I’m Writing Therefore I am

“..kalau kamu bukan anak raja, bukan pula anak ulama besar, jadilah penulis!”

_Imam Al Ghazaly

Kenalkan, saya Yusup Sobirin, bukan anak raja, bukan anak ulama besar, juga ulama kecil. Dalam buku-buku yang akan kalian miliki, saya akan gunakan MahaYusru, Abah Al Rasikh, atau nama lain yang ditentukan kemudian. Kalian perlu berterima kasih kepada para founder KMO sehingga tak perlu menunggu momen saya tak punya cukup waktu menyapa satu satu penggemar selepas memberi sambutan pada penganugerahan SEA Writing Award, dan Nobel Sastra.

Banyak orang menjalani hidup tanpa menyiapkan basis kokoh yang akan menentukan kualitas dan durasi segala peristiwa yang berlangsung dalam hidup mereka. Dari deret what, why, where, when, dan how, mereka lebih banyak langsung nyemplung di how, when, dan where. Mereka abai pada why, bahkan tak sedikit yang tak menyentuh what sekalipun. Padahal why adalah ruh dari segala kejadian di muka bumi. Mengutip Nietsczhe, melalui Viktor Frankl, dia mengatakan: “he who has why he lifes for, can bear almost any how”.

Jauh sebelumnya, Nabi Muhammad SAW sudah berwasiat, Innamal a’maalu bin niyyaat. Innama dalam gramatika bahasa Arab, berfungsi sebagai pembatas (tufidul hashr): hanya. Apa yang membuat seseorang datang, itu pula yang akan membuatnya pergi. Jangan salahkan kekasihmu yang minggat mengejar seseorang yang lebih cantik, lebih tampan, lebih mapan, dan lebih baik darimu, karena dahulu yang kau tawarkan untuk bisa mengunduh cintanya adalah keindahan paras, kemolekan tubuh, dan ketebalan dompet.

Dalam konteks ilmu Ushul Fiqh, ada kaidah yang beririsan dengan hal ini: al hukmu yaduru ma’al illah, wujuudan wa adaman.

This is my-what. Menulis bagi saya adalah meniru Tuhan. Arti umum dari lema bahasa Arab kataba adalah menulis. Tengoklah dalam Qur’an, berapa kali kataba dan derivatnya digunakan? Untuk menyebut beberapa di antaranya adalah kewajiban sholat (4: 103), qishas (2: 178), shaum (2: 183), dan qital (2: 216). Bahkan Allah menyebut kataba rabbukum ala nafsihi ar rahmah (6: 54). Dan bukankah al Quran adalah kitab, catatan takdir adalah kitab? Maktoob, begitu Paulo Coelho menggunakannya dalam The Alchemist.

Menulis bagi saya adalah mengikat transendensi. Ketika kata-kata verbal diringkus bunyi dan langgam, huruf dan aksara tetap tak tergoyahkan. Ketika kata-kata verbal menikam momen-momen diam, aksara memberinya suaka. “Ketika diam berkuasa, ia memonopoli tafsir dan makna,” Demikian kata Goenawan Mohammad. Tengoklah kembali al Quran, setelah lebih dari enam ribu ayat, Allah ‘masih’ memberi ruang untuk Alif Laam Mim, Kaaf Ha Yaa Ain Shaad, dan huruf muqhothoah lainnya. Semasa hidupnya, Rasulullah melarang penulisan apapun darinya kecuali al Quran (laa taktubuu ‘anni ghairal Quraan). Dalam terminologi sebagian ahli hadits, dhabit kitabi lebih unggul daripada dhobit shodry.

Mengapa saya menulis? Menulis bisa menjadi media, atau tujuan, atau media dan tujuan sekaligus. Media-kah menulis bagi saya, ataukah tujuan? Saya teringat nasehat seorang guru, “ketika melangkah, tak usah pikir bahwa langkahmu aakan membawamu ke tujuan. Tapi, saat kau melangkah, kau telah tiba di tujuan. Keep walking.”

Mengapa saya menulis? Karena saya punya banyak kebaikan untuk dibagi, dan sesekali dihinggapi hal buruk untuk diambil ibrah.

Mengapa saya menulis? Karena ada ruang kosong yang tak tersentuh Dostoyevski, Chekov, Tolstoy, Mahfouzh, Hemingway, Pamuk, Nerruda, Marquez, Seno Gumira, Emha Ainun, Dewi Dee Lestari, hingga Tendi Murti, Rina Maruti, dan Nia Hasnia.

Mengapa saya menulis? Karena saya ingin mengalami surat 96: 4, juga surat 68: 1.

Mengapa saya menulis? Karena Nobel Prize butuh pemenang dari Indonesia.
Mengapa saya menulis? Karena saya Yusup Sobirin, MahaYusru, Abah Al Rasikh, atau nama lain yang akan ditentukan kemudian.

Mengapa saya menulis? Karena ada tugas dari Coach Tendi Murti.

Cianjur, 16 Desember 2016

(YUSUP SOBIRIN/MahaYusru)

KMO 08A-10

PJ Ibu Rumiah

Rate this article!
Tags:
author

Author: