Jodoh Sebagai Tadzkiroh

Bahagia Menjadi MuslimahWah, pastinya gak sabar membacanya bukan? Judul memang akan selalu menarik ke isi pembahasan, membuat terkesima dan penasaran.
Mungkin karena kata ‘jodoh’ menjadi kata yang memiliki daya tarik yang kuat untuk diselidiki.

Katanya orang yang bertemu dan dipersatukan itu dinamakan jodoh ya? Saling memiliki keterikatan, ikatan, dan hubungan.
Bermula dari berkenalan, saling memberikan daya tarik, dan memahami satu sama lain.
Sehingga ada ‘usaha’ dalam merayu, mendekat agar jodoh semakin kuat.
Sehingga akan memunculkan ‘sakinah’ dalam diri pemilik hati-hati yang merayu hati karena ilahi.
Ah, saya tidak mau membahas jodoh versi manusia dalam radar diri yang masih terbatas dalam memaknainya. Karena memang pengalaman selalu mengajarkan ‘sesuatu’ untuk melangkah ke arah yang lebih baik.

Yupz, jodoh.
Lalu bagaimana kita mengemas diri kita untuk bisa “berjodoh dengan Al Qur’an???”

Al Qur’an adalah obat (as syifa), petunjuk ( Al Huda) bagi orang-orang yang bertaqwa, penerang bagi jalan gelap kehidupan. Maka ketika menghadapi masalah yang ada, seberat apapun masalahnya, bagaimanapun kondisi yang dihadapinya, Al Qur’an lah satu-satunya penawar yang ampuh yang dibutuhkan.
Sebagaimana perilaku kita terhadap jodoh hidup kita (red. Manusia), ternyata Al Qur’an pun ingin kita memberikan perhatian lebih terhadapnya.
Gelar Ahlul Qur’an bukan hanya disemat bagi para penghafal Al Qur’an saja, tapi siapapun yang selalu membasahi bibirnya dengan keindahan maknanya, selalu membersamai dirinya bersama Al Qur’an, maka Al Qur’an akan membersamainya bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat, insya Allah.
Tentunya bukan waktu sisa yang kita berikan, tapi bagaimana kita menyisakan waktu kita untuk selalu bersamanya.
Karena Al Qur’an pun butuh untuk dirayu, diperhatikan, dan dijaga. Sehingga ada ikatan, keeratan hubungan dalam sakinahnya hati bersamanya.

Seorang penghapal Al Qur’an tidak meenjadi jaminan untuk menjadi ahlul Qur’an, pun para penghapal Al Qur’an tidak secara otomatis dapat berjodoh dengan Al Qur’an yang mereka baca. Terkadang ada nilai yang terlupakan dalam menghapalnya, memaknainya dan menafsirkannya.

Menjadi penghapal Al Qur’an bukan untuk mencari gelar duniawi yang menjadi tranding masa kini. Tapi jadikan Al Qur’an menjadi syiar Islam dalam menjaga identitas diri sebagai seorang muslim sejati. Karena Al Qur’an adalah petunjuk yang didalamnya terdapat bashir (kabar gembira) dan nadzir (kabar buruk). Ketika Al Qur’an tersemat didada-dada kaum muslimin, maka Al Qur’an akan membersamai dalam ucapannya, perilakunya dan geraknya dalam melangkah.
Bermujahadahlah bersamanya, sesulit apapun, sebagaimanapun payahnya, paksakan. jangan pernah tinggalkan!
Maka ketika Al Qur’an dihinakan, berjalanlah, berlarilah untuk membelanya.
Jaga izzahnya sampai nyawa taruhannya.
Karena dia adalah firmanNya yang harus kita jaga, pedoman dalam kehidupan yang harus kita ikuti arus jalannya.
Manfaatkan kesempatan, dalam kebersamaan bersamanya. Selagi kesempatan itu ada dalam genggaman, maka carilah berkah didalamnya.

Berusahalah untuk berjodoh dengannya.

Ketika kedekatan terhadap Al Qur’an menjadi tadzkiroh, maka Al Qur’an akan menjadi jodoh dunia yang menenangkan, dan jodoh akhirat yang menerangkan jalan kehidupan.

Dekatilah pemiliknya….
Maka “mahabbah” akan tercipta diantara keduanya.

Depok, 24 November 2016
-amathontee-

Rate this article!
Jodoh Sebagai Tadzkiroh,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: