KA BANDUNG – JAKARTA 8 JAM

KA BANDUNG JAKARTA 8 JAM

Aku menjejakkan kaki ke lantai yang basah. Aku dekati sebuah atm. Atm di sebelahnya sedang dibuka petugasnya.

“Mana lampunya?” aku merunduk mendekatkan kepala ke slot kartu.

“Maaf Bu, Lampu sengaja dimatikan. Tadi atm ini terendam air sebetis”, kata petugas di sebelahku menerangkan. “Dipastikan dulu tidak ada konslet”.

Ha? Separah itukah? Selesai mengambil uang aku check in melalui komputer d loby. Lantai loby yang aslinya cling berwarna gading, sekarang dipenuhi sisa lumpur mirip dedak kopi di dasar gelas. Seorang petugas cleaning service sedang mengoperasikan mesin bersuara keras. Mesin penyedot air itu sekaligus berfungsi sebagai pengepel lantai. Seorang supervisor mengawasinya.

Aku melewati gerbang boarding dan memasuki ruang tunggu. Tidak ada lagi tempat duduk. Untuk berdiri saja harus beradu sikut dengan penumpang lain. Semua outlet makanan, penuh. Entah orang orang itu memang perlu makan, atau sekedar duduk duduk.

Hampir pukul empat sekarang. Keretaku, menurut jadwal, lima belas menit lagi. Terdengar pengumuman berkali kali, “Penumpang KA Argo Parahiyangan untuk jadwal keberangkatan pukul 14.30, dipersilahkan menaiki kereta”. Beberapa orang bergegas melewatiku. “Kami mohon maaf atas keterlambatan ini”.

Aku mencoba membunuh waktu sambil berdiri. Yang paling bisa diberdayakan adalah Androidku. Group ini itu memuat gambar pohon tumbang, kanopi terbang, aliran mirip sungai di sebuah perumahan dan Stasiun Bandung yang sedang digenangi air. Oooo??? Hujan yang sekitar satu jam setelah adzan dzuhur tadi benar benar telah menimbulkan sebuah pertanyaan dari temanku “Ada apa dengan Bandung?”

Aku mencoba mencari tempat duduk dengan, apa lagi kalau bukan dengan membeli makanan di sebuah franchise. Ada satu kursi tersisa, yang kulirik ketika masuk tadi. Pilihan menu terpampang pada billboard di atas kepala pramusaji. Niatku hanya ingin duduk. Akhirnya, karena niat itu juga, menu yang terpilih, tak termakan. Aneh sekali – lebih tepat agak ngeri – aku merasakan sensasi “gizi” sajian di bawah hidungku. Rupanya duduk pun tak nyaman di situ. Piring bekas makan tidak diangkat dari meja tempat aku makan.

Berdiri dan berdiri, lalu aku coba berjalan, sekedar menggerakkan kaki. Pintu Selatan, pintu Utara sama sesaknya. Banyak orang duduk di tangga atau di atas barang bawaan mereka.

“Kami mohon maaf atas keterlambatan ini”.

“Kami informasikan bahwa kereta api Argo Parahiyangan masih tertahan di Stasiun Cimahi”.

” Kami informasikan bahwa kereta api Lodaya, baru akan memasuki stasiun”.

“Kami sampaikan bahwa kereta lokal Bandung Raya, segera tiba dan berada di jalur 2”.

Akhirnya “Para penumpang dipersilakan menaiki kereta api Argo Parahiyangan di jalur 6”.

Aku memasuki gerbong yang lantainya basah seperti lantai kamar mandi plus jejak jejak bekas kaki.

“Ini air banjir masuk tadi, Bu”. Seorang petugas menggerakkan alat pel-nya di bawah kakiku yang kuangkat. Dia mengerjakannya di sela sela sliweran penumpang yang naik. Kami semua ingin duduk segera setelah berdiri tak jelas di luar sana.

Kupikir kereta api akan segera bergerak, tetapi ternyata tidak. Penumpang sudah duduk manis dan sebagian mereka membuka perbekalan makanan. Tidak ada lagi penumpang yang masuk. Maghrib tiba dan aku pun sudah menunaikan sholat jamakku. Kereta tetap diam.

“Atas nama PT Kereta Api Indonesia, kamj mohon maaf karena terdapat gangguan sinyal, sehingga kereta api belum bisa diberangkatkan”.

Sekitar pukul setelah tujuh, akhirnya kereta bergerak. “Perjalanan dari Stasiun Bandung ke pemberhentian terakhir, stasiun Gambir, memakai waktu tiga jam dan enam belas menit”.

Sepuluh menit menjelang pergantian hari, kereta saat ini masih di Stasiun Kosambi. Beberapa kali kereta berjalan kemudian berhenti. Namun berhenti yang paling lama adalah di dekat Stasiun Cikampek.

“Ini bukan stasiun ternyata”.

“Kalau berhentinya di stasiun, kita bisa merokok dan nyari makanan”.

“Silakan ambil Bu” seorang petugas membagikan mie instan dalam kemasan cup. Ini adalah “harga” yang harus dibayar PT KAI atas keterlambatan karena cuaca ini. Berikutnya adalah petugas yang membagikan air minum dalam botol kemasan

“Saya boleh minta air hangat?”

“Sudah habis, Bu”.

“Air panasnya ngantri di dapur” ungkap seorang penumpang yang berhasil membawa sebuah cup mengepul. Makanan atau minuman hangat setidaknya bisa menjadi pengobat kecewa dan pelawan dingin.

“Apa AC-nya nggak bisa disetel?” seorang ibu yang membawa anak mengomentari dinginnya udara di dalam gerbong. Celakanya dia memakai celana pendek selutut dan baju lengan pendek. Tampaknya Ibu inilah yang membalurkan minyak kayu putih, sehingga bau “parfum” itu berbaur dengan bau mie instan di dalam ruangan tak berventilasi itu.

Kereta bergerak lagi sekarang, setelah berhenti yang ke sekian kali. Senin sudah sekarang. Kulihat jam di pergelangan tanganku. Jam dua dini hari aku memasuki kamar hotel dengan badan melayang. Sebelum jam sembilan pagi aku sudah harus hadir di acara training di Kuningan.

Senin, 14 11 2016
Lisa Tinaria

Rate this article!
author

Author: