JIKA PAPA MENINGGAL

JIKA PAPA MENINGGAL

Akhirnya aku berani memberi judul seperti di atas untuk tulisan atas tugas menulis dari guru menulisku, dengan tema “bersiap untuk hal yang tak terduga”. Sejujurnya aku takut untuk mengungkapkan pikiran dan isi hati terkait hal yang sensitif itu. Setelah melepas kepergian Mama serta mendampingi saat-saat terakhir adikku, Uum tersayang, karena kanker kolon stadium akhir, aku mulai mengenal kata-kata berikut : anxiety dan post traumatic stress disorder (PTSD). Intinya, semua pengalaman itu menyisakan kepedihan yang sangat.

Namun aku mendapat sebuah kunci dari pengalaman itu. “…when we try not to think about something, we think more…”, Dr David Hanscom, seorang ahli bedah ortopedik, menuliskannya dalam sebuah artikel tentang back pain di situs mercola.com. Ya, akhirnya aku harus mengakui bahwa mempersiapkan mental terhadap suatu yang berat, dengan cara memikirkannya, adalah sebuah pilihan.

Terbetik juga di pikiranku tentang hadist qudsi ” Aku sebagaimana persangkaan hambaKu”. Apakah seakan akan itu berarti “menantang” Allah? Namun akhirnya aku mendapat pemahaman bahwa, membuat perencanaan – dalam aspek psikologis adalah dengan memikirkannya – adalah sebuah bentuk persiapan. Kemudian menyerahkan hasil pemikiran itu kepada Allah adalah sebuah keniscayaan.

“Tetapi Lisa, untuk apa hal-hal yang buruk itu dipikirkan sekarang? Bagaimana nanti sajalah. Tambah lagi, belum tentu seburuk yang kita kira”. Demikian pendapat seorang sohibku.
Kalau temanku itu berargumen tentang hal buruk yang belum tentu terjadi, bisa kuterima. Tetapi bukankah kematian itu pasti? Dan lagi Papa sudah berumur 86 tahun. Jangankan untuk orang sesepuh itu, untuk diri sendiri pun, aku sudah harus berpikir bagaimana cara mati nantinya, bukan?

Bagaimana proses berpikir itu muncul dan dimulai, kadang tak kumengerti. Tiba tiba saja pikiran itu melintas. Beberapa bulan sebelum Mama meninggal, aku tiba tiba saja menangis ketika akan berangkat kuliah. Muncullah pikiran bahwa umur Mama tak akan lama lagi. Tampaknya Itu sebuah persiapan.

Hal yang sama terjadi beberapa bulan sebelum Uum sayang berpulang. Pikiran itu muncul begitu saja ketika aku melihat foto liburan adikku itu bersama beberapa teman SMA-nya. “Uum akan pergi, tak lama lagi. Umurnya tak akan panjang”, begitu kata hatiku.

Entah setahun atau dua tahun lalu, dalam mimpi, kulihat Papa memakai baju koko putih, berkopiah, menutup pintu pagar, untuk pergi ke masjid, untuk sholat shubuh. Aku melongok ke bawah dari teras depan di lantai dua rumah Papa. Papa pergi sendiri.

Ketika lebaran kemarin, aku memberanikan diri berkata kepada Papa, “Mungkin ini pertemuan kita yang terakhir ya Pa.” Aku ucapkan itu ketika Papa dan aku berjabat erat di teras rumah. “Semoga kita saling berkeridhaan”, aku menambahkan. Tak ada kata dari Papa. Entah beliau memaknainya atau tidak, disela hilang timbul ingatannya karena tua. Atau, Papa memang tidak ekspresif. Atau, seperti biasa, jika aku dan adikku akan ke bandara, Papa akan stress dengan jadwal flight. Awan gelap dan hujan kota Padang mengiringi ucapanku itu. Tak ada air mata pada diriku. Aku memaknai, inilah sebuah persiapan bentuk lain.

Aku kemudian memahami bahwa Papa memang sudah tua. Tak akan lama lagi. Entahlah.

Akhirnya, bahwa pikiran pun harus dimintakan kepada Allah agar selalu dituntunNya. Pikiran yang menenangkan jiwa. Bukan pikiran yang menggelisahkan.

Bandung, 31 Juni 2018
Lisa Tinaria

Rate this article!
JIKA PAPA MENINGGAL,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply