Hei Pengecut!!! Ambil Kesempatan Atau Lepaskan (1)

Dalam kehidupan sering kita temukan sosok laki – laki pengecut.  Eits jangan marah dulu, mungkin saya juga termasuk di dalamnya. Nah seberapa pengecutkah laki – laki yang mengajak seorang wanita berpacaran dengan seorang laki – laki yang tidak mengambil keputusan terhadap seorang wanita yang telah menggantungkan harapan kepadanya? Semua orang pasti mempunyai jawaban masing – masing.

Untuk sementara kita lepas laki – laki yang maunya cuma pacaran, ya otomatis pengecutlah. Pengecut yang gak berani duel satu lawan satu sama orang tua pujaan hatinya, duel dalam hal menemui orang tua pacarnya dan berbicara  untuk melamar sekaligus menikahinya. Pengecut yang cuma mau pegang tangan, peluk, cium dan seterusnya. Setelah puas dan terjadi sesuatu hal hilang bak ditelan bumi atau kalau sudah bosen dan ada yang lebih menarik diputusin. Masih yakin kalau pacaran itu menjanjikan? Ya kalau gak menjanjikan kesedihan, sisip dikit menjanjikan maksiat yang berujung pada dosa. Masih yakin bahwa kamu adalah segalanya? Ya segalanya bisa diapa – apainlah. Sudah jelas kan kalau laki – laki pemberani itu mengajak menikah dan cuma laki – laki pengecut yang mengajak pacaran.

Lantas apa yang bisa diharapkan dari seorang laki – laki yang tidak bisa  mengambil sebuah keputusan penting dalam hidupnya. Keputusan demi masa depannya dan juga seseorang yang mengharapkannya.  Lelaki yang di dalam dirinya dipenuhi dengan keraguan untuk melangkah ke depan. Tidak bisa bilang iya apalagi tidak, untuk semua kesempatan yang bukan cuma sekali menghampirinya. Semuanya menggantung dan pada akhirnya, laki – laki ini hanya mendapatkan kegagalan dan menimbulkan kesedihan pada seorang wanita atau malah sebaliknya menimbulkan kesedihan pada diri laki – laki itu dan kebahagian bersama orang lain untuk wanita tersebut.

Sebaik – baiknya pengharapan hanya kepada Allah tetapi jika dalam hal ini, hubungan yang ingin dibentuk merupakan hubungan yang serius  menuju ke arah pernikahan, salahkan wanita ini menaruh harapan kepada laki – laki tersebut?  Atau salahkah laki – laki ini yang tidak bisa mengambil sebuah keputusan?

 

author

Author: 

Leave a Reply