Karena menulis adalah menoreh kan tinta kebaikan

Kata-kata kita menjelma boneka lilin
Saat kita mati untuk memperjuangkannya
Kala itu lah ruh kan merambahnya
Dan kalimat-kalimat itupun hidup selamanya
(Sayyid Quthb)

Tidak berlebihan rasanya Sayyid Quthb menyebutkan bahwa karya yang berupa tulisan itu akan terus hidup walau raga telah tiada di dunia.

Sebagaimana pelopor sebuah kebaikan yang mendapatkan pahala atas kebaikannya, dan penyeru keburukan yang akan menuai dosa atas keburukannya. Begitu pula sang penulis terhadap tulisannya.

Betapa imam mahzab yang empat terasa begitu dekat hadirnya, ruhnya terus hidup lewat karya mereka yang mempesona. Dibaca dan menjadi bahan rujukan muslim dunia. Sungguh sebuah capaian karya yang gilang gemilang.

Kalimat indah imam Asy-Syafi’i menyebutkan bahwa ilmu laksana binatang buruan, dan pena yang menuliskannya adalah tali pengikatnya.

Segala pemahaman baik yang kita miliki dan mampu kita tuangkan dalam bentuk tulisan itulah yang disebut sang imam sebagai pengikat.

Maka pantang bagi seorang penulis mengikat keburukan yang dikekalkan dalam bentuk karya berupa tulisan. Karena karya tersebut akan hidup terus menerus dan mengikat berlipat-lipat keburukan yang kemudian menumpuk.

Menulis juga berarti menguji pemahaman, lewat aksara yang terangkai itu kita siap menerima beragam umpan balik yang diberikan pembaca. Disana ada tambahan referensi, meluruskan yang bengkok, dan menguatkan apa-apa yang sudah benar.

Jelaslah jika sebuah karya bukan sebuah ajang untuk unjuk dada, apalagi membuat penulisnya jumawa. Hadirnya sebagai pengingat jiwa untuk berlapang dada.

Menulis adalah tugas kehidupan, merekam berbagai peristiwa, memaknainya dengan jernih dan menuangkan kejernihan tersebut dalam sebuah karya demi memahamkan pembacanya untuk setia dan kokoh berada pada jalur yang dipenuhi petunjuk kebaikan.

Menulis adalah membaca, ini suatu keniscayaan. Menulis tanpa membaca itu hampa dan hambar.
Secara tak langsung pekerjaan menulis ini menuntut kita untuk bersungguh-sungguh menjalankan titah sang penggenggam jiwa, “iqra’! “, baca lah!

Membaca lima buku membuat kita merasa banyak yang belum kita ketahui. Membaca sepuluh buku membuat kita merasa paham segalanya, dan membaca ratusan buku akan meyakinkan kita bahwa sebenarnya kita tidak tahu banyak hal.

Sudah selayaknya kita menuliskan apa yang seharusnya orang baca, bukan menulis apa yang orang inginkan.
Disini, menulis mengajarkan kita makna kebenaran yang harus disampaikan. Jujur dalam menulis adalah modal tersampaikannya maksud yang ingin kita kabarkan kepada khalayak.

Setiap kita pasti pernah tergugah hatinya karena sebab sebuah tulisan. Bukan tak mungkin ini disebabkan tulisan tersebut adalah buah dari sebuah ketulusan nurani nan bercahaya yang hanya memancarkan sinar kebaikan didalamnya.

Kelak ketika tugas kita sebagai insan selesai di dunia, sementara karya ketulusan yang mewujud kumpulan lembar – lembar kebaikan telah disebarkan ke berbagai penjuru bumi. Saat itulah kita paham bahwa kalimat – kalimat itu yang senantiasa hidup selamanya.

Fri Okta Fenni
KMO 8A
Kelompok 5

Tags:
author

Author: 

One Response

  1. author

    Sabily2 years ago

    saya ingin mengetahui dalil al-qur’an atau hadis mengenai kebaikan tentang menulis.

    Reply

Leave a Reply