yang mengharuskanku istirahat berbulan-bulan untuk pemulihan. Pihak Perusahaan, mau tidak mau akhirnya mencari orang yang bisa menggantikan posisiku, karena, semua pekerjaan teman-teman yang lainnya akan terganggu dan terhenti jika tidak ada yang menggantikan posisiku, karena pekerjaan di sana saling ada keterkaitan (kerja team).
Saat sakit itu, justru aku merasa sangat sehat dan bahagia, rasanya lepas semua beban selama bertahun-tahun di sana. Apalagi saat mendapat kabar bahwa surat pengajuan pengunduran diri ku di ACC oleh Kantor Pusat.
“Alhamdulillaah Yaa Allooh”.. itu saat aku benar-benar merasa Allooh telah menunjukkan Kuasa-Nya dan Pertolongan-Nya. Akhirnya aku bisa BEBAS dari jerat Riba.
Alhamdulillaah, saat ini, walau tabungan sudah habis, gaji tak pernah masuk rekening lagi, tapi rezeqi dari Allooh tak pernah berhenti.
Diriku kini semakin Yakin, sesungguhnya hanya Allooh lah Pemberi Rezeqi, bukan atasan atau perusahaan.
Oleh karena itu diri ini merasa sangat sedih ketika dahulu banyak teman-teman yang menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja sampai rela meninggalkan sholat. Jika dipanggil dan diminta melakukan sesuatu oleh atasan, langsung bersegera mengerjakan dengan cepat, akan tetapi saat ada panggilan sholat, telinga seperti tersumbat. Banyak yang rela bekerja dari pagi sampai malam demi mendapatkan uang lemburan, sampai tak sempat membuka Al Qur’an (bukan membaca Al Qur’an, membukanya saja pun jarang, bahkan tidak pernah, mungkin selain bulan Ramadhan karena jam pulang kerjanya di bulan Ramadhan biasanya lebih cepat).
Benar-benar, kenikmatan beribadah dan kedekatan dengan Allooh itu terasa hilang saat diri ini mendahulukan dan mengutamakan dunia. Semoga Allooh mengampuni dosa-dosa masa lalu ku, aamiin..

Semoga yang belum resign dari Riba, Allooh mantapkan niatnya dan Allooh mudahkan jalannya untuk resign, Aamiin..

#KMORamadhanMenulis

Tety
Denpasar, 09 Juli 2015
✓Tulisan ini dipersembahkan saat mengikuti lomba menulis yang diselenggarakan oleh KMO (Komunitas Menulis Online) pada bulan Ramadhan tahun 2015 yang lalu. Alhamdulillaah menang.. ^__^
Rate this article!
Tags:

Leave a Reply