Jangan berharap pada manusia, Kecewa!!

Pagi itu ada yang tak biasa, Cahyo sudah lebih dahulu berada di pantri.

“Pagi Mas, tumben nih!”, sapa Nur.

“Ya nih, istriku lagi cuti, hari ini juga aku udah ga sabar ingin cepat ke kantor.” balas Cahyu yang sudah menghabiskan hampir setengah gelas teh nya.

“Oh, lagi banyak yang harus selesaikan?” Nur menyeruput kopinya.

“Tidak, aku ada perlu sama bos, semua pekerjaanku sudah beres dan laporannya sudah aku sampaikan ke bos kemarin. Ayo aku duluan ke atas” Cahyu tersenyum, beranjak menuju ruang kerjanya.

Nur sudah duduk di belakang meja kerjanya, dahi nya mengerut, tangannya masih memegang cangkir berisi kopi hitam yang lebih dominan pahit dibanding manis.

Segera dia raih handphonenya.

 “Mas mau menagih janji itu ke bos?” Nur mengirim pesan

Ya, besok aku sudah harus membayar biaya pengobatan Ayah” balasan Cahyo.

Semoga lancar Mas. Semangat!!” tutup Nur.

Jangan berharap pada manusia

Waktu berlalu begitu cepat, tiba waktunya makan siang. Di kantin langganan, Cahyo sudah duduk dengan muka ditekuk, tak ada pancaran nan cerah seperti pagi tadi. Makanannya pun belum dia sentuh, kekecewaan nampak menyelimutinya.

Janji hanya sebatas janji Nur” Cahyo tidak mau Nur bertanya lebih dahulu.

Sabarlah bro, makan dulu saja. Keburu dingin, ga enak ntarHibur Nur.

Nur sendiri mengetahui dan masih mengingatnya, bos pernah berjanji jika Cahyo menyelesaikan pekerjaannya, perusahaan akan memberi bantuan biaya pengobatan Ayahnya. Dan hari ini, Cahyo menagih janji tersebut karena pekerjaan yang dia emban sudah selesai, namun hanya kekecewaan yang didapat.

Keuangan perusahaan lagi menurun, banyaknya invoice yang belum cair, biaya operasional yang membengkak dan beribu alasan lain yang sudah masuk ke telinga Cahyo.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan kekecewaan Cahyo masih tergambar di wajahnya. Keluhan hampir selalu terlontar dari bibirnya pada setiap perbincangan tentang pekerjaan, dan itu mempengaruhi kinerja Cahyo yang kian hari kian menurun.

Motivasinya sudah tidak seperti dulu, semangat kerjanya sudah mulai kendur, Nur memaklumi keadaan itu, sebagai kawan dia hanya bisa menghibur dan memompa motivasi Cahyo untuk terus berkarya.

Nur sadar bahwa tindakan Cahyo akan berakibat buruk bagi kawannya itu, kekecewaan yang mendalam diikuti dengan keluhan yang terus menerus akan mempengaruhi karier, dan keluarganya.

Sepeninggal Ayahnya, Cahyo mengundurkan diri. Bakatnya dalam menggambar menjadi bekal dalam usaha kaos yang dia geluti.

Ada pelajaran berharga dari kisah di atas.

Jangan Berjanji 
Lidah tak bertulang dan salah satu anggota tubuh yang gerakkannya paling mudah. Kita bisa melontarkan kata-kata baik itu perkataan baik maupun buruk, termasuk berjanji dan lidah berperan disana. Janji memang ringan diucapkan namun berat untuk ditunaikan. Betapa banyak manusia yang mudah mengobral janji kepada manusia yang lain tapi tak pernah menunaikannya.

Betapa banyak orang yang dengan mudahnya berjanji untuk bertemu namun tak pernah menepatinya. Dan betapa banyak pula orang yang berhutang namun mengingkari janjinya.

Manusia adalah makhluk sosial, dalam kehidupannya tak dapat dipungkiri ada keterikatan dan pergaulan dengan orang lain. Tinggi kedudukannya manusia tersebut tercermin dalam hubungannya dengan manusia lain dan terpercaya dalam pergaulannya bersama mereka. Orang yang senantiasa menghiasai dirinya dengan akhlak terpuji tentunya bisa meraih predikat orang yang baik dan bagus dalam pergaulannya. Dan di antara akhlak terpuji yang terdepan adalah menepati janji.

Jangan berharap pada manusia, Kecewa lho..
Jangan karena kita merasa sudah berupaya semaksimal mungkin dalam bekerja, kemudian kita merasa bahwa sudah sepantasnya kita mendapatkan buah dari pekerjaan kita. Atasan di semua perusahaan juga manusia dan sama halnya dengan kita mereka bisa berjanji.

Janji-janji boleh didengarkan, kita amini agar dilaksanakan. Selama yang berjanji masih manusia biasa janganlah percaya sepenuhnya. Siapkan saja diri kita untuk menerima kenyataan yang mungkin tidak sesuai dengan janji yang telah diucapkan, agar tidak kecewa terlalu dalam dan berkali-kali.

Jangan berharap pada sesama makhluk, kekecewaan yang nantinya akan didapat. Tidak dapat dipungkiri, manusia pasti mempunyai hasrat atau keinginan untuk mendapatkan sesuatu dari pekerjaan, baik itu jabatan, harta, simpati atau timbal balik dari apa yang telah kita lakukan. Dan seringkali, hal tersebut membuat down, putus asa, kecewa yang teramat sangat pada saat akhirnya mengetahui harapan dan keinginan kita tidak dapat terwujud.


Ada siang ada malam, ada manis ada pahit begitu juga dengan hidup, ada susah dan tentu ada senang. Kita dan manusia lainnya mempunyai cara yang berbeda dalam menyikapi dan bereaksi terhadap kejadian buruk yang menimpa. Semangat untuk bangkit dari keterpurukan dan kekecewaan biasanya muncul pada saat kita melepaskan diri dari ketergantungan terhadap sesuatu atau pekerjaan yang didapatkannya, senyum akan terus mengembang meski kehidupan ini terkadang mesti dilalui dengan penderitaan.

Jadi teruslah berkarya dan beramal, dan jangan sekalipun kita bergantung pada amal perbuatan itu. hal yang terpenting disini adalah berikan yang terbaik dalam melakukan sesuatu. Setidaknya kita akan selalu sadar, bahwa kepuasan kita dalam bekerja adalah karena kita sudah membuat karya yang bermanfaat bagi orang banyak, dan bukan terletak pada hasil yang akan kita peroleh nantinya dari pekerjaan tersebut.


Semangat, berfikir positif, jangan pernah mengeluh, jangan berputus asa, dan tetaplah tersenyum. Lakukan apa yang bisa kita lakukan selama itu benar dan bermanfaat bagi orang lain.
Kata orang sunda mah “
Melak bonteng jadi bonteng, melak cabe jadi cabe (Nanam timun jadi timun, nanam cabe jadi cabe)- Menanam kebaikan hasilnya tentu kebaikan, menanam keburukan hasilnya tentu keburukan“.

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply