ISTIGHFAR : HATI JERNIH, REZEKI MENGALIR

“…maka aku (Nabi Nuh) berkata (kepada mereka) ‘mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun.”

(QS Nuh:10)

Ada segelas air jernih, kemudian air itu setiap hari diberikan setetes tinta hitam. Kira-kira apa yang terjadi jika itu terjadi selama 1 pekan atau 1 bulan bahkan 1 tahun? Pastinya air akan menjadi hitam dan tidak lagi bisa ditembus oleh cahaya. Lalu bagaimana caranya membuat air itu menjadi jernih? Apakah bisa kita menghilangkan tinta hitamnya? Ternyata bisa. Bagaimana caranya? Tuangkanlah air ke dalam gelas air yang bercampur tinta. Tuangkan sedikit demi sedikit, namun terus-menerus. Maka air itu semakin jernih saat air yang bercampur tinta keluar sedikit demi sedikit.

Anggaplah hati kita seperti gelas tadi, ketika hati setiap hari ternoda maka lama-kelamaan hati akan menghitam. Nah, kalo sudah hitam akan sangat sulit ditembus cahaya kebaikan. Istighfar itu seperti air jernih yang ditambahkan ke dalam gelas tadi. Semakin banyak dan lama kita mengucapkan istighfar, semakin jernih juga hati kita. Walaupun setiap hari kita menambahkan noda hitam itu, selalu isi hari kita dengan kalimat istighfar, agar kejernihan hati terjaga.

Selain kejernihan hati, istighfar juga memiliki manfaat lain. Dikisahkan dalam Tafsir al-Qurthubi, bahwa suatu hari ada orang yang mengadu kepada al-Hasan al-Bashri tentang lamanya paceklik, maka beliaupun berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”. Kemudian datang lagi orang yang mengadu tentang kemiskinan, beliaupun memberi solusi, “Beristighfarlah kepada Allah”. Terakhir ada yang meminta agar didoakan punya anak, al-Hasan menimpali, “Beristighfarlah kepada Allah”. Ar-Rabi’ bin Shabih yang kebetulan hadir di situ bertanya, “Kenapa engkau menyuruh mereka semua untuk beristighfar?”. Maka al-Hasan al-Bashri pun menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Namun sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh:

“…maka aku (Nabi Nuh) berkata (kepada mereka) ‘mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu, dan mengadakan sungai-sungai untukmu. Mengapa kamu tidak takut kepada Allah?” (QS.Nuh:10-13)

Rasulullah bersabda: “Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”  (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hakim serta Ahmad Syakir).

Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam beristighfar:

  1. Perhatikan redaksinya.

Ada beberapa redaksi istighfar yang dapat digunakan, bisa dengan redaksi paling singkat “Astaghfirullah”. Atau yang umum digunakan “Astaghfirullahul ‘azhim”. Bisa juga dengan redaksi panjang yan sering dikenal dengan sayyidul istighfar “Allahumma anta robbi la ilaha illa anta khalaqtani wa ana abduaka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’udzubika min syarri ma shona’tu, abu’u laka bini’matika ‘alayya, wa abu’u bi dzanbi, faghfirli fa innahu la yaghfirudz dzunuba illa anta.”

  1. Tidak membatasi jumlah

Rasulullah beristighfar tak pernah kurang dari 1000 kali. Ucapkanlah saja sebanyak-banyaknya, tidak ada ruginya kita melakukan itu, justru hati semakin jernih.

  1. Menghayati maknanya dan memenuhi konsekuensinya

Hendaknya saat kita beristighfar, memaknai dengan baik apa yang kita ucapkan itu serta menghindarkan diri dari maksiat.

Al-Hasan al-Bashri berkata, sebagaimana dinukil al-Qurthubi dalam Tafsirnya, “Istighfar kami membutuhkan untuk diistighfari kembali”. Maka mari kita perbanyak istighfar, perbaiki istighfar kita serta tunggulah buahnya. Jika buahnya belum terlihat juga, perbanyaklah terus istighfar dan jangan pernah berputus asa! Di dalam setiap kesempatan, kapan dan di manapun memungkinkan; di waktu-waktu kosong saat berada. Wallahu’alam.

Tags:

Leave a Reply