Karena Aku hanya Bisa Menulis

Bukan perkara yang mudah bagiku, saat aku memutuskan untuk menulis, butuh perenungan yang dalam dan juga kemantapan hati. Apalagi baru ku ketahui bahwa menulis itu tak segampang yang aku bayangkan, tinggal corat-coret panjang lebar kemudian selesai. Ternyata menulis itu harus melalui proses yang amat panjang. Berawal dari proses membaca, lalu memahaminya. Penggalian idenya pun tak sembarangan loh, butuh yang namanya sebuah perenungan, lihai membaca kondisi di sekitar kita, dan punya kemampuan tajam dalam menganalisa sebuah topik.

Belum selesai disitu, kita harus meramu tulisan tersebut dengan bahasa yang segar, komunikatif, agar bisa dipahami dengan baik oleh si pembaca.

Nah, saat pertama kali membuat sebuah tulisan tentang pengalaman hidup seseorang, aku tak menyangka bahwa coretanku tadi mampu menginspirasi banyak orang. Hal yang aku pikir saat itu adalah, sekedar menyalurkan hobi, dan mendokumentasikan ceritaku bersama si tokoh dalam cerita. Agar aku bisa mengenangnya, tanpa ada batas ruang dan waktu.

“Aku sangat terharu dengan kisah yang kau tuliskan, dan aku akan belajar menjadi seorang yang tangguh dalam menjalani cobaan hidup ini. Karena tulisanmu menginspirasiku,” tulis seseorang kepadaku.

Darrrrr

Bergetar perasaanku saat membaca komentar itu, betulkah yang dituliskan oleh dia?

***

Sejak saat itu, aku mulai berlatih terus-menerus, berlatih untuk berlama-lama dalam membaca buku, menulis lagi dan lagi. Aku yakin, masih banyak kesalahan yang perlu dibenahi karena inilah proses awal aku terjun di dunia tulis-menulis. Tetapi aku tak akan menyerah, proses yang akan aku lalui masih panjang. Aku akan tetap menulis, bila itu mampu menginspirasi banyak orang. Aku akan belajar menulis, sampai ada seseorang yang tergerak hatinya untuk melakukan kebaikan setelah membaca tulisanku. Aku akan terus menulis, sampai ada perubahan yang lebih baik.

Menulis, menulis dan menulis.

Karena aku tak pandai bersilat lidah, seperti halnya para politisi di gedung sana. Aku tak bisa berkomunikasi dengan cara yang bagus, agar aku bisa didengar oleh orang lain di sekitar. Aku juga tak bisa diam, jika ada keresahan yang begitu menganggu hati dan pikiran.

Untuk itulah, aku harus tetap belajar, mengasah ketajaman berpikir, memperdalam materi tentang dunia kepenulisan. Aku juga harus berkumpul bersama komunitas menulis, agar semangatku tetap terjaga dan bisa menimba ilmu dari sesama penulis lainnya. Juga dalam menulis, aku membutuhkan mentor yang bisa terus membimbing ke arah yang lebih baik.

Terakhir, hanya melalui tulisan, aku bisa mengungkapkan semua gundah gulana yang sedang menghampiriku. Lewat tulisanlah, aku mencoba berkomunikasi kepada banyak orang yang tidak aku kenal. Dengan tulisan, aku akan mengabadikan namaku sepanjang masa.

Selamat menulis ya.

About the Author

Maysa Meyh

No Comments

Leave a Reply