Jangan Kau Ludahi Piringmu!

KaryawanPagi yang cerah mengiringi hari itu, sinar mentari dengan hangat dan penuh kelembutan meresap dalam tubuh, kunikmati belaian hangat sang mentari sembari menikmati bubur ayam warung Mang Idoy. Aku tidak sendiri, Bobby dan Rendy mengajak sarapan bersama pagi itu.

“Ren, gue kecewa sama si bos” Bobby mengawali pembicaraan.

“Kenapa?” tanya Rendi

“Masa gaji gue ga naik-naik” sungut Bobby.

Emang elo digaji berapa sih?”

Aku setengah kaget, Bobby begitu terbuka dengan gajinya yang menurutku sudah tergolong besar untuk ukuran pekerjaan dan posisinya sekarang.

“Busyet, elo masih ngeluh dengan gaji segede itu?” Rendi kaget.

“Mau elo apa lagi sih?”

“Rata-rata penghasilan orang di Indonesia itu masih di bawah elo

“Gaji udah gede, masih ngomel, heran gue” Rendi menggelengkan kepalanya.

“Liat tuh Man, orang kayak gini ga tau rasa syukur, ngedumel aja kerjanya” Rendi melihat ke arahku.

“…brakk!!” meja tempat kami makan pun jadi sasaran kebiasaan Bobby saat terdesak. “Ah, susah… susah… kamu ga bisa diajak ngomong Ren!” ucapnya setengah membentak.

Aku tersenyum, sejauh ini hanya menyimak perdebatan kedua orang temanku yang dari dahulu memang selalu berbeda pendapat.

“Ren, orang tuch harus dibayar sesuai dengan skill dan kontribusinya dong!” lanjut Bobby, sesendok bubur ayam masuk mulutnya.

“Sebentar” ucap Rendi seraya meraih teh manis yang sudah mulai dingin dihadapannya.

Kalo elo ga kerja di manapun, diperusahaan manapun, elo mampu dapetin
penghasilan berapa?” tanya Rendi, menyeruput teh manis miliknya.

“Kalo bisa kerja sendiri, ngapain gue kerja disini?” gugat Bobby.

“Tunjukin aja prestasi elo, ga mungkin perusahaan nutup mata” Rendi meneruskan.

Sesendok bubur ayam masuk ke mulutku, mataku masih tertuju ke arah Rendi, begitu juga dengan Bobby.

“Kalo pun perusahaan nyia-nyiain elo, cari tempat lain. Simple kan?tunjukin prestasi elo!” Rendi menegaskan.

“Jangan kau ludahi piringmu kawan!” tutup Rendi seraya beranjak dan menepuk pundak Bobby.

Keluhan teman saya yang satu ini mungkin berdasar, kenaikan pendapatan yang ia terima bisa jadi tidak mampu mengimbangi kebutuhan hidupnya. Saya sependapat dengan kalimat yang Rendi sampaikan, jika tidak bisa menerima apapun kebijakan perusahaan, tidak perlu kita menjelek-jelekan tempat kita bekerja, jika tak puas dengan bayaran yang diterima, kenapa masih bercokol di perusahaan itu.

Seseorang berfikir pekerjaan itu hanya menyangkut bayaran, berarti dia sedang membatasi kualitas dirinya dengan nilai uang.

Uangnya deras, kerjanya berkualitas.
Uangnya tipis, kerjanya minimalis.

Sifat dasar manusia memang yang selalu merasa kurang. Ini yang harus dihindari, niatnya yang harus diperbaiki sehingga tak ada umpat dan caci maki.

Betul ungkapan Rendi, “Jangan kau ludahi piringmu kawan!”. Umpatan, keluhan dan bahkan caci maki serta menjelek-jelekan tempat kerja sendiri seperti meludahi tempat makan sendiri, tempat dimana kita beraktifitas mencari nafkah.

Coba anda bayangkan, piring yang biasa kita pakai makan, kita ludahi, besoknya dipakai makan lagi. Jijik kan?

Sikap beberapa teman saya yang berstatus karyawan di sebuah perusahaan namun hampir setiap hari selalu mengeluhkan, bahkan mengeluarkan umpatan-umpatan, dan juga menjelek-jelekan segala keputusan yang dibuat oleh perusahaan. Ini sikap yang mempermalukan diri sendiri.

“Tujuan hidup kita apa sih sebenarnya?”
“Ngapain sih kita harus capek-capek kerja cari nafkah?”
“Apa yang dicari dari suatu pekerjaan?”

Silahkan jawab, yang terpenting adalah jujur pada diri sendiri.

Kalau memang “piring” kita kotor ya cuci.
Kalau memang “piring” kita sudah tidak bisa digunakan ya ganti, cari piring yang lain yang lebih bagus.

Bila kita tidak bisa menerima apapun yang perusahaan putuskan, tidak perlu kita “meludahi piring kita”, mengundurkan diri adalah langkah yang cocok.

“Anak istri saya makan apa?”

Serahkan urusan itu kepada yang Al Wakiil, Allah yang Maha Memelihara.

Ikhtiar tetap kita lakukan, bila tidak bisa mencari, maka ciptakanlah!

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” Q. S. [13] : 11

Rate this article!
Tags:
author

Author: