Jendela

Kuciumi wangi pagi ini. Membiarkan udara segar masuk melewatiku. Kunikmati hangat atau dinginnya pagi bersama awal cerita keluarga ini. Menyenangkan ketika setiap pagi diriku dibiarkan terbuka. Aku bergerak. Aku suka ketika mereka menatapku dan menemukan bayangan diri mereka sendiri di mataku. Aku tersenyum.

Banyak cerita yang telah aku dengar dan saksikan disini. Lebih dari 20 tahun sudah. Mengingat si anak yang dulu masih merangkak dan mencoba berdiri dengan bersandar padaku lalu beranjak remaja ia sering masuk melewatiku ketika malam-malam pintu sudah dikunci. Menyenangkan mengingat detail semua cerita iyu. Namun, Sekarang ia tidak pernah lagi menyentuhku. Hanya sesekali saja ia menatapku untuk berkaca.

Semalam aku mendapatinya duduk di teras dengan diary kesayangannya dan sebuah pulpen. Ia menulis seperti biasa. Kali ini tidak ada buku yang ia baca. Ia hanya menulis. Setelah selesai menulis, ia bermain dengan hpnya. Tiba-tiba ia menatapku dalam. Ia memperhatikanku lama sekali. Matanya menyusuri seluruh bagian tubuhku. Entah apa yang dipikirkannya. Lalu, ia meninggalkanku begitu saja. Ingin aku katakan padanya, ‘tinggal lah disini sebentar lagi aku ingin menatapmu lebih lama.’

Rate this article!
Jendela,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: