Kabari Aku Jika Ayah Datang

Part 1. Berbalut Sunyi.

Aku masih terbaring di sini. Dalam sunyi dan dingin malam. Biasanya, tubuh ringkihku berada dalam dekapannya. Lelaki itu! Yang senantiasa membuaiku dalam pelukannya. Melantunkan ayat-ayat suci dari bibir hitamnya. Matanya yang sarat dengan pengalaman hidup menatapku dengan tegas seolah-olah mengisyaratkan agar aku harus kuat. Seperti dia yang jarang sekali terlihat bersedih hati. Apapun yang menimpanya dia hanya memperlihatkan tingkah seperti berpikir keras agar bisa terbebas dari masalah. Mata yang sampai saat ini masih kuat menembus relung sukmaku, menguatkanku di kala kesepian mencekam jiwa.

“Tidurlah buah hati ayah. Tidurlah yang nyenyak. Besok pagi kamu bisa bangun lebih cepat. Meresapi indahnya subuh di antara syahdunya lantunan azan. Engkaulah pangeran hati yang selalu bertahta di hati ayahmu ini. Tidurlah nak, pejamkan matamu dan nikmati tidurmu!”

Ucapan-ucapan itu selalu bergema di telingaku. Namun aku yang keras hati, tidak memdengarkan kata-katanya. Aku masih saja menatapnya. Memandangi wajah tegasnya. Ada kumis yang baru tumbuh dan janggut yang dia biarkan menghiasi wajahnya. Aku masih ingin berlama-lama mendengar suaranya yang menina bobokkanku. Karena aku takut, jika aku tertidur dan ketika aku terbangun ayah sudah tidak ada lagi di sampingku. Tapi tetap saja ujung-ujungnya aku mengalah. Aku tidak ingin ayah lelah dan penat hanya sekedar untuk menidurkanku. Aku menyerah ketika lantunan Al Fatihah mengiringiku ke alam nirwana.

Bagiku dia bukan sekedar seorang ayah. Dia adalah malaikat yang akan selalu menjagaku. Seseorang yang tidak akan membiarkanku menangis terlalu lama. Seseorang yang akan selalu menjadi nomor satu panik ketika aku sakit. Akh, bagaimana bisa aku lupa dengan semua itu?

Suatu malam yang sangat berhujan aku merasakan sakit yang luar biasa di perutku. Sakit yang membuat dadaku sesak. Aku hanya bisa menangis, menjerit dan berharap seseorang bisa menghilangkan rasa sakit yang aku alami. Dan dialah yang lansung tanggap mengangkat tubuhku, membawaku ke dalam pelukannya.

“Mungkin perutnya kembung?” Teriak Ibu sambil berlari ke dapur. Lalu berlari lagi ke dalam kamar. Di tangannya terlihat satu mangkok kecil yang berisi irisan bawang dan kemudian dia menuangkan beberapa tetes minyak kayu putih. Aku masih menangis dengan keras ketika Ibu mengusapkan minyak tersebut ke sekujur tubuhku. Wajah Ibu terlihat begitu tenang sementara ayah, aku hanya bisa tertawa di dalam hati. Dia terlihat begitu panik dan pucat. Bibirnya bergetar mengucapkan ayat-ayat suci. Ingin aku berteriak mengatakan kepadanya kalau aku hanya kembung dan memintanya berhenti untuk menunjukkan wajah khawatir seperti itu.

Akh, ayah! Aku rindu!

Bersambung.

Rate this article!
Tags:
author

Author: