Hari Selasa

Hari ini, saya kembali ke kantor setelah cuti lebih dari seminggu. Tentu, hari Selasa rasa Senin ini diisi dengan beragam hal yang berpusing cepat, minta dikejar: surel yang harus dibalas, staf baru yang harus diajak keliling, persiapan presentasi untuk rapat tahunan, diskusi untuk menentukan keputusan apakah mau pakai panel tenaga surya atau genset untuk menyedot air yang akan disaring dengan mesin desalinasi (iya, ini jenis diskusi sehari-hari). Pun, masih ada waktu untuk bingung mau makan siang apa dimana, minum teh gulanya dua sendok atau satu saja, dan siapa mau bonceng siapa.

Di penghujung jam kantor, saya cek surel kembali: Eh, alhamdulillah, permohonan pengembalian uang pembelian tiket telah diproses oleh maskapai pilihan saya. Padahal, permohonan itu baru saya masukkan kemarin malam. Menggerakkan tetikus untuk membuka surel baru, eh ada kerjaan lepas baru untuk meninjau jurnal-jurnal psikologi baru berbahasa Inggris. Alhamdulillah, dapat kesempatan belajar bahasa Inggris akademis lagi.

Penutup hari ini adalah, seperti biasa, les bahasa Spanyol yang ternyata enggak semudah yang diinginkan. Setelah ketuker-tuker terus antara la secadora dan la lavadora di bagian alat-alat rumah tangga, akhirnya saya bisa lolos dan masuk ke bagian baru: Waktu. La tiempo.

Berbicara tentang waktu, rasanya, baru saja saya geragapan bangun dan mematikan weker. Lirik jam, eh sudah jam 18:23. Semakin mengamini bahwa waktu bergulir begitu cepat ketika diisi dengan beragam kegiatan. Dan di antara waktu itu, kita beranjak untuk berkembang. Jadi lebih atau malah kurang.

Bertumpuknya kegiatan memang menyenangkan dan menggairahkan, tapi tidak saya pungkiri bahwa saya hanya menjalani, bukan mengalami. Setiap dari kita menjalani apa yang ada di depan mata kita pada hari ini, tapi tidak semua mengalami dan memaknai apa perjalanan yang baru saja dilalui.

Sambil kembali melirik jam, saya menekuri lagi tulisan yang sedang saya buat ini. Mengingat kembali masa-masa dimana saya tidak pernah ragu, takut, apalagi mencari alasan, untuk menulis. Saat ketika menulis adalah sama dengan mengguratkan apa yang telah terjadi, pelajaran yang saya dapatkan hari ini, ataupun mimpi-mimpi. Dan dalam menulis itulah, saya merasa ada. Saya merasa tidak sekedar menjalani, tapi juga mengalami.

Saya pikir, saya ingin kembali mengalami. Memaknai kenapa saya memilih untuk belajar bahasa Spanyol, dan bukan bahasa Itali; kenapa saya mengambil keputusan untuk menggabungkan dua jenis mesin untuk menyedot air laut; pedihnya mata ini ketika menekuri teks panjang berbahasa Inggris berukuran 10 dengan spasi tunggal antar paragraf.

Saya pikir, saya tidak ingin kembali melewatkan apa yang telah saya alami.

Saya pikir, saya harus kembali memulai menulis.

Lagi.

Rate this article!
Hari Selasa,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply