Ini KItabku

Tak bisa terbantahkan dengan apapun bahwa pedoman hidup umat manusia adalah Al Qur’an, sebagai petunjuk hidup manusia untuk mengumpulkan bekal nanti ketika bertemu dengan Penciptanya. Al-Qur’an tak ada keraguan di dalamnya, wahyu Allah SWT kepada Rasulullah SAW untuk kita umat akhir zaman. Sangat malu dan benar-benar memalukan ketika kita ditanya apa agama kita, lantas dengan sangat percaya dirinya kita menjawab Islam, saya Muslim taat, saya Muslimah taat dari keluarga beragama, sampai menceritakan silsilah keluarga yang bergelut dalam organisasi keagamaan tetapi ketika kita diminta untuk membaca Al-Qur’an, Wah! Dengan seribu alasan mengatakan bahwa saya tak sempat belajar membaca Al-Qur’an atau dulu ketika saya masih sekolah dasar sempat di TPA belajar ngaji tapi sudah lama jadi banyak lupa. Miris…!

Emmm… Bagaimana dengan anak-anak kita, apakah kita pernah memberitahu mereka bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan kepada Rasulullah SAW dan sebagai pedoman hidup umat manusia. Coba tanya pada diri kita apakah kita sudah mengajarkan anak kita untuk belajar membaca dan menulis Al Qur’an ? Masih ada juga yang berpendapat begini,” biar nanti anakku masuk TPA aja biar bisa baca Al Qur’an nanti bisa ngajari orang tuanya”. Walah! Dimana letak keteladanan kita sebagai orang tua, anak itu biasanya meniru apa yang dilihatnya dalam kesehariannya, orang tua adalah yang paling dekat dengan mereka.

Di sekolah sendiri, guru adalah orang tua kedua yang akan selalu menjadi panutan buat mereka di sekolah yang akan menjadi teladan bagi mereka. Disini peran guru sangat besar, dari ketika mereka datang sampai mereka pulang. Pengenalan Al Qur’an pun tidak bisa disamakan untuk setiap anak, untuk anak pra sekolah dan kelompok bermain biasanya mereka cukup dikenalkan dengan huruf-huruf hijaiyah dengan warna warni yang menarik disertai ukuran huruf yang besar. Lain lagi dengan anak sekolah dasar, mereka sudah bisa kita kenalkan dengan bentuk huruf yang lebih kecil dan sudah masuk kepada belajar membacanya.

Setiap hari murid-muridku telah tahu jadwal rutin mereka sebelum kita memulai kegiatan pagi hari yaitu Dhuha, membaca Al-Qur’an serta murojaah hafalan mereka, karena murid-murid ku sekolah dasar dengan usia 8-11 tahun, mereka sudah bisa mandiri melakukan aktivitas tersebut. Biasanya mereka akan mengantri untuk meminta kitaa menyimak bacaan dan hafalan Al Qur’an mereka. Sebenarnya, awal sekali mereka belum terpola seperti ini, masih harus dipanggil, masih harus selallu di ingatkan, karena kita melakukan nya selalu bersama-sama dari awal Dhuha, tilawah dan murojaah, akhirnya mereka mulai terbiasa dan akan meminta sendiri, selain untuk kakak besar itu sudah menjadi kesadaran buat mereka betapa pentingnya kita mempelajari Al Qur’an.

Jangan dikira semua itu instan terjadi, butuh proses panjang dan menguras emosi (berlebihan saya…), tidak sampai begitu hanya kita perlu mencontohkan dan mendului apa yang akan menjadi rutinitas tersebut. Dhuha, kita harus melakukannya terlebih dahulu baru kita mengingatkan kepada mereka. Semua hal baik itu harus dilakukan berulang kali untuk dapat diikuti oleh anak-anak. Selain itu, aku biasanya bercerita dan berdiskusi tentang hal itu, apa sih manfaat Dhuha buat kita, apa manfaat baca Al Qur’an dan untuk apa menghafal Al Qur’an. Dan satu lagi kuncinya, orang tua di rumah yang selalu akan bersentuhan dengan mereka, setiap hari bersama mereka. Orang tua pun sebaiknya memberikan contoh agar anak-anak menjadi cinta Al Qur’an karena semua yang ada di sekelilingnya cinta Al Qur’an.

“Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kalian sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kalian tidak memahaminya” Q.S. Al Anbiyaa’ : 10

Rate this article!
Ini KItabku,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply