ISI HATI ANAK DENGAN HATI-HATI

Seorang anak biasanya sangat kritis. Semua hal dikomentari. Tanpa rasa segan dan gengsi. Kadang malah membuat kita jengah dan malu.

Misalnya ketika kita dan anak balita gak sengaja bertemu dengan seorang perempuan bermake up tebal. Tiba-tiba si anak berteriak di dekat perempuan itu: “Ma! Ada ondel-ondel!” sambil menunjuk perempuan tersebut.

Si perempuan dan beberapa orang sekitar langsung melihat ke arah anak dan kita. Wajah perempuan itu terlihat kesal. Sementara orang lain menahan tawa. Kita pun terjebak dalam suasana gak enak. Mungkin kita segera minta maaf kepada si perempuan dan menyeret sang anak meninggalkan tempat itu.

Atau ketika si anak SD melihat perempuan berjilbab dengan baju ketat. Dia bilang: “Pake jilbab kok ketat sih? Nenennya masih keliatan tuh. Gak malu apa?”. Walaupun gak terlalu keras tapi karena berdekatan, perempuan itu mendengar. Dia segera melirik jutek ke arah anak dan kita. Kita jadi salah tingkah.

Kok bisa ya?

Mungkin kita pernah berkata kepada teman atau pasangan di depan anak balita: “Eh, lihat cewek itu. Pengen cakep, malah kayak ondel-ondel”.

Atau berbicara langsung kepada anak SD kita bahwa perempuan itu diwajibkan untuk menggunakan jilbab agar aurat gak terlihat. Gak boleh ketat, karena akan tetap terlihat auratnya. Kan malu kalau aurat terlihat. Dan kita katakan juga payudara adalah salah satu aurat itu. Tentu saja maksud kita baik supaya anak mengerti kenapa perempuan diharuskan berjilbab.

Kita kadang lupa bahwa anak hanya akan bereaksi atas suatu peristiwa berdasarkan apa yang dia lihat dengar, dan rasakan. Terutama dari orang yang sering bersama. Siapa lagi kalau bukan kita, ibu dan bapaknya. Atau… jangan-jangan pengasuhnya? 😊

Kita sering tanpa sadar menanamkan hal yang belum dimengerti dengan benar oleh anak. Belum tentu anak kita mengerti, apa itu ondel-ondel. Belum ngerti juga kalau bilang seseorang itu ondel-ondel artinya tidak sopan. Walaupun mungkin betul orang itu seperti ondel-ondel menurut pandangan kita 😆.

Mungkin kita juga lupa untuk lebih sering bercerita kepada anak tentang etika ketika bertemu dengan orang yang menurut kita aneh atau salah. Jadi dia merasa baik-baik saja ketika melakukan hal yang tak menyenangkan di depan orangnya.

Tau gak? Sebetulnya ini masalah HATI. 

Emmm… maksudnya?

Ya. Hati anak masih banyak kosongnya. Belum banyak terisi. Jadi sebetulnya lebih mudah menanamkan sesuatu di hati anak daripada kita, orang dewasa. Saking mudah, hal yang sekali dia lihat, dengar, dan rasakan bisa langsung masuk ke dalam hati. Apalagi yang berulang.

Terus apa hubungannya dengan tingkah laku anak?

Ternyata yang menentukan tingkah laku atau perilaku adalah isi hati. Bukan hanya anak tetapi tetapi perilaku kita juga.

Jadi kalau ingin anak kita berperilaku yang baik. Isilah hatinya dengan kebaikan. Kasih tau dan perlihatkan hanya hal yang baik-baik saja.

Kalau ingin anak kita jauh dari gadget misalnya. Beri contoh kalau kita juga tidak banyak dekat dengan gadget. 

Masih belum tuned?

Kita pasti sudah tau ya kalau marah itu tidak baik. Bahkan Allah tidak menyukainya. Tapi kenapa kita masih suka marah? Karena hati kita belum terisi oleh keyakinan bahwa marah itu tidak baik.

🌷🌷🌷🌷🌷

Tulisan ini sangat terinspirasi oleh Teh Kathy Saelan-Ekopurnomo dan Noninya yang lucu serta Kang Asep. Nuhun pisan 🙏🙏.

#selfreminder

#isihatimenentukanperilaku

#perilakuanak

#tafakur

#enlightenedheart

Rate this article!

Leave a Reply