Ibu, Anakmu Menduplikasi dirimu

Pernahkah terfikir bahwa anak perempuan kita itu menduplikasi (meniru) dirimu wahai ibu? Segala tindak-tandukmu, ucapanmu dan keputusanmu? Contoh yang termudah adalah saat anak perempuan kita menirukanmu memakai sandal highheel (berhak) milikmu. Lucu kita melihatnya, tapi itulah kenyataannya. Bagaimana mereka mengamati sang ibu sebagai contoh figurnya dalam keseharian mereka terdekat. Sebelum mereka mengambil yang lain sebagai idolanya.

Sebetulnya, perilaku meniru pada anak sudah berlangsung sejak dini. Bukti paling nyata ialah anak bisa berbicara. Kalau ia tak pernah meniru kata-kata yang diucapkan orang tua, tentunya ia tak akan bisa bicara. Sampai usia besar pun anak masih tetap meniru, meski kadarnya tak terlalu banyak dan semakin berkurang. Hanya memang perilaku ini umumnya lebih tampak di usia sekitar 2-3 tahun, bagaimana anak selalu mencoba apa yang dilakukan orang-orang di lingkungan terdekatnya.

Sungguh indah andaikata seorang ibu adalah pribadi yang slelu berbuat baik kepada kedua orangtuanya dengan berdo’a untuk mereka dan memohon ampunan kepada Allah bagi keduanya, selalu menanyakan keadaannya dan tenang berada bersama keduanya, selalu memenuhi kebutuhan keduanya dan memperbanyak berdo’a dengan ungkapan: Robbigh firli waliwali dayya.

Demikian pula anak perempuan yang melihat ibunya selalu berhijab dan menutup diri dari laki-laki lain, dia telah dihiasi dengan rasa malu dan sikap menjaga kehormatan, kesucian dirinya telah menjadikan dirinya mulia. Jika ibunya demikian niscaya anaknya juga akan belajar menanamkan rasa malu, menjaga kehormatan dan kesucian dari ibunya. Sedangkan anak perempuan yang melihat ibunya selalu berhias diri di depan setiap laki-laki, bersalaman, dan bercampur baur, tertawa dan tersenyum dengan laki-laki lain bahkan berdansa dengan mereka, maka anaknya pun akan belajar yang demikian itu darinya.

Dan yang lebih penting lagi adalah saat anak perempuan kita menduplikasi ibunya saat menjadi istri dan ibu dalam rumah tangganya. Secara tidak sadar sesungguhnya, apa yang telah ibunya lakukan alam bawah sadar mereka melakukan. Baik keburukan maupun kebaikan. Alangkah indahnya, bila yang dilihat itu adalah kebaikan dari seorang wanita sholeh yang menjadi istri dari ayahnya dan seorang ibu untuknya.

Itu mengapa penting sekali menjadi sholihah sebagai pilihan hidup seorang wanita. Karena itu menjadi kebaikan tidak hanya untuk dirinya yang berhadiah surga, namun juga bagi anak-anak perempuannya kelak. Atau contoh kebaikan anak-anak laki-lakinya kelak mempunya seorang istri. Bukan tidak mungkin mereka akan memilih dan mencari seorang istri yang memiliki sifat sholihah dari ibunya.

Wahai ibu, Wahai para orang tua yang mulia, ketahuilah. Kesholihan kita dan amal-amal baik yang kita lakukan, sesungguhnya memiliki dampak (pengaruh) yang sangat besar bagi kebaikan dan kesholihan anak-anak kita. Bahkan kesholihan kita juga memberikan manfaat yang sangat besar bagi mereka di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, amal-amal jelek kita dan kemaksiatan (dosa-dosa besar) yang kita lakukan akan berpengaruh jelek pula terhadap pendidikan anak-anak kita. Yuk menjadi ibu yang sholihah untuk anak-anak kita!

Rate this article!
Tags:
author

Author: